
Sepulangnya dari rumah Qiram, Aini Farha kembali ke klinik, mengerjakan aktivitasnya, sampai waktunya pulang bekerja.
Di rumah, ia menatap darah yang ia letakkan di kulkas mini untuk mengatur suhu agar darah itu tetap baik. “Apa aku lancang jika mencurigai dia?” Aini tampak berpikir keras.
Dari awal, kecerobohan Qiram yang membawa Gippong ke Aini, sehingga memperlihatkan sosok Gippong yang berubah bentuk dari kucing ke manusia. Dia semakin penasaran, apalagi perkataan Qiram yang sering terdengar aneh, saat ia berkata, ‘ Mungkin saja Dokter telah membantuku dikehidupan sebelumnya, jadi sekarang aku membalas budi.’
Aini merasa perkataan itu sangat aneh, sikapnya juga aneh, apalagi Qiram termasuk orang yang memiliki banyak uang, tetapi tidak banyak dikenal orang. Berbeda sekali dengan mantan kekasihnya yang sombong dan suka pamer harta padanya.
Aini pun bangkit dari duduk, mulai mengambil alat-alat penting. Tensimeter digital, GCU, Lard Lcd, Oximeter, dan lainnya. Dia mengeluarkan setetes darah, memeriksanya, kemudian melihatnya dengan mikroskop, terdapat partikel-partikel kecil yang aneh di dalamnya. Seolah ada yang hidup di dalam darah itu.
“Hm, darah ini berbeda dari darah manusia lainnya dan juga berbeda dengan darah binatang lainnya,” gumam Aini.
Ya, karena penasaran, Aini memang mengambil beberapa darah manusia, hewan seperti sapi, kambing, kucing, ayam, dan ikan untuk sample. Dia memeriksa itu semua. Tetap darah hewan selayaknya darah hewan, berbeda dengan darah Gippong yang ia ambil diam-diam saat itu.
__ADS_1
Aini mencampur setetes darah itu dengan zat basa, darah itu berwarna gelap. Lalu dia memberikan zat asam, darah itu mengering seolah terbakar. “Hm?” Aini kembali meneteskan setetes darah, memberikan dua tetes air, darah itu normal layaknya semua darah terkena air.
Aini memasukkan sepotong kelopak bunga bougenville di darah itu, tak ada terjadi apa-apa, lalu memasukkan potongan sabun, sampo, bahkan odol, tak ada reaksi apa-apa. Hingga akhirnya, ia mencoba meneteskan darahnya sendiri.
Bzzzz! Aini terkejut, darah Gippong dan darahnya disatukan keluar percikan api, seolah ada kebel listrik yang konslet. “Hah? Hampir saja!” Aini menghela nafas, hampir saja ia membuat kamar kecilnya terbakar.
Aini kembali menyimpan sisa darah yang hanya tinggal seperempat tabung itu kembali ke dalam kulkas. Kemudian, dia memilih tidur.
***
“Kemana saja kau? Apa yang kau lakukan? Tak ada yang beres satu pun! Kau berkata akan membawakan beberapa gadis dan anak-anak untukku! Tetapi aku tak mendapatkan apapun! Apakah kau sedang menipuku?” Roki menyentuh dagu Soleman yang tertunduk dengan ujung sepatu hitamnya yang mengkilat.
“Maaf, Boss.”
__ADS_1
“Ck, aku tak butuh kata maaf, yang aku butuhkan para gadis dan anak-anak, aku tak mau tau, kau harus mendapatkan gadis-gadis dan anak-anak untukku!” Setelah berkata seperti itu, Roki menendang wajah Soleman. Membuat pria itu terjengkang ke belakang.
“Pergi! Aku tak mau mendengar alasan apapun, bawa mereka kemari!”
“Baik, Boss,” jawab Soleman patuh. Wajahnya terasa perih terkena tapak sepatu Roki.
Soleman keluar dari ruangan itu, membawa beberapa orang anak buah, menuju perumahan kumuh. Dia yakin, di sana pasti masih bisa memaksa wanita dan anak-anak untuk ikut dengannya.
“Boss, apa kau yakin kita bisa membawa mereka?” tanya bawahannya yang mulai ragu.
“Tentu saja!” jawab Soleman percaya diri.
“Tapi Boss- Ini terlihat sulit, tempat ini terawat, sepertinya mereka juga hidup dalam keadaan baik, apa kita tidak mencari ke tempat lain saja?”
__ADS_1
“Dasar pengecut! Apa yang kau takutkan, dari dulu, semua daerah ini kawasan kita, para polisi juga orang-orang kita! Walaupun tempat ini terawat, tak ada yang bisa melindungi mereka, Bodoh!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...