
Sampailah mereka di Desa Petarung.
Lil O menatap sekeliling. “Sob, ini bukan tempat kumuh namanya, tapi perumahan. Gila bersih dan rapi gini!” ceplos Lil O.
“Iya, tapi awalnya kumuh,” jawab Qiram.
Kedatangan Qiram langsung disambut Rizki dan Nenek, lalu beberapa orang lainnya. Mereka disuguhkan hidangan, wajah mereka tampak berbinar-binar saat bertemu Qiram.
“Nak, kami sangat senang kau berkunjung kemari. Bahan bangunan yang kau kirimkan sudah mulai kami kerjakan, lubang besar itu sudah hampir selesai,” terang Nenek bangga menjelaskan kerja keras mereka semua.
“Syukurlah Nek, apa yang mengerjakan itu-- para Ibu-ibu?” tanya Qiram.
“Hehe, jangan cemas, mereka sudah mahir bekerja begini sejak dulu, Nak. Kami tidak mungkin selalu merepotkan kamu. Jadi, Bapak-Bapak mencari kerja di tempat lain, bukankah sebagian juga sudah kamu bawa untuk bekerja di tempat mu?” Nenek terkekeh kecil.
“Oh, begitu ya Nek. Baguslah, tapi apakah aman kalo para pria bekerja dan hanya tinggal wanita? Bagaimana jika para preman datang?” tanya Qiram khawatir.
“Tenang saja, Nak! Kemarin saja pria cacat tangan dan gengnya itu datang kemari, kami hajar bersama-sama! Tim kami sangat kuat Nak, tim ibu-ibu sapu, ibu-ibu pisau dapur, ibu-ibu panci, dan anak-anak ketapel,” jelas salah satu Ibu-ibu berkata dengan bangga.
“Wah, benarkah?”
“Iya, solo-sol-soelo-ah, Soleman nama ketuanya 'kan Bu ibu?” Dia bertanya meminta persetujuan ibu-ibu lain.
__ADS_1
“Ah, iya!” jawab mereka.
“Oh, jadi waktu itu dia terluka dan memar dari sini ya....” Tiba-tiba Lenggo menyahut.
“Iya Cah Ayu,” jawab Nenek, dia menyentuh kedua tangan Lenggo, tampak sekali bekas kekerasan di tubuh Lenggo. Kemudian Nenek menatap Qiram.
“Jadi-- Nak Qiram datang kemari ada keperluan? Maksudnya, ada sesuatu yang mau disampaikan?” tanya Nenek.
“Ah, iya itu Nek. Bisakah dia tinggal di sini? Dia baru saja diganggu oleh Soleman dan gangs, mungkin tidak akan aman jika dia kembali ke tempat tinggal lamanya.”
Nenek langsung memeluk Lenggo. “Sabar ya, Cah Ayu. Tinggallah di sini, kami semua akan menjagamu dengan baik, jangan bersedih dan takut lagi. Semua sudah berlalu dan akan ada hari esok yang lebih baik!” Nenek mengelus punggung Lenggo, hingga gadis itu menangis dalam pelukan nenek yang terasa damai dan nyaman.
“Makasih kalau begitu Nek,” ujar Qiram dan Lil O.
Setelahnya mereka berbincang, Lenggo tinggal di rumah besar tipe 45 bersama sang Nenek dan tiga bayi. Beberapa ibu-ibu mulai memberikan pakaian dan memamerkan kegiatan mereka, ada yang menjahit, membuat kue dan membuat karya seni untuk dijual.
Sedangkan Lil O dan Qiram berjalan beriringan dengan nenek menuju lubang besar yang tengah dibangun. Beberapa orang masih ada yang menyemen, memasang bata dan mengaduk semen dengan pasir.
“Tanah di depan gang utama sudah berhasil saya tawar Nek. Menunggu tanda tangan jual beli saja. Nanti, saya akan membawa arsitek, jadi yang lain bisa bekerja untuk menjadi buruh harian di sana, untuk tambah-tambah penghasilan. Semoga bangunan cepat berhasil, agar nanti para Ibu-ibu mendapatkan pencaharian untuk memenuhi kebutuhan.”
“Syukurlah. Nenek senang sekali mendengarnya, semoga rezeki mu selalu melimpah ruah Nak.”
__ADS_1
Setelah mereka berbincang-bincang tentang lobang besar yang dibangun menjadi ruangan bawah tanah dan tanah yang dibeli Qiram di gang utama Desa Petarung, mereka bertiga pun kembali.
“Lenggo, kami balik dulu, kamu aman di sini. Masalah pakaian dan kebutuhan, sementara pakai dulu milik Bu Ani. Nanti aku akan mengirim barang-barang yang kau perlukan!” terang Qiram. Lenggo mengangguk, dia sudah mulai berbaur dengan ibu-ibu.
***
Qiram dan Lil O pun pergi dari sana, langsung ke toko pakaian wanita, membeli beberapa pakaian wanita lengkap termasuk dalam*an, baju daster untuk ibu-ibu, pakaian anak-anak, handuk, selimut, serta perlengkapan make up.
Kemudian mereka pergi ke toko langganan Qiram.
“Selamat datang!” sambut sang pemilik toko.
“Pak, saya mau membeli beberapa barang, bisa antarkan ketempat yang biasa 'kan?” Qiram bertanya dengan tersenyum.
“Ah, tentu saja, mari.”
Qiram membeli sembako selengkapnya, dari beras, minyak, sabun, tepung, gula, kopi, teh, susu, sarden, dan lain-lainnya.
“Ah, iya, minta tolong titip ini juga, ya?” Qiram minta tolong pada sopir, meletakkan beberapa kantong pakaian yang sudah ia beli tadi di depan, di samping sopir.
“Kantong yang hitam ini, katakan untuk Lenggo, selebihnya, berikan saja pada nenek itu. Ini sedikit rezeki untukmu,” tutur Qiram tersenyum menyerahkan tiga lembar uang merah, membuat sang sopir tersenyum cerah, secerah mentari pagi.
__ADS_1
Karyawan pemilik toko sembako mengantarkan barang belanjaan Qiram memakai L300 sampai terlihat membumbung tinggi dan menggunung saking banyak dan lengkapnya di beli oleh Qiram untuk berbagi untuk penghuni Desa Petarung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...