
Soleman dan gangs pergi ke Desa Petarung, tempat yang biasanya kumuh, banyak sampah-sampah bertumpukan, banyak pengemis, pemulung, dan anak jalanan. Ada yang tinggal di Desa Petarung dan di sekitarnya, juga ada di jalan gang becek menuju ke sana.
Soleman tercengang saat mulai memasuki gang utama, dimana biasanya banyak preman-preman receh yang berdiri di sana menyambutnya, dia melanjutkan langkahnya hingga masuk ke gang kecil yang dulunya becek, kini sudah di semen menjadi jalan yang bagus. Di setiap gang kecil di beri nama, Cut Nyak Dhien, M Yamin, M Hatta, dan lainnya.
Di tepi jalan, bersih, tertanam pohon jambu dan mangga yang masih kecil, sepertinya baru di tanam bibitnya yang setinggi pinggang sebulan atau dua bulan yang lalu. Soleman melihat sekeliling setelah sampai, rumah-rumah yang rapi dengan tipe 21, hanya ada satu buah rumah bertipe 45. Catnya serasi sesuai gang, di depan rumah tersusun pagar rapi dengan tanaman bunga dan lainnya yang terawat dengan baik.
Mata Soleman bersirobok dengan seorang nenek yang tengah berdiri menatapnya, dia baru saja keluar dari rumah. Masih dengan bertopang tongkat, tatapannya begitu tajam pada Soleman. Pakaian Nenek itu dan orang-orang yang berdiri tiba-tiba di sampingnya bagus. Kemudian beberapa orang keluar dari rumah masing-masing dengan pakaian yang bagus.
Mereka bukan keluar biasa saja, tetapi di setiap tangan mereka memegang sapu, sendok, wajan, pisau dapur, dengan tatapan memusuhi. Apalagi gerombolan anak-anak yang diketuai oleh Rizki, mereka bersiap membidik dengan ketapel, serta bola-bola ditangan mereka masing-masing.
__ADS_1
“Boss, tatapan mereka dan persiapan mereka-- aku merasa tak yakin, Boss,” bisik bawahan Soleman.
“Diamlah pengecut!” hardik Soleman.
Soleman terus berjalan sampai di hadapan Nenek. Tanpa dipersilahkan, Soleman langsung duduk bak boss dengan kaki diangkat ke atas. “Kudengar dari anak buahku, kau pemimpin tempat ini ya, tak disangka tempat kumuh ini menjadi bagus. Oh ya, aku tak ingin berlama-lama, serahkan beberapa anak-anak dan para gadis padaku! Aku tahu, mereka yang ada disekitar sini kau rekrut juga 'kan, soalnya para anak jalanan tak ada yang nongkrong di depan sana lagi!” Soleman berkata dengan nada bosy nya.
“Dasar manusia tak beradap, tak punya etika sopan santun!” balas Nenek.
“Coba saja jika kau berani manusia terkutuk!” teriak Rizki, lalu langsung menembak Soleman dengan ketapel yang di isi kelereng.
__ADS_1
Kemudian, semua anak-anak menembaki mereka dengan ketapel, melemparkan bola tepat di kepala mereka. Ibu-ibu yang berada di samping sang nenek juga langsung memukul mereka dengan kayu dan sapu, kemudian semuanya juga menyerang kelompok mereka, sedangkan nenek ditarik masuk ke dalam rumah untuk menjauh.
Bugh! Bugh! Brak!
“Awck, Ahhh, Sialaaan!” umpat mereka bersama. Walau ada yang dapat mereka sentuh dan raih untuk melawan, tapi masyarakat saling bantu membantu dan menyerang mereka secara bersama-sama, hingga akhirnya kelompok Soleman lari terbirit-birit.
“Sialaaan, cuih, aku pastikan akan memberikan kalian semua pelajaran!” maki Soleman marah sambil meludah.
“Ah, siaal! Kita harus bisa membawa gadis dan anak-anak!” Soleman berpikir keras.
__ADS_1
Seharian penuh Soleman berkeliling kemana pun untuk mencari target, jika pun tidak gadis, setidaknya wanita, atau menculik anak orang, sayangnya tak ada anak yang bisa diculik.
Soleman memijit keningnya. “Apa aku bawa dia saja, pada Boss Besar?” Soleman berkata saat terpikir sesuatu.