
Qiram masih memijat-mijat kepalanya, ia masih bingung dengan semuanya. Ia hidup kembali dengan hadiah dari sang Ibu yang memberikan dia banyak keberuntungan.
“Tuan Muda,” Gippong menggesekkan hidungnya dilengan Qiram, membuat bulu remangnya berdiri tegak.
“Ka-kamu ngapain?! Jangan menggesek wajahmu seperti itu padaku!” serunya terbata karena merasa geli. Gippong pun duduk diam dengan patuh.
“Guru, apakah otaknya juga bergeser seperti kucing saat menjadi manusia seperti ini?” tanya Qiram menatap Jecky.
“Karena telah lama menjadi kucing, ia sampai lupa bagaimana caranya menjadi manusia, harap Tuan Muda mengerti.” jawab Jecki.
“Oh, begitu.”
Semuanya pun kembali ke kamar masing-masing, kecuali Gippong. Ia terus mengikuti Qiram.
“Ka-kau, ngapain ikuti aku?!” Qiram baru tersadar saat ia hendak menutup pintu setelah Lil O masuk ke dalam kamar.
“Tidur dengan Tuan.” jawab Gippong polos.
Ya, biasanya kucing hitam itu selalu tidur dengan Qiram, dimanja-manja dan dielus.
“Tidak bisa, selama kau menjadi manusia, tidurlah bersama Hafisa! Pergi ke kamarnya sana!” usir Qiram.
Gippong berwajah sendu, dengan patuh ia berjalan gontai pergi ke kamar Hafisa.
Pagi pun datang menyapa.
Jecky dan Lil O telah memasak bersama sejak pagi. Hafisa dan Qiram baru turun saat mencium bau lezat dari makanan yang dimasak dilantai bawah.
“Kau sudah bangun?” sapa Lil O. Ia tengah menghidangkan nasi goreng telur di atas meja.
“Meong! Meong!” Gippong langsung mengelus kan kepala dan tubuhnya pada Qiram. Ia telah kembali menjadi kucing hitam.
Qiram sedikit canggung, ia hanya mengelus kepala kucing itu lembut, tak ingin menyentuh bagian tubuh lainnya, apalagi menepuk-nepuk pantat kucing itu seperti biasa ia lakukan.
“Lil, kau mau jualan tidak? Semua masakan yang kau masakan untukku sangat lezat, benar 'kan Hafisa?” Qiram meminta persetujuan pada Hafisa.
“Benar, Lil O.” jawab Hafisa.
“Kalau kau mau, bagaimana jika kita melihat-lihat kios di sekitar sini. Sewa tempat dan modal awal biar aku bantu, kau jangan khawatir.” terang Qiram.
__ADS_1
“Aku tidak mau selalu merepotkan dirimu, Qiram!”
“Itu bukan merepotkan, tetapi membantu. Jika kau bekerja, kita berdua bisa menabung. Aku punya uang untuk modal jualan. Emas batangan milikku pun belum dijual. Bagaimana?”
“Hm, baiklah.”
“Ok, kalau begitu, setelah makan kita pergi melihat-lihat kios.”
“Bisakah Anda juga membawa saya, Tuan Muda?”
“Kau ingin ikut? Tetapi, bagaimana dengan bayi itu?” tanya Qiram.
Jecky, Qiram dan Lil O menatap Hafisa.
“Hm, baiklah, karena kalian ada urusan penting, aku akan merawat bayi ini. Lagian, aku juga ada teman, jadi aku tidak kesepian.” Hafisa menatap kucing hitam yang duduk manis menatap mereka makan.
“Iya, saya Lil O.”
“Betul, saya mendapatkan nomor Bapak tertempel di pintu rolling ini.”
“Iya, baik. Kami akan ke sana.” ucap Lil O.
“Bagaimana?" tanya Qiram.
“Bapaknya tidak bisa menemui kita karena dia sakit, jadi dia minta tolong temui dia ke rumahnya saja.” jelas Lil O.
“Ok, ayo, kita ke sana!” Qiram melajukan mobilnya ke alamat yang disebutkan bapak tadi.
Mereka sampai ditempat pemilik kios itu, berbincang tentang harga sewa dan lainnya. Lil O senang karena lampu dan air sudah termasuk di dalam sewa, jadi ia tak mengeluarkan uang lagi setelah membayar uang sewa.
Tak lama, anak laki-laki Bapak itu pulang.
“Ini putra saya, perkenalkan. Dia akan menunjukkan bentuk di dalam kios.” ucap Bapak itu. Tadi, ia langsung menghubungi putranya untuk membantunya.
Putra Bapak Pemilik Kios itu pun mengiringi mereka ke kios miliknya. Lalu, membuka kios itu, menunjukkan bentuk kios itu.
“Wah, ini cocok. Kami akan membayar sekarang, mulai besok kami akan berjualan di sini.” ucap Qiram. “Kirimkan rekening bapaknya, saya akan mentransfer.” lanjut Qiram lagi.
Sewa kios 4,5 juta pertiga bulan. “Sudah sukses!” ucap Qiram.
‘Saldo Anda Rp. 120.526.000,00.’
__ADS_1
“Terimakasih, Pak. Uangnya sudah masuk. Semoga dagangannya laris nanti.” ucap pria muda itu ramah. Mereka pun bersalaman.
“Nah, sekarang, ayo, kita membeli perlengkapan, kursi, meja, wallpaper dinding dan neon box.” ujar Lil O bersemangat.
Mereka pergi berbelanja, memesan kursi dan meja terlebih dahulu, kemudian alat-alat masak, piring, sendok, garpu dan gelas, alat pecah belah lainnya serta sembako.
Mobil Qiram hanya bisa membawa barang-barang sembako untuk persiapan jualan besok, sedangkan yang lainnya diantarkan oleh karyawan toko dimana mereka berbelanja.
“Lil, kamu bisa sendirian 'kan? Aku harus membeli sesuatu dulu, sekalian aku pesankan neon box dan wallpaper dinding.”
“Ok!” sahut Lil O. Ia sedang asik mengecat dinding dan loteng kios itu dengan warna putih agar terlihat terang.
Qiram pergi bersama Jecky, ia memesan neon box, kemudian membeli walpaper dinding.
“Apa saja yang harus aku beli untuk latihan bela diri, Guru?” tanya Qiram pada Jecky.
Qiram membeli beberapa alat untuk latihan, salah satunya Wooden Dummy, barbel, Kinetic Treadmill dan lainnya.
Ia menghabiskan 25 juta untuk semuanya, dari alat-alat untuk jualan dan persiapannya belajar ilmu bela diri.
“Tolong antarkan ke alamat ini semuanya ya, Pak.” pinta Qiram.
‘Saldo Anda Rp. 95.526.000,00.’
“Baik, Pak.” jawab karyawan toko itu.
“Guru, bagaimana kalau kita beli makanan dulu.” ajak Qiram.
“Iya, Tuan Muda.” sahut Jecky.
Qiram membeli makanan di pinggir jalan, warteg yang cukup ramai.
“Woi, bayar!” Beberapa preman meminta uang pada penjual.
“Tapi kami sudah membayar seminggu yang lalu.” jawab pria tua pemilik warteg itu.
“Jangan pelit Tua Bangka! Daganganmu laku keras, tentu saja kau harus membayarnya lebih!” Preman itu menarik baju pria tua itu.
Qiram hanya diam, yang lainnya juga, bahkan mereka buru-buru menghabiskan makanan.
“Mana uangnya!”
“Tidak ada.”
Preman itu menarik paksa laci uang milik pria tua itu. Jecky langsung berdiri, memegang tangan preman.
“Kau mau jadi jagoan?!” Preman itu mendelik.
Bruk! Preman itu langsung menyodorkan tinjunya pada Jecky, namun dia mengelak dan membalas dengan pukulan.
“Aucwh!” Ia mengerang kesakitan saat tangannya di pelintir oleh Jecky.
‘Guruku sangat hebat!’ Mata Qiram langsung berbinar melihat perkelahian yang tak seimbang itu.
Tiba-tiba gerombolan preman itu bertambah banyak. “Pak, kemas uang dan barang-barang pentingnya dulu!” ucap Jecky. Ia bersiap dengan kuda-kudanya, menanti gerombolan preman.
“So-Soleman!!” gumam Qiram. Di dalam gerombolan preman itu, ia melihat pria yang membunuhnya dikehidupan yang lalu. Tangannya langsung berkeringat dingin, dadanya berdebar-debar. Cemas karena trauma dikehidupan yang lalu.
__ADS_1