Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Perusahaan Otomotif


__ADS_3

Bukan hanya perumahan Duta Mas yang di cek oleh Qiram, tetapi juga bangunan untuk perusahaan otomotif yang sedang dikerjakan pekerja di tempat yang lain, sedikit jauh dari perumahan Duta Mas.


Qiram tersenyum dan berharap, semua berjalan seperti masa lalu. Maka, perusahaan otomotif yang dia bangun di tempat sedikit terpencil dan sepi ini akan berkembang pesat dan menghasilkan banyak uang. Belum lagi agensi untuk Hafisa dan klinik kesehatan untuk Dokter Aini Farha, lalu di samping kanannya yang beberapa hari lagi selesai untuk klinik hewan Raina Ozra.


Qiram masih saja dengan tersenyum lebar, sebuah mansion dan helikopter di kota Intan ia miliki dengan percuma, sama seperti mobil Lamborghini Veneno, hanya sebuah hadiah tanpa kerja keras. Nikmat dunia mana lagi yang harus dia dustakan? Kehidupan keduanya adalah kehidupan yang paling istimewa.


“Pak Qiram!” Seorang pemuda berjalan mendekat ke arahnya.


“Oh, kau Ranto!” sapa Qiram tersenyum.


“Apa Pak Qiram ingin melihat bangunan? Mau aku antar?” tanyanya.


“Ah, tidak usah, Ranto! Aku percaya padamu, aku kemari hanya sekalian karena melewati jln ini, jadi mampir melihat. Semuanya berjalan lancar 'kan?" jawab Qiram dengan pertanyaan diakhir kalimat.


“Iya Pak Qiram, semuanya berjalan lancar, mungkin kurang lebih dua bulan lagi akan selsai,” jelas Ranto. Qiram mengangguk mendengarnya.


★★★

__ADS_1


Ranto, pemuda di kehidupan Qiram di masa lalu adalah seorang yang pintar, dia kesusahan mencari pekerjaan ke sana kemari. Suatu hari, Qiram pernah bertemu dengannya di tepi jalan, dia terduduk menangis, lamaran pekerjaannya selalu ditolak. Qiram waktu itu juga sama buruk nasibnya dengan Ranto, dia sedang tidur bergeming dengan alas karton.


Perut Qiram berbunyi sangat nyaring karena sangat lapar kala itu. Ranto menghentikan tangisnya dan menoleh pada Qiram. Dia membuka tasnya, hanya menemukan satu buah roti gabin yang berisi kelapa di dalamnya. Dia memotong kue itu menjadi dua bagian.


‘Ini ambillah! Kita bagi dua ya! Maaf aku hanya punya ini!’


Qiram mengambil dan memakannya dengan lahap, lalu mereka berbincang-bincang, Ranto seorang sarjana otomotif, dia anak pertama, memiliki tiga orang adik yang masih kecil-kecil, ayahnya baru saja meninggal tiga bulan yang lalu, dia memiliki seorang ibu penjual sayur keliling, karena itu dia menangis pilu saat semua perusahaan menolaknya. Dia ingin membatu ibunya mencari nafkah untuk mereka bersama.


Lama tak bertemu, dua bulan sebelum Qiram mati, dia melihat dari kejauhan kalau Ranto sudah bekerja, dia bekerja di perusahaan otomotif yang dibangun Qiram sekarang.


Qiram mendengar dan bertanya pada orang-orang sekitar. Ranto menjadi asisten dan wakil pemilik perusahaan otomotif karena dia pintar, jujur, dan baik hati. Suka membantu orang-orang di sekitar perusahaan yang dia temukan.


Bedanya, dikehidupan kali ini, Qiram bukan lagi pemuda menyedihkan yang diberikan setengah roti, tetapi orang yang akan membalas budi setengah roti. ‘Hei,’ sapa Qiram sambil menepuk bahu Ranto yang berguncang.


“Aku perhatikan kau menangis sejak tadi, ada yang bisa saya bantu, Teman?” Qiram menatap Ranto yang juga menatapnya dengan mata merah berair.


‘Aku sudah berusaha, tetapi aku selalu gagal....’ lirih Ranto menjawab.

__ADS_1


“Oh, bisakah aku melihat CV mu?”


Ranto langsung menghapus air matanya, bergegas memperlihatkan lamaran pekerjaannya pada Qiram.


Qiram melihat itu secara seksama, dia kagum sekali. “Jujur, aku tak terlalu paham, aku hanya seorang pemuda tamat sekolah menengah atas, tetapi aku memang mencari seorang pemuda sarjana otomotif, aku sedang membangun perusahaan otomotif. Jika kamu mau, mari ikut denganku, jika merasa cocok, kau bisa bekerja denganku dan bernegosiasi tentang kinerja dan gajimu, bagaimana?" tutur Qiram.


Ranto langsung berdiri dan bersemangat. Itulah awal pertemuan Qiram dan Ranto yang kini tengah berdiri di hadapannya. Pemuda itu mengetahui setiap mesin dan seperti apa seharusnya di bangun, dimana di tempatkan barang-barang dan lainnya. Qiram tak terlalu menguasai bidang ini, sehingga semuanya, sepenuhnya, ia serahkan pada Ranto.


★★★


Qiram menepuk pundak Ranto. “Kau sudah bekerja keras, aku suka dan percaya padamu! Oh ya, apa ada yang masih kurang?”


“Untuk saat ini saya tidak bisa memprediksi Pak. Soalnya ini belum terlalu rampung,” jawabnya serius. “Apa Bapak tidak ingin melihat-lihat dulu untuk memastikan?” ajak Ranto.


“Ah, baiklah, sekalian aku menunggu jemputan!” jawab Qiram akhirnya bersedia.


Ranto dan Qiram menyusuri bangunan yang sudah selesai lebih dari separuh itu, sambil menunggu Jecky menjemput, karena Qiram berpesan untuk meminta di jemput, soalnya taksi online akan susah masuk ke daerah ini, karena terbilang masih sepi.

__ADS_1


Tadi, karena dia memesan taksi dari Duta Mas makanya bisa, namun tidak untuk langsung datang ke daerah ini.


__ADS_2