
Teriakan pria itu diabaikan oleh Dokter Aini Farha, ia memilih masuk kembali ke dalam ruang kerjanya, di sana masih ada Qiram dan Jecky yang di obati Yona.
“Udah selesai?” tanya Yona melirik Aini sekilas.
“Hm...” Hanya gumaman yang terdengar dengan wajah ditekuk.
“Dok, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Saya sudah lapar, sejak tadi belum makan. Dokter sebentar lagi jam istirahat 'kan?” ajak Qiram.
Dokter Aini mengangguk setuju, ia memilih pergi karena moodnya benar-benar buruk setelah berjumpa kekasihnya. Ada rasa kecewa, sedih, takut dan tak rela bercampur jadi satu. Ia masih sayang, tapi sudah muak. Ia masih cinta tapi kesal, ia masih peduli tapi tak ada harapan lagi jika bersama pria itu. Lelaki egois yang manja tak pernah berniat ingin berubah.
“Guru, kau duduk dibelakang, ya.” pinta Qiram.
“Baik, Tuan Muda.” sahut Jecky.
Mobil Qiram sebenarnya hanya bisa ditempati untuk dua orang penumpang, dibelakang hanya untuk barang-barang. Tetapi, karena mereka bertiga, Jecky harus duduk di belakang di tempat barang-barang.
“Dokter mau makan dimana?” tanya Qiram melirik Aini sekilas sambil menyetir mobil.
“Terserah saja.” sahutnya.
Qiram akhirnya memilih berhenti disebuah restoran mahal. Mereka memarkirkan mobil dan berjalan ke arah restoran. Saat hendak masuk, ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu.
“Woy, Qiram! Lu ngapain kemari? Ada uang Lu?” Pria itu menepuk pundak Qiram.
“Bob, Lu gak lihat! Dia itu sopir!” balas teman satu lagi mengejek.
“Ahahaha, iya sih! Gimana bisa makan di restoran mahal begini anak yatim miskin mah!”
Pria itu mendekat ke arah Dokter Aini Farha dan Jecky. “Nona, Tuan, saya ingatkan ya, dia ini, dulunya pencuri, suka mencuri uang di laci kelas dan memungut sisa makanan. Ahahahha! Nona dan Tuan jangan lengah, ya, takutnya nanti dia mencuri barang-barang kalian!” ucapnya tertawa.
Dia adalah Bobi, memiliki rambut tebal dan giginya sedikit tonggos. Sedangkan di sebelahnya bernama Roni dan Feri, sejak dulu menjadi kaki tangan Bobi.
“Tolong jaga bicara Anda, Tuan. Dia adalah Tuan Muda saya, bukan pencuri apalagi pemulung.” balas Jecky.
“Hah? Tuan Muda? Ahahahha!” Bobi tertawa terbahak-bahak. “Kalau begitu, wanita ini siapa?” Ia melirik Dokter Aini dari atas sampai bawah.
__ADS_1
“Nona ini teman Tuan Muda saya.”
“Oh, teman! Cakep juga temanmu, Ram! Boleh di coba?” Bobi mendekat, ia mengelus bahu Dokter Aini yang tertutup pakaiannya.
Plak! Dokter Aini menepuk dan menepis tangan Bobi yang tidak sopan itu.
“Galak juga!” Bobi hendak menyentuh wajah Dokter Aini.
Brugh! Qiram langsung memukul perut Bobi.
“Sialan! Hajar mereka berdua dan tangkap wanita ini untukku!” teriak Bobi pada Feri dan Roni.
Jecky melawan Roni, sedangkan Qiram melawan Feri.
Jecky melompat dan memelintir kepala Roni hanya dengan dua kali gerakan, Roni tak lagi bergerak dan langsung pingsan. Lalu, ia menantang Bobi dengan memainkan jari telunjuknya.
“Sialaaan! Rasakan ini!” Bobi berlari dan memukul Jecky. Akan tetapi, Jecky mengelak dan menangkis tangan yang sedang mengincar perutnya. Tangan Bobi dan Jecky sama-sama lincah, mereka sama-sama mahir untuk mengelak dan bertinju.
Qiram tak mahir dengan gerakan tinju, namun tubuhnya yang bongsor sudah membuat Feri kewalahan saat ditindih oleh tubuh berbobot 150 kg itu. Qiram duduk diatas tubuh Fery, menjambak-jambak rambut dan memukul Fery.
Bobi pun pingsan setelah mendapatkan pukulan tepat di matanya dari Jecky. Dokter Aini pun juga telah berlari sejak mereka mulai bertarung dan meminta tolong pada orang-orang yang ada di restoran. Satpam telah mengikat mereka yang dalam keadaan pingsan dan memanggil polisi.
“Tuan Muda, nanti aku ajarin jurus, ya.” bisik Jecky saat mereka hendak masuk ke dalam restoran.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Dokter Aini cemas menghampiri keduanya.
“Tidak apa-apa, Dok. Maaf ya, jadi terganggu acara makan kita. Ayo, kita harus segera masuk dan memesan makanan.”
Mereka pun segera masuk dan memesan ruangan VIP. “Kenapa makan di ruangan ini?” tanya Aini.
“Biar lebih nyaman dan tidak diganggu lagi, Dok. Lagian tubuhku berkeringat begini, nanti bikin yang lain gak nyaman.” jawab Qiram.
“Selamat Tuan, Anda memiliki satu keberanian dengan kekuatan awal, Anda berhak memiliki 10 juta rupiah. Anda telah mengalahkan 1 orang musuh dari 3 orang musuh, membuat dia terluka dan pingsan. Anda berhak memiliki 15 juta rupiah.”
‘Saldo Anda Rp. 345.526.000,00.’
__ADS_1
‘Eh, tumben notifikasinya muncul sedikit terlambat?’ gumam Qiram dalam hati. Ia tersenyum kecil. Keberanian? Semakin muncul rasa berani Qiram, saat melihat pendapatannya bertambah 10 juta hanya karena sebuah rasa berani.
‘Ahahaha! Kalau begini, aku bisa kaya raya.’ Ia tersenyum-senyum sendiri. Jecky yang duduk di sampingnya, melihat arah mata Qiram.
Ia tatap piring itu. “Tuan Muda, tidak ada apa-apa di piring ini? Kenapa Anda tersenyum sendiri saat melihat piring ini?” tanyanya bingung.
“Hah?! E-eh, itu, aku hanya tersenyum mengingat sesuatu kok.”
Makanan pun datang, mereka makan dengan lahap. Setelah selesai makan, ia mengantar Dokter Aini kembali ke klinik.
“Dokter, aku tidak bermaksud apa-apa, aku minta maaf sebelumnya jika lancang.” Qiram menjeda ucapannya sebentar, membuat Aini berdebar menantinya.
“Jika Dokter memiliki masalah, apapun itu, tentang klinik ini atau hal lainnya. Tolong beritahu, aku akan berusaha semampuku membantumu, Dokter.”
Aini memicingkan matanya. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku hanya ingin membantumu, Dok. Percayalah, tak ada maksud apa-apa. Aku mohon, beri tahu aku. Aku pasti membantumu dan jangan khawatir, aku tak akan meminta hal apapun sebagai balasannya, kecuali tetaplah menjadi temanku. Teman yang mengobatiku saat aku sakit seperti ini.” Qiram menunjuk wajahnya yang memar.
Dokter Aini tersenyum. “Baiklah. Sekali lagi, makasih, ya, sudah ajak makan bersama dan berniat membantuku.”
~~
Qiram melajukan mobilnya ke tempat dealer mobil bersama Jecky, sepanjang perjalanan tadi, ia tersenyum. Ia berharap, Dokter Aini akan menelfonnya nanti jika permasalahan klinik itu muncul, setidaknya kejadian itu akan terjadi beberapa bulan lagi.
Sesampainya di dealer, ia melihat beberapa mobil bak terbuka. “Guru, mana menurutmu yang bagus?” tanyanya pada Jecky.
“Menurutku semuanya bagus, Tuan Muda. Tapi lebih bagus warna hitam ini.” jawab Jecky.
“Ah, kalau begitu aku ambil ini. Harganya berapa?” Qiram menoleh pada SPG mobil dan bertanya.
“Ini Isuzu Traga harganya Rp. 198.000.000.00,-” jelas SPG itu. “ataukah Tuan mau lihat yang lain, harga jauh lebih rendah juga masih ada, Mitsubishi L300 Cab Cassis dengan harga 173 juta. Ada lagi, Mitsubishi L300 standard 177 juta dan Mitsubishi L300 Faltdeck 179 juta.” jelas SPG itu.
“Aku mau Isuzu Traga.” jawab Qiram.
Akhirnya Qiram membeli dan menandatangani surat-surat mobil itu.
__ADS_1
‘Saldo Anda Rp. 146.526.000,00.’
Qiram tersenyum dan menuju ke kios tempat Lil O berjualan. Ia telah mengurangi jumlah uangnya 199 juta untuk membeli mobil baru 198 juta dan satu juta lagi untuk makan bersama dengan Dokter Aini tadi.