Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Putus


__ADS_3

“Tuan Muda, kau tidak apa-apa?” tanya Jecky khawatir. Ia memapah Qiram ke arah mobil.


“Aku baik-baik saja.” jawabnya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Qiram bersandar di kursi mobil, memakai sabuk pengaman, ia melamun setelah melihat jumlah uangnya yang banyak. ‘Kalau begini, ku benar-benar akan menjadi kaya raya!’ Tercetak senyuman dari bibirnya.


“Tuan Muda, apakah sangat sakit? Aku akan melajukan mobil ini dengan cepat agar sampai di klinik.” tutur Jecky.


“Bawa aku ke klinik tempat Dokter Aini Farha bekerja saja,” pinta Qiram.


“Hm, daerah mana itu, Tuan?” tanya Jecky.


Qiram pun menunjukkan alamat dan arah jalan ke klinik tempat Dokter Aini Farha bekerja.




Qiram dan Jecky telah sampai di klinik.



“Pria semuanya sama, ya. Jadi jagoan semua.” ucap Dokter Aini Farha.



“Tidak, aku tidak ingin jadi jagoan. Aku hanya melindungi diriku sendiri.” sahut Qiram. “auch! perih!” rintih Qiram saat Dokter Aini mebersihkan darah yang ada di ujung bibirnya, lalu menempelkan obat.



Sedangkan Jecky di rawat oleh perawat lain yang sama dengan ruangan Qiram berada.



“Ya, kau melindungi dirimu. Tetapi, setiap kau ke sini, pasti babak belur. Apakah dunia laki-laki selalu seperti ini, bertarung dan menggunakan otot?” kata Dokter itu tegas. “lain kali semoga kamu kemari tidak dalam keadaan babak belur lagi.” lanjutnya.



“Lain kali, jika aku kemari lagi, aku datang untuk mengajakmu makan bersama dan menolongmu.” sahut Qiram percaya diri.



“Ya, semoga saja-” jawab Dokter Aini Farha terpotong karena ada yang datang.



Seorang pria tampan dengan pakaian jas masuk menerobos ke dalam dengan tak sopannya.



“Sayang, kenapa kau tidak mengangkat telepon ku sejak tadi? Kau mengabaikan panggilanku demi pekerjaanmu yang tak penting ini. Dapat uang banyak juga tidak!” protes pria itu kesal.



Wajah Dokter Aini Farha tampak tak senang, pipinya sedikit memerah, mungkin malu dan tak enak hati pada pasien dan perawat lainnya yang ada dalam ruangan ini.


__ADS_1


“Kamu kok gak ngetuk pintu dulu sih?! hpku ada di dalam tasku, aku gak dengar, mungkin aku lupa merubah getar ke dering.” Ia menatap lelaki tampan itu.



“Mudah sekali kau menjawabnya lupa?! Aku ingin berbicara denganmu!” bentaknya.



“Yon, lanjutkan, ya!” pinta Dokter Aini Farha pada perawat. “Aku keluar dulu, ada keperluan mendadak.” izinnya pada Qiram dengan ramah.



“Ok, tidak masalah, Dok!” jawab Qiram.



“Ayo, kita bicara diluar!” Dokter Aini Farha menarik tangan pria tampan itu dengan kesal, benar-benar membuat ia malu, mempunyai pasangan kasar dan tidak sopan begini.



Qiram mencoba mengingat-ingat dengan mengelus dagunya “Bukankah pria itu ... ya, tidak salah lagi. Dia lah orangnya!!” gumam Qiram dalam hati. “Tak disangka, aku bertemu dengan pria itu sekarang!”



Di luar klinik, tepatnya dalam mobil Fortuner berwarna black milik pemuda tampan itu. “Aku kangen dan rindu sama kamu, kau selalu mengabaikan dan membuat alasan ini dan itu! Kenapa sih? Apa kau tidak menyukaiku lagi? Apa kau menyukai pria lain? Hah?!” tanya pria itu dengan membentaknya.



“Bukan, tak ada sedikitpun aku memiliki perasaan pada pria lain, bukan aku mencari-cari alasan. Akan tetapi, memang aku sibuk di klinik.” jawab Dokter Aini Farha membela diri.




“Aku tidak ingin status menjadi kekasih, jika kau bisa menjanjikan menikah, maka aku akan menemanimu seumur hidupku.” jawab Dokter Aini dengan ketus.



“Apa bedanya menikah dengan kekasih? Semuanya tetaplah sama?! Tak ada bedanya? Aku pastikan sama, uang, belanja, perhatian, semuanya sama.” balas pria tampan itu lagi.



“Kalau sama, kenapa kau tidak mengajakku menikah? Kenapa hanya sebatas hubungan kekasih dan tinggal bersama?” Wajah Dokter Aini Farha semakin sendu, berkali-kali mereka bertengkar hanya karena masalah ini.



“Itu sama-”



“Tapi bagiku tak sama!” potong Dokter Aini Farha cepat. “Aku tak bisa menerima prinsip seorang kekasih tinggal bersama sebelum melakukan hubungan pernikahan. Maaf, aku tak bisa.”



“Baiklah, kalau kamu tidak bisa. Kamu bisa 'kan temani aku setiap malam minggu atau hari minggu, hari libur. Aku butuh kamu, Sayang. Tolong mengertikan aku.” ucapnya memelas, mengelus pipi Dokter cantik itu mengalah.


__ADS_1


Hampir setiap saat mereka berdebat. Ia ingin Dokter Aini Farha bekerja di rumah sakit miliknya atau tinggal di apartemen miliknya. Aini Farha selalu menolak dengan alasan ia ingin mandiri tanpa bantuan kekasih.



Aini Farha menghela nafasnya, kekasihnya yang manja ini sangatlah egois. Ia suka memaksa, bahkan pernah mengajaknya bercinta, namun Dokter Aini Farha tidak mau. Pernah kekasihnya ini melontarkan perkataan yang sangat menyakiti, ‘*Kenapa kau selalu menolak? Apa kau tidak gadis lagi? Aku tahu, kebanyakan sekolah dokter dan perawat itu tidak gadis lagi*!’ Saat itu, Aini sangat marah mendengarnya, namun ia memilih sabar, meredamkan amarahnya. Mengingat mereka telah lama menjalin hubungan.



Pria tampan ini anak tunggal dari keluarga berada, ia sangatlah dimanja orangtuanya.



“Kita pacaran sejak kita kelas 3 SMP sampai hari ini, kalau di pikir-pikir, sudah 11 tahun, ya.” ucap Dokter Aini Farha keluar dari topik pembicaraan awal.



“Ya, itu kamu tahu!” jawabnya songong.



“Selama itu, aku selalu mencintai dan menyayangimu, percaya dan bersabar. Tapi, kali ini ... sepertinya aku tidak bisa sabar lagi. Kau tak pernah berubah, selalu saja egois dan tak pernah mencoba mengertikan aku.”



“Apa maksudmu berkata seperti itu?” tanyanya dengan alis berkerut.



“Kita putus! Aku sudah tak tahan lagi.”



“Apa? Enak saja?! Apa kau punya pria lain, hah?!” Dia memegang tangan Dokter Aini kuat. “Aku tidak akan melepaskanmu selamanya!” Ia menekan tubuh Dokter itu kuat.



“Lepaskan aku!” Ia mengantuk kan kepalanya pada kepala pria tampan itu dengan kuat, sehingga kepala mereka berdua terasa sama- sama kesakitan akibat beradu.



“Auch!” ringisnya.



Dokter Aini Farha bergegas mengambil kunci mobil dan membuka pintu, segera keluar.



“Tunggu!” Ia raih tangan Dokter itu, namun Aini tepiskan tangan pria tampan itu dengan kasar.



“Aku minta maaf. Maafkan aku, Sayang. Aku tak bisa putus denganmu. Aku sangat mencintaimu.” Memohon dengan wajah memelas, kembali memegang tangan Aini.



“Maaf, aku tidak bisa lagi.” tegas Dokter Aini Farha. Ia menepis tangan itu kuat dan bergegas masuk ke dalam klinik.

__ADS_1



“Aini Farha, kau akan menyesal karena telah memutuskan ku! Aku akan membuatmu memohon dan mengemis-ngemis padaku. Hanya padaku!” teriak pria tampan itu dengan kesal.


__ADS_2