Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Professor


__ADS_3

Setelah sedikit berbincang dengan Asrul dan cucunya, Qiram kembali ke tempatnya, dimana Jekcy telah menunggu dan memperhatikan mereka sejak tadi.


“Apa Anda kenal dengan Bapak itu, Tuan?” tanya Jecky penuh selidik.


“Tidak. Baru berjumpa hari ini, aku pikir dia teman ayahku, rupanya aku salah orang.” bual Qiram.


“Oh...” Jecky masih menatap aktivitas Asrul yang menyantap rujak kaki lima diseberang sana bersama cucunya.


“Kenapa Guru menatapnya begitu? Apa Guru kenal?” tanya Qiram.


“Tidak terlalu. Tetapi, alangkah lebih baiknya, Anda jauhi Professor itu. Ia tak selembut dan polos seperti yang terlihat.” tutur Jecky, pandangan matanya masih menatap tajam ke arah Asrul.


“Kakek itu, Professor?” tanya Qiram.


Ia mengerutkan keningnya. ‘Dikehidupan yang lalu, dia hanya pembeli barang antik. Apakah status sebenarnya, dia adalah profesor? Apakah kehidupan masa laluku juga berhubungan dengan guru? Guru terlihat geram menatap kearah dia.’ gumam Qiram.


‘Mungikin saja, soalnya guru adalah hadiah yang diberikan guci emas padaku. Berarti guru juga memiliki hubungan dengan kehidupanku di masa lalu.’ Qiram masih larut dalam pikirannya.


“Ya, bisa dibilang begitu. Dia seorang Profesor Sejarahwan. Peneliti barang-barang langka, antik dan unik. Saya harap, Anda menjaga jarak, bahkan jangan berbincang dengannya lebih dari 10 menit, Tuan.” jelas Jecky.


Qiram menatap Jecky serius. “Apa guru memiliki dendam dengannya?”


“Bisa dikatakan iya, bisa dikatakan tidak. Tuan, saya hanya berharap, Anda akan baik-baik saja...” ucap Jecky, kemudian ia menoleh menatap bayi Pangeran, mengelus wajah itu penuh sayang.


“Pangeran, kau juga menginginkan itu 'kan?” tanya Jecky pada bayi mungil itu.


“Meong! Meong!” Malahan Gippong yang menyahuti dan bermanja mengeluskan kepalanya ke tangan Qiram.


Masih berbincang, namun obrolan mereka terhenti saat melihat keributan dari kejauhan. Beberapa orang berlari menyelamatkan diri. Ada yang melawan, tapi dipukul hingga pingsan.


“Ada apa itu, Guru?” tanya Qiram penasaran.


“Ayo, kita pergi dulu! Ada Pangeran dan Gippong bersama kita. Kita akan kesulitan, Tuan!” ajak Qiram. Mereka pun bersiap pergi, hendak menuju ke arah mobil mereka terparkir.


“Berhenti!” teriak salah satu diantara mereka. Namun, Jecky dan Qiram tidak mengindahkan, mereka terus bergegas pergi.

__ADS_1


“Brengseek! Apa kalian ingin mati, hah?! Berani sekali kalian mengabaikan perintah Bos!” seru salah satu diantara mereka, ia langsung mengeluarkan goloknya.


Wush! Angin berhembus di daun telinga Qiram. Hampir saja, golok itu mengenai kepalanya. Untungnya, Jecky dengan cekatan menarik Qiram.


“Tuan Muda, bawa Pangeran dan Gippong ke dalam mobil. Saya akan menahan mereka, cepat!” pinta Jecky.


Qiram menggendong Pangeran dan Gippong, lalu berlari ke arah mobil. “Kalian anjing liar yang tidak patuh pada tuannya, rasakanlah ini!” Terdengar makian dari pria itu.


Dua golok siap ia gunakan ditangannya hendak melukai Jecky dengan tangan kosong tanpa senjata. Beberapa teman lainnya semakin bertambah banyak dan berkumpul mengepung Jecky. Mereka semua memiliki senjata, pisau, parang, golok, kayu, balok dan lainnya.


Qiram memasukkan Pangeran dan Gippong ke dalam mobil. “Gippong, tolong jaga Pangeran!” perintahnya pada kucing hitam itu.


“Meong!” sahutnya.


Qiram mengambil pentungan yang terletak di jok mobil, kemudian mengunci mobil, berjalan ke arah Jekcy yang telah terkepung dan dikeroyok.


“Tuhan ... inilah kehidupanku yang sesungguhnya, seberapapun aku mengelak dan menghindar, aku akan bertemu kembali dengan para preman jahat ini. Maka kali ini, aku akan melawan, bantulah aku menjadi kuat! Aaaaa...!” Qiram berlari membawa pentungannya, memukul gerombolan preman itu sembarangan.


“Guru, bertahanlah!” teriaknya lantang.


Trak! Pentungan Qiram beradu dengan balok salah satu preman itu. “Aku harus kuat!” ucapnya menyemangati dirinya. Walaupun di dalam hatinya, ia berpikir bahwa mundur lemah, maju kalah. Setidaknya, dia sudah mencoba.


Tang! Tang! Terdengar suara parang beradu dengan golok, Jecky sudah merebut senjata salah satu dari preman itu.


“Hiyaa!” Jecky menendang dengan meloncat setengah meter, membuat tubuh preman yang ia hajar terbang jauh sejauh 5 meter dari tempatnya semula.


“Woaah!” Tanpa sengaja, Qiram ternganga, berdecak kagum pada Jecky.


“Kau masih bisa memperhatikan sekitarmu, saat nyawamu sudah berada di tanganku.” Terkembang sebuah senyuman jahat dari salah satu preman yang sudah menodongkan goloknya tepat di leher Qiram.


“Hentikan!” teriaknya. Ia mengancam Jecky agar berhenti memukul kawannya yang lain dengan menunjukkan leher Qiram yang ditempelkan golok yang siap melukainya.


Jecky berhenti. Ia menjatuhkan parang yang ia pegang dan menaikkan tangannya ke atas kepala.


“Sekarang, mari kita berunding!” ucap preman itu.

__ADS_1


“Apa yang akan kita rundingkan?” tanya Jecky, matanya menatap penuh selidik, mencari celah agar bisa menyelamatkan Qiram.


“Sepertinya kami keliru, mengira kalian bagian dari Asrul. Tidak disangka, kalian hebat juga.” pujinya. “Sebagai ganti atas kecerobohan kami, bagaimana kalau kalian bergabung dengan kelompok kami?” ajak preman itu.


Jecky masih diam.


“Kelompok Ula Tinanggang adalah kelompok besar, kita bisa menguasai daerah ini, kalian akan memiliki banyak uang dan wanita untuk bersenang-senang.” jelas preman itu, Jecky dan Qiram masih diam mendengarkan. “Kulihat, sigendut ini bisa dekat dan mengobrol dengan Asrul, bagaimana jika kalian menjadi mata-mata Professor itu? Mudah 'kan?”


Jecky mengedipkan mata kanannya tiga kali, menggerakkan pipi kiri 2 kali. Qiram membalas dengan mengedipkan mata tiga kali.


“Bagaimana jika kami tidak mau?” jawab Jekcy.


“Kalian akan rugi dan menyesal.” ancam preman itu.


“Cih! Kalian salah orang, kami memiliki banyak uang dan wanita, tidak perlu bekerja jadi bawahan siapapun.” balas Jecky meledek. Kemudian mengedipkan mata.


“Siala-aaakhh!!” teriak preman itu. Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, pisau kecil yang diselipkan Jekcy di tangannya ia lempar dan menancap di mata pria itu. Tepat pisau terlempar, Qiram merunduk ke arah kanan.


Secepat kilat, Jecky telah berada di depan, menggesek kulit leher preman itu sedikit, mengancamnya. “Aku bisa memutuskan lehermu detik ini juga. Kami bukan bawahan siapapun, tidak ada satu orang pun bisa memerintah kami.” Ancam Jecky.


“Tu-tunggu!” seru pria itu gagap. Dia cemas. Melihat bagaimana ahlinya Jecky, ia yakin tak bisa mengalahkannya, apalagi dengan satu mata yang terluka oleh pisau barusan.


“Kita bisa bicara baik-baik pendekar...” lirih preman itu, ia mulai ketakutan saat golok perlahan terus menempel di kulit lehernya memberikan luka dan berdarah.


“Selamat Tuan, Anda memiliki satu keberanian dengan kekuatan awal, Anda berhak memiliki 10 juta rupiah. Anda telah mengalahkan 10 orang musuh dari 30 orang musuh, membuat mereka terluka ringan dan sedang. Anda berhak memiliki 150 juta rupiah.”


‘Saldo Anda Rp. 320.526.000,00.’


“Uhuk! Uhuk!” Qiram tersedak air liurnya sendiri saat mendengar notifikasi dan melihat jumlah saldonya. Matanya terbelalak.


“Tuan Muda?!” seru Jecky cemas.


“Aaakh!” pekik preman itu mengerang kesakitan, karena cemas, tanpa sengaja Jecky menggesek golok sedikit kuat.


“Jika kalian tak ingin mati, pergilah!” Jecky mendorong preman itu.

__ADS_1


Bawahannya segera membawa preman itu dengan menutup leher yang sudah mulai memuncratkan darah.


__ADS_2