
Pagi-pagi sekali Jecky sudah membangunkan Qiram dan Lil O.
“Mari Tuan, kita harus berjalan di pagi hari ini, agar lebih sehat.” ucap Jecky menarik selimut dua pria lajang yang tengah tidur di ranjang itu.
Qiram bangun dengan malasnya, Lil O bangun dengan semangat dan juga menyemangati teman yang duduk malas disampingnya. “Ayo, semangat, kita akan latihan untuk menjadi lebih kuat, agar saat bertemu Soleman kita tidak lari dan bersembunyi lagi.” tutur Qiram.
“Hu'um.” jawabnya.
Mereka mencuci muka, memakai pakaian training. Berjalan di sekeliling perumahan kurang lebih satu jam. Setelah itu, mereka kembali ke rumah.
“Tuan Muda istirahatlah dulu sebentar, nanti saya ajarkan cara menggunakan beberapa alat yang dibeli kemarin.” jelas Jecky.
“Ok!” Qiram memilih minum air dingin sambil menghapus keringatnya dengan handuk kecil yang ia gantung di lehernya. Sedangkan Lil O, memilih membuat makanan yang dibantu oleh Hafisa.
Setelah memasak, ia langsung mandi dan bersiap pergi ke kios yang mereka sewa kemarin bersama Hafisa. Gadis itu ingin membantu Lil O memasang wallpaper dinding, menata meja dan kursi kios yang dibeli kemarin.
“Kamu jangan sampai makan telur! Dokter larang makan telur! Aku berangkat ke kios dulu!” teriak Lil O saat keluar rumah.
“Tuan Jecky, tolong perhatikan dia, ya! Dia suka makan pantangan tuh!” Jecky mengangguk mendengar teriakan Lil O.
“Dasar! Udah kayak emak-emak, cerewet!” ujar Qiram tersenyum. Lil O sahabat sejati yang selalu perhatian padanya dari dulu.
Memar di wajah Qiram memang belum hilang sepenuhnya, luka dibawah bibirnya juga masih terlihat basah.
Jecky mulai menjelaskan beberapa alat olahraga yang dibeli oleh mereka kemarin, mulai mengajarkan cara menggunakannya. Qiram manggut-manggut mendengar penjelasan itu.
“Mulai hari ini, setiap pagi dan sore, Tuan Muda harus lari pagi, angkat barbel, wooden dummy dan lainnya. Kita mulai dari per 10 menit saja dulu sampai terbiasa. Kita lakukan perlahan, agar tubuh Tuan Muda tidak terkejut dan tidak mendapatkan nyeri otot. Kemudian, perlahan kita baru menaikan durasinya pertahap.” tutur Jecky.
Ia hanya mengangguk patuh mendengarkan Jecky.
Qiram mulai melakukan gerakan pemanasan dengan merilekan otot untuk permulaan yang dipimpin oleh Jecky, kemudian latihan wooden dummy, angkat barbel selama 20 menit, lalu berlari di kinetic treadmill selama 25 menit.
“Aah! Ahh!” Qiram menghembus nafas. Ia sangat kelelahan, keringatnya bercucuran.
“Tuan Muda, istirahatlah sebentar sekitar 15 menit, barulah Anda mandi.”
“Baik.” jawabnya.
Qiram duduk santai di atas sofa, di ruangan televisi. Di atas meja terletak potongan buah dan air minum yang sudah dihidangkan Jecky.
Bayi kecil yang dipanggil Pangeran masih tertidur pulas. ‘Apa tidak apa-apa meninggalkan Pangeran dengan wujud Gippong, saat ia masih menjadi kucing?’ Begitulah tadi pertanyaan Qiram saat mereka hendak olahraga.
__ADS_1
“Pangeran masih tidur, ya? Baik sekali tingkahnya.” ucap Qiram melihat Jecky yang telah mengambil dan menggendong bayi mungil itu.
“Iya.”
Setelah istirahat beberapa menit, Qiram memilih mandi, lalu merebahkan diri di ranjang. Tak sengaja matanya menatap guci emas kesayangannya. Ia pun kembali bangun, mengelus guci itu.
Di dekat guci itu tergeletak satu kening emas. “Sepertinya emas dari program kemarin deh!” gumamnya, kemudian ia simpan kepingan emas itu. Ia memiliki beberapa keping emas yang belum ia jual.
Matanya masih menatap guci itu, tampak bekas kepingan emas yang sudah lepas dari guci emas yang berada di bagian leher guci. “Hm?!” Qiram semakin memperhatikan guci itu. Kemudian mulai menghitungnya.
“21.” ucapnya. “jadi semua kepingan emas ini 21 buah dengan yang sudah terlepas? Apakah saya hanya punya 21 permintaan saja?” Qiram bertanya-tanya.
“Ya ampun! Selama ini aku sering ceroboh! Aku lebih hati-hati dan perhitungan dalam meminta permohonan! Bagaimana jika kesempatanku telah habis, tetapi aku belum juga menjadi kaya raya dan kuat...?” Qiram meringis sendiri, ia memijat keningnya.
“Aku tak ingin hidup menderita, hina dan miskin lagi...” gumamnya, kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang hingga tertidur lelap.
Saat Qiram bangun, jam sudah menunjukkan jam 2 siang. Jecky tengah sibuk bermain dengan Pangeran.
“Tuan, Anda sudah bangun? Saya sudah menyiapkan makanan Anda, daging dan sayuran.” ujar Jecky.
Daging ayam bagian dada dan sayur lalu buah. Hanya itu makanan Qiram. Ia mengerutkan keningnya. Melihat itu, Jecky menjelaskan, “Tuan, mulai hari ini saya akan menyiapkan makanan sehat untuk Anda. Kita akan membentuk otot dan tubuh Anda menjadi lebih sehat dan kuat.”
Qiram hanya bisa mendesah kemudian memakan makanan itu.
Qiram, Gippong dan Jekcy yang menggendong Pangeran pergi ke alun-alun kota.
“Nah, sekarang Tuan Muda harus berlari 5 kali putaran.” Jecky menunjuk lapangan. Kemudian ia memilih duduk bersama Pangeran dan Gippong memperhatikan Qiram.
Baru saja 2 kali putaran, Qiram sudah tidur tertelentang ditengah lapangan itu karena kelelahan. Jecky berseru menyemangati, yang akhirnya Qiram kembali memutar lapangan itu tiga kali lagi, baru duduk istirahat di samping Jekcy dengan meminum air dingin.
__ADS_1
Saat duduk melamun melepas lelah, ia melihat seorang pria tua yang memiliki uban sedang berjalan digandeng oleh seorang gadis muda. Pria tua itu memakai kacamata tebal, tampak mengobrol dan tersenyum ceria.
“Dia-” Qiram bergumam, melihat pria tua itu tak berkedip. ‘*Aku tak salah lagi! Dia pria yang membeli guci emas ku waktu itu*!’ batin Qiram.
Pria tua itu adalah pemilik toko antik, dia membeli guci emas itu pada Soleman dan Lenggo sebenarnya 300 juta, tetapi dengan kelicikan dan drama Lenggo, pria tua itu juga berpura-pura membayar 20 juta padanya. Mereka bertiga membuat kesepakatan.
Qiram mengetahuinya saat Lenggo keceplosan kala itu. Ia terkejut guci emas itu dibeli dengan harga sangat tinggi.
“Aku curiga, pasti kakek tua ini tahu jika guci emas ku punya kekuatan. Kalau tidak, untuk apa dia membeli semahal itu? Padahal guci emas ini tidak murni dari emas. Hanya bagian lehernya terdapat kepingan emas. Tetapi, dikehidupanku yang dulu batangan emas ini tidak ada.” Qiram bermonolog dengan hati dan pikirannya.
Tanpa sadar, Qiram sudah berdiri dan berjalan menuju pria tua itu. “Pak!” panggilnya.
Pak tua dan gadis yang memegang lengan pria itu menoleh. “Iya, Nak. Ada apa?” tanyanya.
“Maaf, sepertinya aku salah orang. Aku kira ayah temanku.” jawab Qiram yang kembali tersadar dengan kelakuannya.
“Oh. Terkadang wajah orang tua banyak hampir mirip, sama seperti bayi dan balita. Hehehe!” jawab pria itu terkekeh.
“Ah, mungkin Pak. Maaf, menganggu. Nama saya Qiram.” Dia memperkenalkan dirinya.
“Anak yang sopan, nama saya Asrul Hamzah, dia cucuku Gracia Putri.” sahut pria itu.
__ADS_1
Qiram mengulurkan tangan dan berjabat dengan mereka.