
Hafisa dan Qiram tidur sekamar tanpa melakukan apapun di malam pengantinnya. Bahkan pernikahan nya telah berlalu beberapa hari. Qiram langsung sibuk dengan aktivitasnya, Hafisa pun juga mulai menggeluti cita-cita nya, menjadi artis terpopuler.
Raja dan Pangeran di asuh oleh dua baby sitter dan Tuan Jecky. Sedangkan Lil O, dia juga sibuk dengan usahanya, dia membuka restoran baru, setelah dagangannya laris manis di kios yang dibelikan Qiram waktu itu.
Hari ini, Qiram berkunjung ke pulau Skyland, karena nanlnti malam adalah malam 14 purnama yang sempurna.
“Hari ini, anakmu lahir.” Tuan Beneno, Kakeknya Qiram memulai pembicaraan.
“Apa maksudnya Kek?” tanya Qiram bingung. “Bukannya Pangeran anakku? Anak yang mana lagi yang lahir?”
“Sebenarnya, hari ini dia lahir, jiwa nya akan pergi ke raganya. Dan Marissa akan pergi untuk selamanya,” jelas Tuan Beneno menatap kelompok Marissa yang sibuk melakukan sesuatu di dalam kolam, sedangkan Marissa hanya duduk di dalam kolam itu. Hanya kepalanya yang muncul ke permukaan.
“Maksudnya, sekarang Marisaa akan melahirkan sesungguhnya?”
“Iya,” jawab Kakek. “Begitu pula Kakek, Kakek akan segera pergi jauh juga untuk selamanya.”
__ADS_1
“Apa maksud kakek? Jangan membuat aku terlihat jelas bodohnya seperti ini Kek. Aku memang bodoh.”
Tuan Beneno merangkul pundak Qiram. “Bukankah kakek sudah cerita, jika anakmu akan lahir. Yang di rawat sekarang hanya cangkang kosong, makanya dia tidak bertumbuh, tetapi setelah ini dia akan bertumbuh dengan cepat dan besar. Begitu pun, umur kakek tidak akan lama, karena Kakek membangkitkan kekuatan ibumu yang tersegel di dalam guci. Ketika guci berubah dan menghilang, berarti Kakek juga akan menghilang,” ujarnya.
Qiram menatap Tuan Beneno dengan seksama. “Kenapa Kek? Apa tidak bisa diperbaiki? Marissa atau Kakek....” lirih Qiram.
“Tidak, ini sudah takdirnya Qiram. Jagalah anak dan istrimu.”
Malam pun datang, tepat di bawah bulan purnama yang bulat sempurna. Semua kelompok Marissa mengelilinginya di tengah kolam. Qiram dan Tuan Beneno hanya melihat di tepi kolam.
Cahaya keemasan itu pun terbang ke atas dan menghilang. Perlahan, semua kelompok Marissa yang mengelilinginya juga menghilang sedikit demi sedikit.
“Marissa!" teriak Qiram. Wanita itu terlihat terkulai lemas.
Byur! Qiram langsung melompat ke dalam kolam.
__ADS_1
“Qiram!” teriak Tuan Baneno. “Ka---” Dia menghentikan ucapannya, akhirnya dia memilih untuk memunggungi Qiram yang memeluk Marissa.
“Marissa! Apakah tidak ada cara lain? Aku mohon!” Qiram memeluk erat Marissa yang semakin melemah.
“Qiram, aku bahagia pernah mengenalmu di kehidupan pertama dan kehidupan kedua ini. Jika ada kehidupan ketiga, maka aku masih ingin bersamamu, aku tidak akan pernah menyesal. Tolong jaga anak kita ya....” Suara Marissa semakin memelan.
Perlahan, tubuhnya berangsur menghilang, dimulai dari kaki hingga terakir di kepala yang dipangku Qiram.
Qiram bersandar di dinding kolam, tak ada air mata, tetapi hati dan pikirannya benar-benar kacau. Bukan maksud hati untuk menyakiti perempuan yang pernah dekat dengannya. “Maafkan aku Marissa....” lirihnya.
Beberapa menit berlalu, Qiram masih tampak bengong di sana, menatap telapak tangannya yang memeluk Marissa tadi. Akhirnya, Dua orang bawahan Tuan Beneno memapah Qiram yang memiliki tatapan kosong cukup lama di kolam keluar dari sana.
“Cucuku, gantilah bajumu. Kau harus kuat! Anakmu Pangeran membutuhkanmu!” Tuan Beneno mengingatkan Qiram.
“Ingat, duniamu masih ada, Pangeran membutuhkanmu.”
__ADS_1