
“Dan ... Kakek tidak tahu apa-apa lagi, karena pingsan. Tapi, setelah Kakek sadar, Kakek melihat waktu telah berputar. Kakek berpikir, kakek berhasil, tapi ... Pangeran Dardail menemui Kakek dengan menggendong bayi bermata emas itu. Bayi itu terlahir abadi dengan dua kekuatan. Kekuatan penuh dari keluarga ibunya, beserta pengikutnya, dan juga kekuatan kita ada padanya, dia terlahir murni.”
“Ibu bayi itu, tentu saja kamu tahu 'kan? Gurumu sudah bercerita 'kan?” tanya Tuan Beneno menatap Qiram.
Qiram mengangguk. Ya, ibu bayi itu adalah Marissa.
“Kamu pasti bingung 'kan? Itulah sebabnya bayi Pangeran tidak bisa bergerak dan normal, karena waktu berputar, maka tubuhnya hanyalah sebuah cangkang kosong, sampai Marissa benar-benar melahirkan. Hm ... Marissa menemuimu dengan berbagai cara, Pangeran Dardail dan Putri Aurora dari Klan Erz juga. Pangeran datang menjadi guru bersama bayimu, dan Putri datang menemuimu dengan berwujud kucing.”
“Jadi, semuanya sudah direncanakan, ya?” tanya Qiram.
“Tidak sepenuhnya, karena kekuatan guci emas itu campuran dari seluruh kekuatan, dari kekuatan Ibu dan nenekmu, aku dan putramu,” terang Tuan Beneno. Qiram mengangguk, perlahan dia mulai paham.
“Lalu, kenapa Kek, Marissa dan Gippong, maksudku, Putri itu ... mmm... sakit?” Qiram tampak ragu.
“Karena hatimu tidak menginginkannya.”
“Tidak, bukan begitu Kek. Jika saja Gippong dan Marissa berkata dengan jujur, aku ... aku akan-”
__ADS_1
“Mereka tidak bisa memohon dan meminta padamu Qiram, karena kamu adalah wadah pemohon, sedangkan mereka akan mewujudkan permohonanmu.”
“Bukankah itu sangat egois dan tidak adil, Kek? Kalau begitu, aku akan memohon pada Marissa, sebelum dia musnah seperti Gippong.”
“Ya, bagaimana lagi. Semuanya sudah terlambat Qiram. Tidak bisa dipaksakan, walaupun kamu kasihan, mereka tidak mendapatkan hatimu, kau membaginya, makanya mereka musnah, mereka makhluk abadi yang tidak bisa berbagi. Jika kamu memilih Gippong, maka Marissa akan musnah. Jika kamu memilih Marissa, Gippong akan musnah. Oleh karena itu, Gippong terlebih dahulu mendatangimu karena dia adalah takdir jodohmu.”
“Sedangkan dengan Marissa, itu semua terjadi hanya karena sebuah kesalahan, bukan takdir jodoh. Saat kehidupan pertama saat itu, kau dalam keadaan terpuruk dan mabuk, Marissa juga dalam keadaan lemah, hingga tidak mengenali wajah dan tubuhmu, dia hanya bisa mencium aroma tubuhmu.”
Mendengar penjelasan Kakek. Qiram teringat akan malam panas dia dengan Marissa. Saat itu, memang muncul berbagai potongan ingatan.
“Kenapa begitu Kek?” Wajah Qiram tampak sedih. “Bukankah bayi Pangeran anakku dengannya? Apakah tidak ada keajaiban?”
“Marissa dan Gippong makhluk abadi, tidak bisa berbagi, seperti yang kakek katakan tadi. Kau telah membagi hatimu dengan manusia lainnya. Bukan, lebih tepatnya, hatimu masih tetap pada satu wanita hingga detik ini.”
“Maksud Kakek?”
“Kamu pasti tahu sendiri nanti dengan perasaanmu. Kakek hanya berharap, pilihlah satu wanita paling terbaik untuk kamu nikahi dengan sungguh-sungguh, diantara wanita yang dekat denganmu. Wanita yang bisa dipercaya, wanita yang akan menyayangi dirimu dan seluruh keturunanmu, bagaimanapun dirimu.”
__ADS_1
Qiram menatap Kakek serius. “Ya udah, sekarang Marissa sudah selesai berendam. Kita bisa menemui dirinya,” ucap Kakek.
“Hah?” Qiram bingung. Dari mana sang kakek tahu, karena tidak ada yang mendatangi mereka untuk memberitahu, mereka hanya berdua saja di sini sejak tadi.
“Ayo,” ajak Kakek.
Qiram mengikuti sang kakek. Mereka berhenti disebuah kolam yang berdinding batu-batu sungai, ada beberapa tumbuhan di sekitar sana, terlihat asri dan indah.
Marissa tersenyum, wajahnya putih pucat, badannya kurus dengan perut sedikit buncit, tapi dia masih tetap cantik.
“Hai, Qiram,” sapa Marissa. Qiram tidak membalas sapaan Marissa, dia langsung memeluk Marissa.
“Kamu sangat kesakitan, ya? Maafkan aku Marissa.” Qiram memeluk tubuh kurus itu dengan erat.
Ya, dengan kekuatan mata super yang dimiliki oleh Qiram beberapa saat lalu, dia bisa melihat organ dalam bagian tubuh Marissa diikat oleh cahaya emas, sama seperti dengan tubuh Gippong saat itu.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau selalu sehat dan bahagia, tolong jaga anak kita, ya.” Marissa membalas pelukan Qiram sama eratnya.
__ADS_1