
Tiba-tiba kepala Aini sangat sakit saat tubuh Qiram berada di atas tubuhnya bermandi peluh. Sebuah peristiwa muncul di dalam otak Aini, seperti memutar sebuah video, tetapi video itu adalah tentang dirinya sendiri.
Aini terdiam, terpana akan cuplikan pikiran itu, dia melihat dirinya tengah berjalan membawa sebuah bingkisan kotak kecil dengan kue. Dia berniat ingin memberikan kejutan pada kekasihnya, ini adalah perayaan hari jadinya. Dia juga ingin memberikan jawaban atas lamaran sang kekasih, jika dia bersedia menikah dengan sang kekasih.
Dengan hati yang berdebar, ingin memberi kejutan. Kini, dia tengah berdiri di depan pintu apartemen sang kekasih.
Aini baru saja mengirim pesan kepada kekasihnya 30 menit yang lalu, pria itu mengatakan dia sedang sibuk dengan kliennya. Jadi, Aini sengaja ingin menunggunya di apartemen milik sang pacar, karena dia tau pin pintu apartemen, dia pun masuk dengan tersenyum.
Saat masuk ke dalam, dia melihat ruangan itu sedikit berantakan, terlihat begitu aneh, karena ada sepasang sepatu hill milik wanita bertebaran di sana, sepatu kekasihnya, baju dan celananya juga berserakan dengan terpisah, lalu dress perempuan.
Deg! Jantung Aini berdetak keras. Pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak, namun dia menepis pikiran itu. Hingga, dia melihat di depan pintu kamar kekasihnya, ada b r a dan celana d a l a m wanita berceceran di depan sana.
Aini berjalan pelan dengan hati yang bergemuruh hebat, pintu yang belum tertutup rapat, mungkin karena orang yang ada di dalam kamar itu begitu terdesak. Terdengar suara-suara menggelikan.
Kakinya gemetar, matanya terbelalak, saat mendorong pintu itu dengan terbuka lebar. Sang kekasih dengan tubuh polos di atas tubuh seorang wanita yang juga tak kalah polosnya, kekasihnya sedang menggoyangkan pinggulnya.
“A-aini?” Kekasihnya terkejut bukan main.
“Jadi--” Aini gemetar, kue yang dia pegang terjatuh ke bawah bersama dengan kotak hadiah, sebuah jam tangan dengan sepucuk surat bahwa dia sangat mencintai kekasih dan dia bersedia menikah.
Aini berlari keluar dengan tangis pilunya. Sang kekasih terburu-buru memakai celana boxer dan berlari keluar mengejar Aini. Akan tetapi, Aini yang sudah terlebih dahulu mendapatkan tumpangan, tak bisa terkejar oleh kekasihnya.
Keesokan harinya, sang kekasih mendatangi Aini ke rumah sakit, meminta maaf padanya dengan alasan khilaf dan tak tahan akan sifat Aini yang sok alim.
Sang kekasih berkata, jika Aini selama ini tak ingin disentuh, sedangkan dia sangat butuh pelepasan h a s r a t, makanya dia memilih bermain-main dengan wanita untuk memuaskan diri.
“Sayang, percayalah, hanya kau yang kucintai, tidak ada wanita lain selain dirimu, sungguh! Aku hanya tidak bisa menahan diriku, h a s r a t ku terlalu tinggi, makanya aku mengajakmu menikah. Aku berjanji, setelah menikah, tidak akan ada satupun wanita yang kusentuh. Hanya dirimu. Sayang, tolong mengerti aku,” ucap kekasihnya memohon.
Aini yang masih kecewa tak menjawab, dia lebih memilih diam. Hanya satu kalimat yang dia katakan pada kekasihnya yaitu kata ‘Kita putus’.
Hingga hari demi hari, dan akhirnya sang kekasih mengancam Aini. Dia menggunakan kekuasaannya atas rumah sakit tempat Aini bekerja, bahkan ada pasien yang menuntut dirinya. Harus membayar uang ganti rugi dengan ratusan juta.
__ADS_1
Aini merasa dilema, dia tidak ingin meminta bantuan pada mantan kekasihnya walupun pria itu terus mengatakan dia bisa membayarnya dengan syarat menikahlah dengannya, dia tidak ingin putus dengan Aini.
Hari itu, Aini sangat setres, jika dia tidak membayar, maka dia akan di penjara, hingga dia memutuskan untuk tidur di kamar mayat. Dipikirannya sampai teringat jika dia mati, makanya semua masalah akan selesai.
Hingga dia benar-benar tertidur. Akan tetapi, di pertengahan waktu dia tertidur pulas dan dia menutupi tubuhnya dengan selimut putih layaknya mayat, dia mendengar samar-samar suara. Lalu, dia terbangun dan membuka mata lebar saat mendengar namanya di sebut.
“Bagus, ini bayaran untukmu dan team!”
‘Itu bukannya--’ Aini bergumam dalam hati. Ya, itu suara mantan kekasihnya. Diam-diam dia mengambil hp dengan sangat hati-hati, khawatir pencahayaan hp nya akan mengalihkan perhatian dua orang yang berbicara di ruang mayat itu. Aini akhirnya berhasil menghidupkan pemutar rekaman, dia langsung membalikkan layar hp, agar cahayanya tak terlihat.
Dari rekaman itu, Aini tahu, jika ini semua adalah ulah mantan kekasihnya.
Akhirnya, Aini menemui teman sesama dokter dengannya, dia bernama Rosie.
“Hai, Dokter Aini. Apa kabar?” sapa Rosie.
“Dokter Rosie, aku butuh bantuanmu, aku pengen hamil,” ujar Aini yang mendapat kekehan dari Rosie.
“Tidak Dokter, aku butuh bantuan dengan suntik inseminasi.”
“Loh?”
“Ceritanya panjang, Dokter Ros. Tolong bantu saya,” pinta Aini.
“Baiklah kalau begitu, Dokter Aini mau tipe seperti mana? Agar sper * manya cocok.”
“Tidak terlalu tampan dan jelek, sikapnya sopan dan ramah.”
Dokter Rosie pun menanyakan beberapa pertanyaan lainnya untuk prosedur suntik inseminasi.
Hingga akhirnya, diingatan yang lain, setelah membahas tentang inseminasi dengan Rosie, Dokter Aini menemukan seorang gadis berambut panjang yang sedang tergelatak di jalan, dia tengah menggigil kesakitan.
__ADS_1
Aini menolong gadis itu dan merawatnya kurang lebih tiga hari, namun gadis itu hilang dan lenyap seperti cahaya, membuat Aini terkejut.
‘Ingatan apa ini?’ gumam Aini.
Qiram yang sedang ber gai rah, terus memainkan tubuhnya, lalu menciumi wajah Aini dan melu mat bibirnya.
Semakin dia bersentuhan dengan Qiram, dia semakin senang, tetapi perutnya semakin terasa panas, ingatan di kepalanya semakin bermunculan.
Hingga ingatan tentang Aini melakukan operasi iseminasi. Aini melihat data pria pemilik sper* ma itu. Dan itu adalah pria yang ada di atas tubuhnya sekarang, sedangkan wanita yang di tolongnya adalah Gippong.
“Aaah, aah!” Suara kenikmatan Qiram semakin menjadi, di atas tubuh Aini.
Semakin Aini hilang kendali, memeluk, dan meremas punggung Qiram. Dan akhirnya, Qiram pun sampai puncak. Qiram terkulai lemas dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Aini.
Ingatan itu terus berputar sedikit demi sedikit, hingga Aini terkejut dan mengetahui fakta, jika dia akan memiliki anak dari Qiram setelah ini.
***
Qiram dan Aini membersihkan diri. Mereka berdua tampak canggung. “Maaf, aku--- aku lepas kendali,” ucap Qiram dengan gentle. Walupun Aini yang menggodanya, sebagai pria dia tetap minta maaf.
“Maaf, di sini aku yang salah karena tergoda dengan h a w a n a f s u ku.”
“Lalu, gimana?” tanya Qiram menatap Aini lembut.
“Lupakan saja,” jawab Aini.
“Bagaimana aku bisa melupakan perbuatan seperti ini. Dokter, aku mengambil gadismu, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu,” ucap Qiram tegas.
Aini terdiam dan menatap Qiram.
“Aku tahu, belum ada cinta diantara kita. Namun, jika sudah menikah, pasti cinta itu akan ada. Jadi, mari kita menikah,” ajak Qiram.
__ADS_1
Ya, untuk sekarang, Qiram cukup percaya diri untuk menikahi seseorang, karena dia cukup mapan, berbeda dengan kehidupan nya yang lalu.