
Qiram menjalani kehidupannya dengan diet dan olahraga keras yang dibantu oleh Jecky, Dokter Aini Farha juga menjelaskan tentang kesehatan dan gizi makanan, hampir setiap hari mereka berkomunikasi di telepon.
Begitu pula Hafisa, ia memesankan pakaian karet dengan korset perut secara online untuk Qiram. ia selalu mengingatkan dan menyemangati Qiram. Pria itu memakai dan menurutinya.
Minggu kedua ini, Qiram pun mulai bertimbang, berat badannya berhasil turun dengan berat 18 kg, sehingga kini berat badannya 108 kg.
“Selamat Tuan, Anda memiliki 3 jurus baru, Anda berhak memiliki 45 juta rupiah dengan harga setiap jurusnya 15 juta dan 5 juta untuk tubuh kuat terbaru Anda.”
‘Saldo Anda Rp. 481.526.000,00.’
‘Wow!’ Qiram bersorak dalam hati. Dalam seminggu ini, selama dia diet dan olahraga, dia mendapatkan uang 50 juta. Ia sangat senang.
“Guru, bagaimana kalau kita keluar sekarang? Aku sudah 2 minggu tak keluar.” ajak Qiram.
“Baiklah.” sahut Jecky. Lalu, menoleh pada Hafisa. “Nona Hafisa, bisakah saya meminta tolong menjaga Pangeran?”
“Ya, Tuan Jecky, saya akan mengasuh Pangeran bersama Gippong.” jawab Hafisa.
“Terimakasih Hafisa. Kau memang bisa diandalkan.” puji Qiram. “Oh, ya, nanti kau mau apa? Biar aku cari dan belikan.” tanya Qiram.
“Aku mau rujak cinggur.” jawab Hafisa.
“Baiklah, aku akan membelikannya.” Qiram tersenyum pada Hafisa. Kemudian menoleh pada Jecky. “Guru, tolong ingatkan aku nanti ya, masalah rujak cinggur kiriman Hafisa.” pintanya, Jecky mengangguk.
~~
Mereka berdua telah sampai di taman raya kota. Banyak muda-mudi berpasangan yang duduk santai sambil makan cemilan, ada yang berkelompok, dan ada yang sibuk bermain hp.
Qiram memilih berlari kecil mengitari taman, menghirup udara bebas. Setelah berlari kurang lebih 30 menit, ia dan Jecky memilih pergi ke Top Mall.
Setelah sampai di Top Mall, mereka menekan tombol lift ke lantai paling atas, di lantai ini hanya ada tempat bermain, bioskop, dan kolam berenang.
__ADS_1
Qiram telah membuka bajunya dan memakai celana renang, Jekcy pun sama.
Qiram menoleh pada Jecky. “Guru, kau yakin akan mengajariku berenang?” tanyanya, matanya menerawang melihat ke sekeliling. Walaupun kolam berenang ini besar dan panjang, tetapi pengunjungnya ramai.
“Tidak usah malu, mereka dulu juga pasti belajar berenang, sebelum mereka bisa. Terlebih, berenang adalah salah satu olahraga yang paling sempurna untuk membentuk tubuh bagus, semua tubuh bergerak dan menjaga keseimbangan.” jelas Jecky.
Kolam ini khusus pria, Jecky mulai masuk ke dalam air yang diikuti Qiram.
“Nah, perhatikan Tuan Muda. Pertama tangannya begini, lalu begini.”
Cupluk! Terdengar gerakan kecil yang diperagakan Jecky tentang mengapung, lalu perlahan mengajarkan meluncur di dalam air, cara menahan dan mengambil nafas. Lalu gerakan utama saat tangan dan kaki mengayuh bersamaan agar bisa berenang.
Setelah menjelaskan dan mempraktekan, Qiram diminta mencoba sendiri dengan bagian badannya dipegang oleh Jecky untuk pemula agar ia mengambang di atas permukaan kolam.
Cupluk! Cupluk! Cupluk! Bukannya mengambang, Qiram malah membuat kakinya mengebak-ngepak kuat air kolam sehingga menimbulkan suara berisik, bahkan airnya muncrat sana sini. Lalu, ia terbenam.
“Baiklah, ayo, Tuan Muda pegang dulu di tepi keramik ini.” Jecky berdiri di tepi kolam. Nah, ayo, kayuhkan kakinya pelan, hm lagi.” ucap Jecky sambil memperhatikan setiap gerakan Qiram.
“Sekarang celamkan kepalanya, lalu lepaskan perlahan dan berenang kemari.” Jecky berdiri dengan jarak 1,5 meter dari Qiram.
Beberapa kali latihan, tak terasa mereka di sana sudah berjam-jam, kulit Qiram bahkan sudah terlihat pucat, namun ia sedang bersemangat-semangatnya karena baru menguasai teknik baru dalam berenang.
Saat mereka hendak selesai, Qiram melihat seseorang yang sangat ia kagumi di kehidupannya yang lalu, ia adalah Roki Albusro. Seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya. Ia menyumbang dibeberapa panti asuhan bahkan memberikan makanan dan uang untuk anak jalanan. Pada saat itu, Qiram menjadi salah satu anak jalanan yang malang sudah dua hari tidak makan. Jadi ... kenangan itu sangat berbekas untuknya.
Qiram menghampiri Roki.
“Sore Tuan. Salam kenal, aku Qiram.” Qiram mengulurkan tangannya.
Roki menatap sinis. “Aku tidak kenal!” jawabnya ketus, lalu berlalu pergi. Qiram menatap tangannya yang masih terulur, tetapi diabaikan.
“Sombong sekali dia, Tuan Muda kenal orang itu?” tanya Jecky menghampiri.
__ADS_1
“Hm, tidak terlalu kenal, tetapi aku ingin kenalan dengannya. Dia pengusaha muda yang sukses, aku ingin menjadi sosok seperti dia.” jawab Qiram.
“Orang sombong seperti itu tidak akan lama bertahan, apalagi menjadi orang sukses.” ucap Jecky menatap tajam punggung Roki yang telah mulai pergi menjauh.
“Hm, aku yakin dia akan menjadi sukses.” balas Qiram.
“Aku tidak. Aku hanya akan mengakui satu Tuan, yaitu Tuan Muda, Tuan yang akan menjadi kaya raya.” tegas Jecky.
“Huh, Guru!” dengus Qiram dengan tersenyum, kemudian segera pergi menuju ke kamar mandi yang tersedia.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Qiram membeli beberapa cemilan sehat untuk dirinya dan orang-orang yang ada dirumah, seperti Hafisa, Lil O dan Jecky. Lalu makanan kucing untuk Gippong dan susu untuk Pangeran. Setelahnya mereka mencari rujak cingur.
Saat berbelanja di kedai rujak. Ia bersirobok dengan Soleman and the gank.
“Bos! Itu mereka yang menghajar kami saat itu!” tunjuk pria ceking yang waktu itu di hajar Qiram.
“Mereka bawahan Soleman?!” gumam Qiram, tangannya kembali gemetar dan berkeringat dingin.
“Tuan Muda.” Jecky memegang tangan Qiram. “Ingat, Tuan Muda harus berani, kau sudah latihan beberapa gerakan dan juga olahraga. Tolong jangan takut, fokus untuk mempertahankan diri.” bisik Jecky.
Rujak sedang diracik oleh sipenjual. “Mbak, tolong bungkus dulu, ya. Ini uangnya. Kami ada keperluan dulu.” ujar Jecky.
“Oh, rupanya kau sudah ingin menjadi jagoan Badak bengkak?” ucap Soleman menatap Qiram. “Ahahahah! Karena kau sedikit turun berat badan, kau kira aku gentar?” Ia berikan tatapan menghina.
“Hajar mereka berdua!” perintahnya pada bawahannya.
Lima orang bawahan Soleman memiliki otot yang besar, mereka mengepung Qiram dan Jecky. “Tuan Muda, ingat yang saya ajarkan!” ucap Jecky lalu ia melompat memberi jarak, sehingga mereka terbagi.
Dua orang melawan Qiram, tiga orang melawan Jecky.
Qiram bersiap dengan kuda-kudanya, lalu mengeluarkan jurus pukulan angin yang diajarkan Jecky beberapa hari lalu setelah ia latihan samsak dan wooden dummy. Ia melayangkan pukulan ke area perut dan dagu, lalu mengelak saat bawahan Soleman memberikan ia pukulan.
__ADS_1
Brugh! “Awch!” Qiram terhenyak karena kakinya di sandung.
“Hajar kakinya, itu kelemahan dia!” ucap pria yang menyandung Qiram tadi pada temannya. Ya, benar saja, Qiram yang belum latihan gerakan menendang pun sering mendapatkan tendangan dan pukulan oleh dua orang bawahan Soleman itu.