Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Naik Pesawat


__ADS_3

Aini tengah ketakutan. Dia masih berpikir antara mimpi dan nyata. Apa benar, dia berada dalam kehidupan yang kedua, karena semuanya kembali terjadi, sama halnya seperti mimpi yang berubah menjadi nyata.


Perutnya dengan cepat membesar, terasa panas dan bergerak-gerak. Gerakan itu sangtlah jelas. Di kehidupannya yang lalu, seharusnya dia tengah di kejar oleh mantan kekasihnya, pria itu bersedia menikah dengannya, tetapi ... diam-diam pria itu memberikan obat penggugur. Anak yang di dalam perut Aini mengamuk, dan terjadi beberapa adegan yang mengerikan.


Anak yang dikandung Aini memiliki kekuatan aneh. Dalam kehidupan nya yang lalu, setelah dia dibantu oleh Helmi, dia bisa keluar negri dengan mudah. Akan tetapi, dikehidupannya kali ini, Helmi tidak mempercayainya, tidak membantunya, yang membantunya adalah Qiram untuk keluar menjaminnya kemarin


“Maafkan aku Qiram. Aku benar-benar tidak bisa menikah denganmu. Aku hamil terlebih dahulu sebelum kita berhubungan badan, aku sangat yakin itu. Anak dalam perutku ini adalah ulat yang waktu itu menjalar ke pembuluh darah dan masuk ke dalam perutku. Semejak itu, aku merasa aneh, siang malam merindu dan haus belaianmu. Apakah Gippong, sangat jatuh hati padamu, sehingga darahnya yang aku teliti, membuat aku terjangkit rasa hasrat yang begitu tinggi. Aku tidak bisa berpikir jernih, apakah ini cinta atau hanya sebuah naf*su!” Aini bergumam sambil memegangi perutnya yang terasa melilit menyakitkan.


Perutnya sudah membesar seperti wanita hamil 5 bulan. Padahal, seharusnya jika di hitung dari ulat itu masuk ke dalam pembuluh darahnya, baru 2 bulan. Jika dihitung berse*tubuh dengan Qiram, baru satu bulan lebih.


“Ah, bagaimana caranya aku keluar dari negara ini! Aku tidak bisa di Indonesia. Anak tanpa bapak. Anak tanpa pernikahan tidak berlaku di Indonesia. Aku harus pergi secepatnya!” Aini menghidupkan laptop, mencoba mencari syarat keberangkatan dan apa saja yang dia butuhkan di internet.

__ADS_1


Tiga hari kemudian. Rosie, teman Aini terkejut saat melihat perutnya besar.


Rosie awalnya sangat marah dan ingin mencekik pria yang telah menghamili sahabatnya. Akan tetapi, Aini berkata semua ini salahnya, dia jatuh cinta pada suami orang. Oleh karena itu, dia memilih ingin pergi ke Luar Negri.


Mau tidak mau, Rosie pun membantu Aini.


Rosie kini tengah berpelukan dengan Aini di bandara. “Aku khawatir sekali. Pokoknya, kamu harus telepon aku, jika ada apa-apa. Aku akan usahakan secepatnya menyusul.” Rosie berkata dengan cemas.


Rosie memang cukup baik, tetapi dalam kehidupan yang lalu. Tidak seperti itu, tidak ada yang bisa di percaya sebenarnya. Akan tetapi, kali ini Aini ingin mempercayai, agar bisa keluar dari negara ini. Dia akan melahirkan di luar negri.


Tempat di mana mereka hidup menyepi di kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


Rosie masih melambaikan tangannya sampai Aini masuk ke dalam ruang tunggu.


Aini duduk di ruang tunggu melamun sambil mengelus perutnya. “Qiram, semoga kamu segera menemukan wanita baik.” Aini bergumam. Ya, dia tidak tahu, di hari pernikahan mereka berlangsung seharusnya, ada wanita lain yang menjadi pengantin pengganti.


“Nak, tolong bantu Ibu. Jangan menyiksa ibu sampai kita sampai di tempat tujuan, jangan terlalu banyak bergerak ya!” pinta Aini mengelus perutnya.


Lebih dari 45 menit dia menunggu di ruang tunggu, sampai suara pemanggilan untuk para penumpang pesawat yang akan di tumpangi oleh Arini terdengar.


“Nak, akhirnya!” Aini berdiri bersama orang-orang yang akan berangkat naik pesawat bersamanya. Dia melangkah bersama kerumunan ke dalam pesawat kelas ekonomi itu.


“Semoga kita sampai dengan selamat, Nak!” ujar Aini mengelus perut besarnya saat sudah duduk di atas pesawat dan memakai sabuk pengaman.

__ADS_1


Arah pandangannya menuju ke luar jendela pesawat. Bahkan sampai pesawat lepas landas, dia masih memperhatikan ke arah luar, sampai pesawat menembus awan, melihat gulungan awan tebal yang berwarna putih seperti kapas.


__ADS_2