Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Marissa Hamil


__ADS_3

Sampailah Dokter Aini Farha dan Qiram di perumahan Duta Emas.


Perumahan itu sudah disulap menjadi tempat agensi untuk Hafisa di sebelah kiri, sedangkan sebelah kanan untuk Aini dan Raina menjalankan praktek.


“Mari, Bu Dokter.” Qiram mengajak dengan sopan.


“Panggik Aini saja!” tegas Aini.


“Heheh, iya, Bu Dokter Aini.”


“Aini!” ulang Aini lagi.


“Iya, hehehehe. Yuk!” ajak Qiram dengan terkekeh kecil.


Qiram berjalan ke arah kanan. “Sesuai janjiku waktu itu, yang kukirim di pesan, bangunannya sudah selesai, tinggal taman depan dan alat-alat medisnya. Sebenarnya, aku mau menemui kamu besok, kebetulan jumpa sekarang, jadi sekarang aja deh.” Qiram memulai pembicaraan nya.


“Bagaimana menurutmu?”


“Kamu serius?” tanya Aini tak percaya.

__ADS_1


“Iya, aku serius! Di sebelah ini akan di buka klinik hewan, d sebelah kiri sana, akan dibuka agensi untuk perfilman.” tunjuk Qiram menjelaskan.


“Hm, kamu yakin memintaku untuk menjadi Kepala klinik kesehatan di sini? Apalagi kamu membangunnya sebesar dan seluas ini! Aku kira, ini bukan lagi klinik, tetapi sudah rumah sakit!” Aini terpana melihat bangunan bercat putih kosong itu, banyak bilik-bilik di dalamnya, bahkan sampai 3 tingkat, dan kini, tingkat ke empat masih dalam proses pembangunan.


Mereka berbincang sambil berjalan-jalan melihat bangunan. “Ya, aku serius Aini. Aku ingin berinvestasi, aku tidak pintar, aku hanya punya uang. Aku ingin membantumu dan aku pun juga terbantu jika kamu bekerja di sini!”


“Tapi aku bukan dokter yang sehebat kamu bayangkan. Aku hanya dokter kecil yang biasa saja Qiram,” jelas Aini.


“Aku tak mengerti dengan dokter hebat atau tidak, yang jelas kamu tamatan sekolah kedokteran, memiliki gelar dokter. Aku hanya seorang laki-laki tamat SMA dengan nilai yang pas-pasan. Aku hanya tahu, kamu adalah dokter dan aku percaya dengan kemampuanmu.” Qiram menatap Aini dengan serius, lalu melempar senyum manis.


“Kalau kamu sudah berkata seperti itu, aku hanya harus membuktikan keyakinanmu agar terwujud 'kan?” Aini memiringkan wajahnya menatap Qiram.


Qiram hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


***


Di suatu tempat, Marissa tengah menggigil, muntah-muntah dan tidak bisa makan.


“Bagaimana?” tanya seorang pria tua pada Dokter pribadinya.

__ADS_1


“Ya, seperti yang diharapkan dan direncanakan Tuan. Nona Marissa tengah hamil, dan itu di pastikan anak Tuan Muda Qiram.” Sang Dokter menjelaskan dengan antusias.


Pria tua itu tersenyum senang, begitu juga dengan Marissa.


“Nona Marissa harus rutin meminum obat ini, lebih bagusnya lagi, jika Anda bertemu kembali dan bersentuhan dengan Tuan Muda Qi-” Dokter pun tidak jadi melanjutkan ucapannya setelah melihat reaksi wajah Marissa dan Pria tua itu.


“Ah, kalau begitu, aku permisi dulu, Tuan, Nona!” pamit sang dokter.


Wajah Marissa menjadi sedih, akhir-akhir ini memang perasaannya sangat mudah berubah, kadang sedih tiba-tiba, bahagia tiba-tiba dan juga marah dengan tiba-tiba tanpa kejelasan.


“Nak Marissa, aku tahu, kau senang, sedih, takut bercampur jadi satu. Akan tetapi, bukankah takdir bisa dirubah, kau bisa menampakkan dirimu pada Qiram bukan? Jangan menghindar, temui dia.”


“Tapi Kek--”


“Marissa, dia adalah anak yang lemah, tidak pintar, di kehidupannya yang lalu, kita semua tahu, dia mati terbunuh dengan bodohnya. Dekatilah dia!” ujar pria tua itu.


“Jika dia tidak ingin mendekatiku, maka seluruh tubuhku akan terasa sakit Kek, aku tidak kuat, aku takut jika bayi dalam perutku akan berada dalam bahaya!” jawab Marissa.


“Coba dulu, jangan lupa pada takdir kalian, kalian berdua terikat dari kehidupan awal hingga kehidupan kedua ini, putramu adalah anak satu-satunya yang dia miliki, jika kehidupan nya berjalan baik, mungkin baru dia memiliki keturunan lagi, tetapi tetap putramu anak pertamanya.”

__ADS_1


“Baiklah, jika Kakek berkata seperti itu, terimakasih kau telah merestui ku!” Marissa tersenyum.


Kakek tua itu pun juga tersenyum, dia adalah Tuan Beneno.


__ADS_2