
Qiram mengantarkan Aini ke perumahan khusus dokter yang bekerja di kliniknya. Lebih tepatnya, bangunan itu di belakang klinik.
“Aku akan segera mempersiapkan surat-surat untuk pernikahan kita, Dok. Aku akan bertanggung jawab.” Qiram berkata dengan serius, dia menggenggam tangan Aini. Gadis cantik bermata jernih itu hanya mengangguk.
“Kalau begitu, aku kembali.”
“Ya,” jawab Aini singkat.
Setelah kepergian Qiram, Aini bergegas masuk ke dalam, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
“Bagaimana ini? Apakah semua yang ada dalam pikiranku ... hanya hayalanku? Atau memang aku sudah memutar kehidupan dua kali?” Aini bergumam.
“Lebih baik aku pastikan terlebih dahulu!”
Aini berjalan ke dapur, mengambil segelas air dan berkonsentrasi penuh. “Air terangkatlah!” perintahnya menatap air yang berada di dalam gelas.
Tak ada pergerakan air di dalam gelas itu. “Haaaah, syukurlah, berati itu hanya hayalanku saja, mana mungkin ada kehidupan ke-dua 'kan?” gumam Aini sambil menghela nafas. Namun, tiba-tiba buliran air dari gelas perlahan terangkat sedikit demi sedikit dan lambat, sekaligus muncul rasa kram yang hebat di bagian perutnya.
“Please, jangan bilang ini beneran kehidupanku yang kedua?” Aini menggelengkan kepalanya.
“Ini nggak mungkin 'kan!” Aini memejamkan matanya. Beberapa potong ingatan kembali bermunculan.
__ADS_1
Potongan ingatan saat mantan Aini terus memaksa dirinya agar menikah dengannya, bahkan berniat mem*per* kosa dirinya, tetapi sebuah kekuatan dari dalam perutnya mampu mendorong tubuh mantan kekasihnya, hingga dia bisa melarikan diri.
Aini terus melarikan diri sampai perutnya membesar ke beberapa tempat. Saat perutnya membesar, dia memiliki banyak kemampuan, sehingga bisa pergi ke luar negri di bagian daerah terpencil.
Dia menukar data pribadinya serta data anak yang dia lahirkan. Dua anak kembar itu memiliki otak yang genius dan kemampuan yang luar biasa. Namun, saat anak itu berumur 3 tahun, sebuah cahaya menyambar mereka berdua.
Cahaya kuning keemasan yang melenyapkan semuanya dan memutar kembali kehidupan.
“Jadi, apa ini bisa kupercaya?” pikir Aini.
***
Rangga kembali lagi mendatangi tempat yang waktu itu dia curigai, tetapi pergerakannya di ketahui oleh Roki dan bawahannya. Rangga tidak bisa menemukan apapun lagi.
“Apa Kakak hanya berbisnis tanah gersang, di sini cuma ada gubuk usang dan semak ilalang.” Rangga mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru. “Apa aku terlalu banyak pikiran.” Rangga berpikir.
Roki memandang laptopnya, melihat apa yang dilakukan adiknya. “Dasar anak kecil! Aku sudah menyuruhnya untuk diam di rumah! Jika kemana-mana bawa pengawal. Kau memang bandel, Rangga.” Dia berkata sendiri saat melihat Rangga mondar mandir di sana.
“Hei, kalian berdua!” panggil Roki.
“Ya, Boss.”
__ADS_1
“Usir adikku dari tempat ini, pastikan dia pergi dengan aman, aku tidak ingin dia kenapa-kenapa!” perintahnya.
“Laksanakan, Boss.”
Bawahan Roki menelfon lima orang penjaga yang bersembunyi di bagian tersembunyi gubuk, dia meminta mereka mengusir Rangga secara baik-baik dan jangan melukainya.
“Woi, anak muda! Apa yang kau lakukan di sini?” sorak salah satu dari lima orang itu meneriaki Rangga.
“Ah, maaf, saya tersesat. Tadinya saya sedang mengikuti kakak saya bernama Roki. Saya kehilangan dia di persimpangan jalan depan itu.” Rangga menunjuk gerbang kawat yang berkarat.
“Tidak ada yang bernama Roki di sini. Cepatlah pergi!” usirnya.
“Iya.” Rangga pun patuh pergi, sambil melirik kiri dan kanan.
Setelah dua jam kepergian Rangga. Mereka memastikan kembali lingkungan sekitar sampai jalan di gerbang aman, barulah mereka mulai mengirim pesan di group.
Tiga puluh menit kemudian. Penjual dan pembeli ilegal telah berkumpul. Transaksi jual beli organ tubuh manusia sedang berlangsung. Sayangnya, Roki benar-benar kecolongan kali ini.
Salomon dan kawan-kawan nya yang sudah disiksa dan diberikan obat oleh Helmi di penjara Buang Tai, akhirnya mengaku dimana markas mereka dan bagaimana cara transaksinya.
Helmi menyelinap ke dalam, menjadi salah satu pembeli organ tubuh manusia secara ilegal.
__ADS_1