
“Aku tidak tahu. Akan tetapi, aku akan mencoba mempercayainya, karena selama ini banyak hal-hal di luar nalarku yang terjadi, jadi kurasa bisa saja terjadi,” jawab Hafisa menatap Jecky.
“Sebenarnya di kehidupan pertama, Tuan Muda mati dibunuh, kehidupannya berantakan, dia ditipu dan disakiti, apa yang seharusnya menjadi miliknya diambil oleh orang lain.”
Hafisa menyimak apa yang dikatakan oleh Jecky.
“Dikehidupan kedua ini, dia memperbaiki semua kesalahan itu, termasuk menolong Nona, karena dikehidupan yang lalu, Nona baik hati padanya, tanpa memandang dirinya.”
Mata Hafisa membulat mendengarkan. “Sungguh kah begitu?” tanya Hafisa. Jecky mengangguk.
“Aku percaya dan menaruh harapan pada Nona. Tolong berada di sisi Tuan Muda untuk selamanya.”
“Tentu saja Tuan Jecky, saya akan selalu berada di sampingnya, karena dia sekarang suamiku.” Hafisa tersenyum.
“Kalau begitu, Nona silahkan makan malam dulu, tolong ajak Tuan Muda makan, biar Raja dan Pangeran saya yang jaga,” pinta Jecky.
“Baiklah.”
Hafisa menuju ke kamar Qiram.
“Qiram, apa kamu sibuk?” sapa Hafisa padanya, dia tengah menulis sesuatu di atas kertas.
“Tidak,” jawabnya pendek.
“Ayo kita makan, temani aku makan ya, sekalian aku pengen ngobrol-ngobrol sama kamu, boleh ya?” Hafisa mencoba merayu Qiram, dengan memegang pundaknya, kemudian memeluknya dari belakang, meletakkan dagu di pundak Qiram.
Qiram tidak menolak sikap Hafisa, dia mencoba menerima Hafisa sebagai istrinya.
__ADS_1
“Baiklah.”
Hafisa pun berdiri tegak, Qiram pun juga langsung bangkit dari duduknya. Lalu, Hafisa merangkul tangan Qiram yang sudah berdiri sejajar dengannya.
“Tadi aku syuting lumayan capek, nggak sempat makan, cuma nyolek buah semangka aja, jadi laper banget sekarang.” Hafisa mulai bercerita untuk membuat mood Qiram baik.
“Tadi kamu dari kamar anak-anak 'kan? Kamu 'kan nggak makan, kenapa harus menyusui mereka berdua dulu?” tanya Qiram menghentikan langkahnya, menatap Hafisa serius.
“Tapi ASI aku lancar, banyak malahan, jadi bisa menyusui mereka. Makanya, sekarang aku lapar banget. Oleh karena itu, temani aku makan ya! Aku kalo telat makan begini, bawaannya jadi nggak laper lagi.”
“Ya, aku temani makan. Aku juga belum makan.”
Hafisa segera memanaskan makanan yang disimpan di dalam lemari es, kiriman Lil O tadi sore yang di kirim ke rumah dengan ojek, sedangkan Qiram menunggu di meja makan sambil bertopang dagu.
Makanan pun sudah panas dan Hafisa menghidangkan di meja makan. Mereka mulai mengambil piring dan menyendok nasi serta lauk pauk. “Mari makan!”
“Sudah selesai dan sudah mulai beroperasi, tetapi seminggu lagi akan di resmikan. Kamu bisa menemaniku saat itu?” kata Qiram di sela makannya.
“Jam berapa?"
“Hari sabtu jam lima sore.”
“Oke. Aku akan meminta manager untuk mengatur jadwalku.”
Walaupun Qiram pendiri agensi dan pemilik bangunan itu, artis-artis serta pihak yang terkait tidak bisa semena-mena diatur oleh Qiram, harus melalui prosedur dan ketentuan tertentu untuk jadwal pertemuan.
“Kamu sudah tahu, Lil O membeli restoran baru?”
__ADS_1
“Sudah, kios lama masih tetap dia pakai kok,” jawab Qiram.
“Ooh.”
Mereka melanjutkan makanan dengan diam, hanya bunyi sendok bertemu piring yang terdengar. Hafisa mengakhiri makannya, dengan meminum segelas air putih.
“Qiram.”
“Ya.”
“Di kehidupan lalu, bagiamana aku?” tanya Hafisa hati-hati.
“Kehidupan lalu?” Qiram menatap Hafisa dan diam beberapa detik menatapnya. “Apa Guru yang mengatakannya kepadamu?”
“Iya,” jawab Hafisa jujur.
“Jadi, alasan kamu menyelamatkan aku dan Raja, apakah ada sesuatu? Kau mengetahui ayah kandung Raja?”
“Ya, aku tahu Hafisa.”
“Kau tahu?” Mata Hafisa terbelalak, tangannya sampai bergetar. Dia membekap mulutnya sendiri. “Lalu, apa yang terjadi di masa depanku waktu itu?”
“Kau menjadi artis papan atas dengan kehebatanmu sendiri, namun hancur karena kemunculan putramu, dan gosip semakin menyebar mengatakan kamu pelakor. Kamu menghilang setelahnya, bersama putramu.” Qiram menghela nafas. “Dan aku-- membenci pria yang menghamilimu itu, Hafisa. Pria bajingan yang pandai bersilat lidah. Oleh karena itu, aku mendukungmu yang berbakat terjun di dunia hiburan, dan Raja akan aku lindungi sebagai anak ku. Apalagi, sekarang kita sudah menikah, aku sudah meminta tolong pada teman-teman yang bekerja di data kependudukan, Raja dan Pangeran anak kita dalam kartu keluarga.”
Hafisa menitikkan air mata. “Makasih Qiram, kau sudah membantu dan memikirkan masa depanku dan Raja begitu jauh.”
“Hafisa, walaupun kita menikah tidak saling cinta. Aku bukan pria jahat yang tidak bertanggung jawab. Kau istriku sekarang, ini semua bukan masa depanmu dengan anakmu, tetapi masa depan kita dengan anak kita. Kamu paham?”
__ADS_1
Hafisa langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Qiram.