
Qiram tersungkur, tubuh besarnya walaupun sudah turun beberapa kilo, tetap saja akan roboh saat kaki sebagai penopangnya ditendang dan disandung.
Bawahan Soleman mengelus kakinya, menggerakkan beberapakali, walaupun berhasil membuat Qiram tersungkur, tak dipungkiri kakinya pun terasa ngilu karena tubuh Qiram yang mulai keras disebabkan olahraga, bukan lagi Qiram empuk yang bergelambir kenyal-kenyal.
“Tuan Muda, mundur dua langkah, perhatikan kaki kirimu, tendang ke depan!”
“Mundur satu langkah ke samping!”
“Ke kanan! Yup, betul!” teriak Jecky memandu Qiram yang belum berlatih gerakan kaki selama ini.
“Tendang depan dengan dua pukulan kuat!” teriak Jecky saat ia juga menendang kepala bawahan Soleman, matanya terus melirik pertarungan Qiram sambil melawan beberapa orang.
Soleman menggerutu. “Cuih! Siaaaalaaan!” gerutunya dengan meludah. Lalu, maju ke depan untuk mengganggu konsentrasi Jecky yang membantu Qiram bertarung.
Brug! Bogem mentah mendarat di perut Jekcy dari Soleman yang tidak fokus pada pertarungan demi keselamatan Qiram.
“Aakh!” ringis Jecky, ia bergegas berdiri kembali, sebelum bawahan Soleman memiliki celah untuk menggebuknya bersama-sama dengan Soleman.
“Kau masih bisa mengkhawatirkan Badak Bengkak itu dalam kondisi mu seperti ini?! Seharusnya, kau memperhatikan keselamatan dirimu terlebih dahulu! Hiyaaaaa!” Soleman langsung berjalan cepat 3 langkah dengan menggerakkan kakinya untuk menendang Jecky ke arah perut, namun kali ini gagal. Jekcy dengan cepat menangkis kaki Soleman.
“Cih!” Soleman kesal, Ia memutar gerakan kakinya sedikit ke arah kanan, menendang Jecky dan memberikan pukulan dari samping.
Plak! Jecky masih menahannya, serangan Soleman kembali gagal.
Jecky memilih fokus saat Soleman berada dihadapannya, ditambah dengan beberapa bawahan Soleman yang juga mengincarnya dari belakang.
“Aakkh!” teriak Qiram kesakitan. Tulang kering mereka saling beradu. Ia memegang kakinya karena merasa sakit dan ngilu.
Konsentrasi Jecky jadi buyar, ia menoleh sekilas. “Hiyaaaaa!” Soleman hendak memukul area wajahnya setelah melihat Jecky tidak fokus.
“Tuan Muda, kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Akan tetapi, tangannya menyambut tangan Soleman yang hendak mendarat di wajahnya.
Krek! Bunyi tulang tangan patah. Jecky menarik tangan yang sudah ia remas dan pelintir itu, lalu berbisik. “Ini adalah pembalasan untukmu, rasakanlah kecacat pada tanganmu selamanya.” Mata Jecky menatap tajam wajah Soleman yang terkejut hebat. Dia baru saja mematahkan tangan Soleman.
__ADS_1
Ia menepuk wajah itu lalu mendorongnya, Soleman terdiam beberapa saat, ia merasa dejavu dengan perkataan itu. Entah kapan dan dimana?
Jecky langsung menendang keras semua bawahan dengan gerakan yang sangat cepat, bahkan Qiram dan Soleman tak tahu kapan pria itu melumpuhkan semuanya.
“Tuan Muda, ayo, kita harus segera mengobati lukamu, kamu tidak boleh kenapa-kenapa.” Jecky langsung menggendong Qiram yang berbobot jauh lebih besar dari tubuhnya.
Yang lebih mencengangkan, Jecky bisa menggendongnya sambil berlari dengan tergesa-gesa, kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu ke arah klinik.
“Aakhhhh! Tanganku!” teriak Soleman tak lama. Ia baru tersadar, tangannya telah patah setelah mobil yang dibawa oleh Jecky menghilang bersama dengan Qiram.
“Siaaalaaan! Bangun kalian semua, dasar payah! Ayo, bawa aku ke rumah sakit!” hardiknya kepada beberapa bawahan yang masih tersadar dan hanya mendapati luka ringan.
Qiram bersandar di kursi mobil, ia tak terluka parah, hanya saja tulang keringnya terasa sangat sakit, seolah patah. Tetapi setelah ia periksa kaki itu baik-baik saja.
“Guru, kakiku tidak apa-apa, mungkin karena yang tertendang itu tulang keringku, jadi terasa sangat sakit, tetapi kakiku sungguh baik-baik saja, hanya sedikit bengkak di sini. Ini cukup dioleskan salep agar menyusut.” terang Qiram menunjuk benjolan kecil di tulang keringnya.
“Kita langsung pulang saja, tidak usah ke klinik, Guru,” pinta Qiram.
“Baiklah, Tuan Muda.” jawab Jecky patuh, lalu memutar setir mobil ke arah rumah.
‘Saldo Anda Rp. ‘591.526.000,-’
Qiram mendengar suara notifikasi, lalu hpnya bergetar dan melihat jumlah saldo rekeningnya.
‘Wow, ini benar-benar gila! Jika aku semakin berani dan bertambah kuat, memiliki beberapa gerakan baru akan mendapatkan tambahan uang!!! Aku akan kaya raya! Hahahaha!’ Qiram tergelak di dalam hatinya. Ia sangat senang.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah ia terus berpikir untuk mengembangkan uang yang ia miliki ini. Ia harus bertemu kembali dengan Raina Ozra untuk melanjutkan bisnis mereka yang sempat tertunda saat itu, lalu persiapan membeli bangunan baru yang akan ia jadikan klinik untuk Dokter Aini Farha nanti, saat ia mendapatkan masalah itu, sebelum ia dipecat dan dikeluarkan dari klinik tempat ia bekerja, Qiram harus mendapatkan klinik terlebih dahulu.
Ia mengagukkan kepala dengan serius, tangannya bertopang di dagu.
“Apakah Anda memikirkan sesuatu yang sangat penting Tuan Muda, jika Anda butuh bantuan, cerita saja padaku, mungkin saja aku bisa memberikan saran,” ujar Jecky.
“Terimakasih Guru. Saya hanya berpikir sesuatu saja, tidak terlalu penting,” jawabnya.
__ADS_1
Tak lama, mereka sampai di rumah. Terlihat Hafisa sedang menggendong Pangeran, ia mengajak bayi itu mengobrol, Gippong mengikuti mereka dengan menggoyangkan ekornya.
“Hai, kalian tampak akrab, ya, sekarang?” sapa Qiram dengan senyuman. Gippong langsung mengejar, mengeluskan tubuhnya manja di kaki Qiram.
“Hai Qiram, hai Tuan Jecky. Kalian sudah pulang,” sahut Hafisa.
“Ya, begitulah! Aku membawa pesanan mu.” Qiram meletakkan pesanan Hafisa di atas meja di depan sofa. “Kemarilah putra kecil!” Qiram meraih dan menggendong Pangeran yang ia ambil dari pangkuan Hafisa. “Apa kau merindukanku?” tanyanya dengan menoel hidung bayi itu.
Pangeran, bayi kecil yang pendiam, tidak menangis, jarang bergerak, seperti bayi mati, namun perutnya naik turun pertanda ia bernafas, matanya berkedip pertanda ia hidup.
Qiram duduk di samping Jecky. “Guru, kenapa Pangeran berbeda dengan bayi lain? Dia aneh, tidak tersenyum, tidak menangis, tidak menggerakkan tangan dan kakinya. Apa dia cacat sejak bayi? Atau dia memiliki penyakit? Apa kita harus memeriksa ke rumah sakit? Hm, mungkin ke dokter khusus anak?” tanya Qiram panjang lebar.
Hafisa tersenyum mendengarnya. ‘Kau memang pria hangat dan baik, sangat peduli dan perhatian.’ gumamnya dalam hati.
“Pangeran baik-baik saja, Tuan Muda. Anda yang harus menjaga diri. Ini adalah kesempatan paling terbaik untuk Anda, kalahkan semua musuh yang menjahatimu. Semangat!” ucap Jecky.
“Hahahha! Ya, semangat!” ucap Qiram terkekeh melihat Jecky yang lebih antusias untuk perubahannya.
‘Semoga saja, seminggu lagi aku mendapatkan lebih banyak uang, karena waktu sebulan yang diberikan notifikasi itu akan berakhir. Atau ... apakah aku meminta tugas yang sama lagi saja? Aku minta ingin menjadi lebih kuat?’ gumam Qiram sambil mengelus pipi Pangeran lembut, namun pikirannya melayang kemana-mana, walau tubuhnya sedang berada bersama bayi, Pangeran.
💓💞🌹
Coretan...
Terimakasih untuk semua pembaca yang telah membaca cerita receh saya. Jujur, ini adalah novel pertama yang saya tulis dengan kategori pria bergenre fantasi. Saya merasa gugup dan banyak kurangnya, namun saya masih bersemangat untuk mengikuti lomba ini, mencoba melawan tantangan agar bisa memahi untuk menjadi lelaki kuat yang mendadak kaya. Walau di dunia nyata, saya sungguh tidak tahu, kalau lelaki itu sifatnya bagaimana? Yang saya tahu, kebanyakan lelaki itu rasa pekanya sangatlah tipis. Itu saja.
Jadi, mohon maaf jika slow update. Saya masih dalam tahap belajar. Jika ada saran dan usulan bagaimana sebenarnya menjadi lelaki sejati, tolong tinggalkan komentar, agar saya bisa memahaminya. Terimakasih perhatiannya💓🙏🌹
Oh, ya, seperti yang saya tulis di atas. Novel ini saya tulis untuk mengikuti lomba cerita kategori pria mendadak kaya. Saya punya rekomendasi yang enak untuk di baca, yuk, kepoin juga!
__ADS_1
Semoga suka dengan rekomendasinya 💓