
“Abang, kamu sudah punya pacar?” Helmi langsung bertanya pada Lil O, saat dia membayar makanannya.
“Belum, Neng, nggak ada yang mau mah sama Abang. Jelek begini,” sahut Lil O merendah.
“Siapa yang bilang Abang jelek? Kalo sama Neng mah, Abang ganteng sangat!” puji Helmi dengan pipi memerah. Lil O hanya tersenyum menanggapi pujian itu.
“Kalau begitu, mau nggak Abang jadi suami Neng?” tanya Helmi penuh harap.
“Hah?” Rasanya, mata Lil O mau melompat saking terbelalaknya mendengar apa yang dikatakan oleh Helmi. “Neng jangan becanda begitu. Pernikahan tidak boleh di bercandain!”
“Siapa yang bercanda? Neng mah, bicara jujur, tulus dari hati. Neng mau nikah sama Abang. Tapi, Neng banyak kurangnya, nggak bisa masak, kurang feminim dan sedikit kasar, namun Neng akan segera belajar, semoga segera berubah,” kata Helmi berwajah serius, dia menatap Lil O tegas.
Lil O menatap Helmi serius, mencari kebohongan, tetapi wajah Helmi tampak serius tanpa tertawa sedikitpun.
“Neng serius?” Lil O bertanya kembali, memastikan. Helmi mengangguk.
Lil O menelan salivanya. Dia berpikir sejenak. “Baiklah, kalau begitu, Abang akan berbicara sama emak di kampung, dan juga teman Abang Qiram dulu. Baru Abang bisa kasih tahu jawabannya, gimana?”
__ADS_1
Helmi tersenyum. “Baiklah, segera kabari Neng ya, Bang. Dan sebelum itu, Abang bisa kok chat atau telepon Neng,” ucapnya penuh harap.
Setelah berbincang dengan Lil O dan makan sepuasnya, serta membawa beberapa bungkus makanan, Helmi kembali dengan taksi ke tempat bawahannya menunggu.
***
Professor Azrul masih saja menggila dan mencari-cari guci, hingga dia melihat sebuah guci berwana emas.
Dia tertawa senang, dia membeli guci itu dengan harga yang sangat mahal.
“Hahahha! Akhirnya, aku mendapatkan kamu juga guci! Aku akan kaya raya, bahagia! Hidup cucuku akan senang dan bergelimang harta,” ujarnya tertawa-tawa bahagia. Bahkan dia tidak melihat-lihat saat menyebrang.
Guci yang baru dia beli, yang tadi masih di peluk dengan erat, kini pecah berderai, seperti tulangnya yang patah dan tulang lehernya yang sudah tak bisa menggerakkan kepalanya lagi. Di hidung, telinga, dan bibirnya mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi, otaknya masih memikirkan guci.
“Oh, guci ku....” gumamnya lemah. Dia mencoba meraih pecahan guci dengan tangannya.
Dia tersenyum kecut, karena setidaknya butuh lima sentimeter lagi ujung jarinya menyentuh lempengan pecahan guci itu. “Apakah aku akan kehilangan kamu untuk kedua kalinya.... Aaaaah.... aaahhh....”
__ADS_1
Professor Azrul pun mati dengan mata terbelalak, dengan ambisi yang belum tercapai.
Melati yang baru mengetahui berita kecelakaan kakeknya, bergegas kesana bersama Rangga. Tubuh kakeknya sudah di bawa polisi, tempat kejadian itu juga sudah diberi garis polisi.
Melati menangis pilu.
“Malati, yang sabar.” Rangga menguatkan.
“Aku tidak punya siapa-siapa lagi, hanya Kakek yang aku punya, Rangga....” lirih Melati menangis.
Rangga mengusap punggung Melati lembut dan memberikan tisu untuk menghapus air mata pada Melati.
“Ada aku. Aku temanmu, aku akan selalu ada untukmu mulai sekarang, jangan bersedih lagi,” bujuk Rangga.
Setelah melakukan pemeriksaan dari polisi, Professor Azrul segera dikebumikan. Rangga masih setia menemani Melati, mulai dari memandikan hingga menguburkan kakek Melati, dia selalu di samping gadis itu.
“Sudah, ayo, kita pulang. Sudah tidak ada orang lagi di sini. Ayo!" Rangga memeluk bahu Melati, memapahnya agar bangun dari pemakaman itu.
__ADS_1
“Kamu harus ikhlas akan kepergian kakekmu, yang kuat dan sabar.” Rangga memeluk Melati