
Qiram berhenti di sebuah toko sembako. Ia mengajak pemilik toko berbincang-bincang.
“Begini Pak, saya hendak membeli beberapa karung beras, gula, minyak, dan lainnya. Apakah bisa mengantarkan ke tempatku?” tanya Qiram setelah berbasa-basi dengan Pemiliki toko.
“Jika Bapak berbelanja di atas 5 juta, kami bisa mengantarnya dengan mobil,” sahut pemilik itu.
Qiram tersenyum, lalu memesan 20 buah karung beras berisi 25kg setiap karungnya, lalu gula dan minyak 40kg masing-masing. Susu, teh, minyak, telur, mie dan lainnya. Qiram mengambil apapun yang ia ingat untuk keperluan. Pemilik toko sampai tersedak ludahnya sendiri. Ia kira Qiram hanya membeli sedikit. Akan tetapi, Qiram hampir memborong seperempat isi tokonya.
“Bisa dapat kortingan gak, nih Pak?” tanya Qiram tersenyum. Mobil bak terbuka pemilik toko itu sudah terisi penuh dan menggunung.
Bapak itu tersenyum, ia menggunakan kalkulator, setelah mengetahui hasilnya, ia mengurangi sebesar 200 ribu rupiah.
“Ah, lumayan lah! Sekalian Pak, aku pesan amplop!” ujar Qiram saat ia mengambil hp di kantong celananya.
Seperti yang sudah diperbincangkan Qiram sebelumnya dengan pemilik toko, di toko ini tidak bisa membayar menggunakan ATM, harus berupa uang tunai dan cash. Akan tetapi, karena Qiram berbelanja banyak, jadi ia membayar menggunakan transferan.
Setelah mentransfer, mereka berdua berjabat tangan.
“Terimakasih banyak, sering-sering lah berkunjung kemari!” ucap sang pemilik toko.
“Tentu Pak, jika saya akan berbelanja lagi, saya akan kemari!” sahut Qiram. Lantas, Qiram beranjak pergi dan masuk ke dalam mobil kerennya yang dikendarai oleh Jecky.
Di dalam mobil, Qiram sibuk memasukkan uang merah dan birunya ke dalam 100 lembar amplop untuk dibagikan. Ia membagi rata 150 ribu setiap lembar amplop. Sedangkan mobil yang berisi sembako mengikuti mereka dari belakang.
Tak lama, sampailah Qiram di tempat kumuh itu. Melihat mobil Qiram berhenti dengan mobil yang kembali sembako, Rezki langsung memanggil pasukannya dengan bersiul.
“Mas, tolong turunkan di sini saja ya, biar Mas bisa segera pulang!” Qiram berucap dengan tersenyum.
Dua orang karyawan toko itu menurunkan semua barang belanjaan Qiram di depan teras rumah seorang nenek yang menjadi Ketua tempat kumuh itu. Setelah selesai, mereka pun berlalu pergi dari sana karena tidak kuat dengan bau sampah.
“Rezki, tolong dibagi rata ya, Kakak sudah membeli semuanya untuk 10 rumah. Beras dua karung masing-masing rumah, minyak dan gula 2 kg dan lainnya, tolong, ya!” pinta Qiram.
__ADS_1
“Iya, Kak!” Rezki tampak berbinar. Inilah kebahagiaan mereka sesungguhnya. Mendapatkan makanan. Qiram pernah berada diposisi seperti ini dikehidupannya yang lalu.
Ia dan Lil O bersembunyi, memakan roti sisa dari tong sampah, menyedihkan.
Qiram langsung menyalami nenek tua yang mengasuh tiga bayi itu, mencium punggung tangannya.
“Aduh, Nak. Kau mencium tanganku yang bau ini!” Nenek tua itu segera menarik tangannya.
“Tidak apa-apa Nenek. Semua tangan itu sama, sama-sama diciptakan Tuhan. Tangan nenek jauh lebih mulia, karena nenek bekerja keras, mencari makan dan merawat tiga bayi dari pada orangtua bayi yang membuang bayinya ini.”
“Kau memang pemuda baik, semoga kau selalu sehat dan murah rezkinya.”
“Aamin. Makasih Nek,” sahut Qiram.
Nenek menatap Qiram lekat. “Kau tampak lebih kurus sekarang? Apa kau bekerja dengan sangat keras demi kami?” Wajah nenek tampak mulai berubah khawatir.
“Tidak Nek, itu tidak benar. Aku bekerja dengan sangat santai. Aku memang sengaja menurunkan berat badanku. Gemuk membuatku susah berjalan apalagi berlari. Aku cepat kelelahan,” jelas Qiram tersenyum kecil.
“Tidak, Nek. Oh, ya Nek. Kenapa tempat ini terlihat sepi?” tanya Qiram menelisik sudut-sudut tempat itu.
“Mereka sebagian sedang berjualan, mengamen dan ada yang dapat kerja menjadi borongan jalan dan bangunan,” terang Nenek. “kami di sini hanya para perempuan dan anak. Bahkan anak-anak sebagian juga sudah mulai mengamen dan berjualan.” lanjut nenek dengan tersenyum.
“Nek, tanah ini ... maaf, maksudnya, tanah ini milik pemerintah atau milik perorangan atau perusahaan?” tanya Qiram hati-hati.
“Tanah ini milikku. Dulu, ini lahanku berkebun bersama suamiku, akan tetapi dia meninggal dikeroyok preman. Sehingga aku sendirian tanpa anak,” sahut Nenek, wajahnya tampak mulai sendu.
“Aku mulai menolong dan membawa dua orang yang juga terlantar awalnya, kemudian semakin bertambah banyak seperti ini. Sampah ini adalah hasil memulung mereka semua untuk mencari makanan dan uang.”
“Oh, aku kira--” Qiram menggantung kalimatnya.
“Kamu kira ini tempat pembuangan sampah umum milik pemerintah?” tanya Nenek itu tersenyum. “aku punya surat kepemilikannya.” lanjut nenek menegaskan.
__ADS_1
“Wah! Bagus dong! Bagaimana kalau kita buat rumah yang lebih besar dari ini!” ujar Qiram antusias.
“Hehehe. Itu bagus, tapi biayanya besar Nak,” jawab Nenek terkekeh kecil.
“Begini Nek, para lelaki bisa bertukang, bahkan para ibu-ibu juga lihai, anak-anak bisa membantu juga. Aku akan membantu membeli bahan-bahan bangunan untuk memperbaiki 10 rumah di sini. Bagaimana?” tawar Qiram.
“Nak, kau terlalu baik. Bagaimana bisa kami membalas kebaikanmu ini....” lirih sang Nenek, air matanya jatuh mengalir di pipi keriputnya. Ia sungguh terharu.
“Cukup dengan Nenek dan semua keluarga yang di sini menganggapmu keluarga,” katanya menyahuti ucapan sang nenek.
Nenek itu memeluk Qiram. “Terimakasih, Nak.”
Setelah berbincang dengan nenek dan ibu-ibu yang ada di sana. Qiram memberikan 100 amplop pada nenek. “Nek, ini 100 amplop untu anak-anak dan ibu-ibu, tolong berikan pada mereka.”
“Ya ampun, Nak Qiram. Apalagi ini? Kamu sudah memberikan kami banyak sembako, sekarang memberikan kami amplop. Sungguh, kami tak tahu bagaimana cara membalas hutang budi ini. Semoga Tuhan memberikan kesehatan, umur panjang dan Rezki yang berlimpah ruah.” Do'a nenek dan ibu-ibu itu sambil menangis.
Setelahnya, Qiram kembali pulang, membelikan Hafisa makanan.
~~
Seperti janjinya pada Nenek, Qiram membeli bahan-bahan bangunan, batu bata, semen, pasir, besi, kayu, seng dan lainnya.
“Nek, saya harap bantuan ini bermanfaat. Mungkin, saya tidak bisa berkunjung kembali dengan waktu lama kemari, karena teman saya sedang membutuhkan saya, dia sedang hamil besar. Saya berharap, Nenek dan semuanya selalu sehat.”
“Terimakasih, Nak Qiram.” Lagi, semua yang ada di sana menangis. Kebaikan yang tak bisa mereka balas, hanya do'a yang mampu mereka lantunkan untuk Qiram.
Setelah pulang dari tempat kumuh itu, ia dipertemukan kembali tanpa sengaja dengan Marissa di sebuah kedai minum di tepi jalan.
“Hallo, Tuan Qiram. Tak disangka kita berjumpa di sini. Saya sangat menantikan Anda menghubungi saya. Bisakah kita makan bersama?” Marissa menatap lekat Qiram.
“Bisa, saya akan segera pulang Tuan Muda. Silahkan habiskan waktu Anda berdua dengan Nona Marissa!” ucap Jekcy. Pria itu langsung berdiri dan membawa pergi mobil keren Qiram, meninggalkan dirinya sendirian.
__ADS_1
‘A-apa maksudnya ini? Kenapa guru bersikap aneh, bisa-bisanya dia meninggalkan aku?’ gumam Qiram dalam hati. Marissa tersenyum manis menatap ya saat ia menatap Marissa.