Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Bayi Prematur


__ADS_3

Operasi telah selesai.


Hafisa masih belum sadar dan dalam pengaruh obat bius. Anaknya berada di dalam tabung inkubator bayi prematur. Anak yang baru memasuki 7 bulan dan mengalami kekurangan air ketuban karena pecah saat terjatuh, Dokter terpaksa harus mengeluarkan nya dengan cara operasi.


Qiram dan Lil O melihat bayi itu dari luar yang berdinding kaca, hanya ada dua bayi di sana. Satu bayi perempuan dan satunya bayi laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh Dokter dan suster yang mengantarkan mereka ke ruangan ini. Anak Hafisa seorang bayi laki-laki, sama seperti kehidupan Qiram masa lalu.


Hafisa memiliki seorang anak laki-laki, kemudian menghilang setelah gosip menyebar. Seharusnya setelah Hafisa melahirkan, dia memulai debut untuk menjadi artis dan menjadi terkenal setelahnya.


“Lil, jaga Hafisa dulu, ya! Aku mau pergi dulu, penting! Kalau ada apa-apa kabari aku, ya!” pinta Qiram setelah mereka cukup lama memperhatikan bayi mungil yang dipenuhi tubuhnya dengan selang-seling di dalam tabung itu.


“Ok, kau hati-hati ya, Bro!”


“Sip, tenang kawan, aku sudah jauh lebih kuat dan keren dari sebelumnya,” jawab Qiram dengan nyengir kuda. Lil O malah membalasnya dengan jempol sambil tersenyum polos, menunjukkan giginya yang rapi dan putih, tubuhnya tampak semakin kekar dan kulit sawo matangnya yang mengkilap membuat ia terlihat jauh lebih sexsy dari pada sebelumnya.


“Lil! Kau tambah ganteng aja nya, aku tengok sekarang, semoga cepat dapat cewek kau, ya!” teriak Qiram terkekeh dengan memakai logat Medan, ciri khas Lil O.


“Sssst!” Lil O meletakkan tangan di bibir, ia tak enak Qiram bersorak begitu karena ini rumah sakit. Qiram terkekeh dan terus berjalan semakin jauh.

__ADS_1


Qiram memesan taksi online karena Jecky menggunakan mobilnya tadi saat pulang. “Pak, antarkan saya ke Duta Mas!” pinta Qiram.


“Baik, Pak,” jawab sang sopir.


Sopir taksi pun mengantarkan Qiram ke perumahan Duta Mas. Tak lama, berselang 1 jam lebih, mereka pun sampai. Qiram membayar taksi sejumlah argo taxsi itu, kemudian taksi pun berlalu pergi dari sana.


20 buah perumahan dibarisan depan dan ada beberapa buah lagi di barisan belakang, masih dalam pengerjaan. Qiram menyatukan dan merenovasi rumah itu khusus untuk agensi Hafisa, lalu 4 ruko khusus untuk klinik hewan yang akan ia peruntukkan untuk Dokter Aini Farha, perumahan itu adalah perumahan yang dia beli saat itu, dan dia sangat yakin, perumahan ini akan semakin ramai dan terkenal nantinya. Begitulah rencana Qiram yang belum ia sampaikan kepada dua wanita itu, tetapi sudah menyiapkannya sebagai hadiah kejutan.


Dia berjalan ke arah pekerja, pada pemborong dan arsitek bangunan itu.


“Siang juga,” jawab Qiram tersenyum.


“Aku tak tahu jika tadi Bapak, biasanya Anda selalu memakai Lamborghini Veneno. Jadi, ku kira hanya pekerja yang datang, kalau tahu itu Bapak, kami akan menyusul ke sana.” Pekerja itu berbasa-basi.


“Iya, tak masalah! Mobil saya di pakai saudara. Jadi, saya memilih pakai taxsi saja, ingin melihat bangunan ini. Hm, kira-kira berapa lama lagi ya rampungnya dan bisa dipergunakan?” tanya Qiram ramah.


“Tidak lama lagi, Pak. Kami akan bekerja sebaik mungkin dengan hasil yang paling terbaik kami lakukan,” jawab Arsitek dan pemborong itu.

__ADS_1


“Iya, jangan merasa terbebani juga, aku memang ingin secepatnya, setidaknya satu bulan lagi sudah selesai, tetapi kalau tidak bisa, tidak apa-apa, karena aku menginginkan hasil yang paling terbaik. Oh ya, Pak, aku ingin merubah sedikit untuk bangunan yang ini,” terang Qiram, tentang bangunan untuk agensi Hafisa. Kemarin waktu dia berunding dengan Arsitek, dia tidak berpikir tentang bayi Hafisa. Kini, ia ingin membuat ruangan khusus untuk bayi, ruangan aman yang tak bisa dilihat dan dikunjungi siapapun kecuali orang terpenting.


Menurut kehidupannya yang lalu, Hafisa menjadi artis terkenal dan laris, dia cantik dan dikenal single waktu itu, membuat namanya terus meroket. Jadi, Qiram berniat membantu melindungi informasi dan data Hafisa, agar nanti tidak terjadi seperti kehidupannya yang lalu.


Setelah berbincang, dia juga bertanya pada arsitek. “Pak, apa kau punya kenalan orang dalam untuk mengurus kartu keluarga secepatnya tanpa perlu repot-repot pergi ke kantor?”


“Oh, ada Pak,” sahut Arsitek.


“Bisa saya meminta nomor teleponnya?” tanya Qiram.


“Tentu Pak!” Arsitek itu pun segera memberikan nomor temannya pada Qiram.


Qiram tersenyum kecil saat mengingat bayi prematur yang baru saja dilahirkan oleh Hafisa, ia tengah memikirkan nama dan akan segera mengurus kartu keluarga. Seperti perjanjian awalnya dengan Hafisa, anak itu akan menjadi anaknya, agar Hafisa tak tersandung kasus apapun, agar karirnya terus naik tanpa tenggelam karena perihal kasus anak diluar nikah.


“Hm, bagaimana kalau aku kasih nama Raja saja? Karena ada bayi Pangeran juga di rumah. Raja dan Pangeran, wah... kedengarannya keren, tuh!” Qiram bergumam.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2