
Dan akhirnya....
Hafisa lah yang memakai gaun pengantin yang dibuatkan untuk Aini itu, karena Tuan Beneno tidak ingin membuat Qiram malu karena calon istrinya kabur, terlebih lagi, tamu yang datang sekarang bukan hanya manusia biasa, tetapi dari Klan Erz dan Damzi. Bahkan dari kelompok Marissa, salah satunya kaki tangan kepercayaan Marissa.
Tuan Beneno kecewa pada wanita bernama Aini itu. Bisa-bisanya dia mempermainkan pernikahan dengan Qiram cucunya. Padahal banyak wanita yang sangat bersedia untuk menjadi istri Qiram, seperti Gippong seorang putri dari klan Erz yang menghilang, dan Marissa sekarang yang sedang sakit parah.
Tuan Beneno berdiri menyambut Qiram yang sudah keluar dengan jas rapinya.
“Kau sangat tampan cucuku.” Tuan Beneno menepuk pundaknya.
“Kakek juga,” jawab Qiram tersenyum.
“Ayo,” ajak Tuan Beneno berjalan dengan tongkatnya berjalan sambil menggenggam tangan Qiram untuk duduk di tempat sumpah janji sucinya.
__ADS_1
Setelah Qiram berdiri dengan gagahnya di sana. Tuan Beneno kembali mundur ke belakang, berdiri di dekat Jecky yang sedang menggendong bayi Pangeran. Sedangkan di sebelahnya lagi, ada Lil O yang sedang menggendong bayi Raja.
“Menurutmu, apakah wanita yang kabur itu akan selamat?” tanya Tuan Beneno tanpa menoleh pada Jecky.
“Jika dia manusia biasa, pasti selamat, jika tidak, dia akan hancur, Tuan. Lalu, jika kejadian itu membuat dia hamil, kehamilannya akan mengganas dan menyiksa dirinya,” jabar Jecky.
“Ya. Kurasa semoga saja dia manusia biasa. Agar dia bisa hidup dengan baik. Jika dia hamil, pasti dia akan kembali lagi.”
Hafisa muncul dengan gaun pengantin putih yang memiliki rok panjang di belakang. Hafisa yang cantik bertambah cantik saat di rias. Sesaat, dada Qiram tiba-tiba berdetak tak karuan melihat Hafisa. Dia menjadi gugup.
“Mari Nona, saya akan mengantarkan Anda.” Hafisa pun menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat.
Hafisa dan wanita berambut panjang itu berjalan dengan anggun, mengantarkan tubuh Hafisa mendekat pada Qiram. Setelahnya, wanita berambut panjang itu kembali ke tempatnya tadi, dua baris di belakang Tuan Beneno.
__ADS_1
“Apa acaranya bisa kita mulai segera?” tanya seseorang yang akan menikahkan mereka.
“Bisa.”
Semua pun bersiap dan menjadi saksi sumpah janji suci itu di bacakan. Hingga Hafisa dan Qiram menjawab sama-sama ‘Bersedia.’ Bersedia menjalani hidup senang dan duka, bahagia dan sedih sama-sama, saling sayang, cinta, dan kasih selamnya.
Kini, Qiram dan Hafisa resmi menjadi sepasang suami istri, mereka bahkan dipersilahkan untuk mencium. Qiram mendekatkan tubuhnya, membuat Hafisa berdebar. Qiram mencium kening Hafisa lembut, dan itu di abadikan oleh kamera.
Setelahnya, semua tamu bersuka cita mencicipi hidangan dengan gelak tawa, sampai pada acaranya selesai. Pesta pernikahan Qiram hanya sederhana, tak ada kemewahan ini dan itu, karena waktu itu Aini yang meminta sederhana.
“Qiram, cucuku. Walaupun kau dan cucu menantuku ini tidak merencanakan pernikahan dari awal. Akan tetapi, dia wanita yang baik. Dia bahkan merawat dua bayi sekaligus, dia tahu juga bayi Pangeran anakmu dengan wanita lain. Dia bisa menerima. Bahkan sejak kau berbadan besar, dia sudah tahu. Dia pasti sangat menyayangimu cucuku.”
Qiram menatap Tuan Beneno. “Maksudnya kakek, dia kasihan sama aku karena hampir gagal menikah?”
__ADS_1
“Bukan, coba kamu lihat. Dia suka padamu. Apa kamu tidak tahu? Tidak mungkin dia rela menikah, jika tidak suka kamu, Nak!” Tuan Beneno tersenyum menepuk pundak Qiram.