
Dokter Aini bergegas mengganti baju tidurnya menjadi baju lebih formal, ia bergegas ke depan, tak jauh dari tempat ia tinggal. Ia di berikan tempat tinggal di belakang klinik.
Malam ini seharusnya bukan tugas Aini, tetapi karena Qiram yang menelpon, ia pun bergegas datang. Cukup lama ia menunggu, barulah Qiram sampai dengan mobil Lamborghini Veneno miliknya. Ia keluar terburu-buru sambil menggendong Gippong.
Mereka pun berjalan ke ruangan Aini bekerja.
“Hm, yang terluka kucing? Aku kira temanmu,” Aini bergumam, ia segera melihat kucing itu, memeriksa luka, namun tak ada luka satu pun.
“Maaf Qiram, alat memeriksa bagian dalam tubuh hewan tidak ada di klinik ini. Bagaimana kalau-” Belum selesai dokter cantik dengan mata jernih itu bicara, Qiram menepuk jidatnya.
“Ah, maafkan saya Dokter, saya terlalu khawatir, seharusnya saya membawa Gippong pada Raina, kalau begitu saya pamit, maaf telah mengganggu waktu istirahat An-”
Gippong terdiam setelah memotong perkataan Raina. Kucing berbulu hitam dengan keempat kakinya berwarna putih itu berubah bentuk menjadi wanita cantik nan bahenol dengan rambut panjang yang lurus.
Mata Aini terbelalak tak percaya, untung saja hanya mereka berdua yang ada dalam ruangan rawat ini.
“Uh!” Terdengar suara rintihan Gippong.
“Gippong, kau tak apa-apa?” Qiram langsung menyibakkan rambut panjang Gippong yang menutupi celah wajahnya. Dia menyisipkan ke daun telinga, memperlihatkan wajah nan cantik dan ayu.
‘Sangat cantik, apakah dia-’ Aini jadi berpikir-pikir dalam hati.
“Dokter, tolong rahasiakan ini!” Wajah Qiram tampak panik setelah menyadari Dokter Aini menatap Gippong penuh selidik.
__ADS_1
“Ya,” Dokter Aini hanya mengangguk. Bagaimana pun, seorang dokter telah bersumpah tidak boleh membuka aib pasien, dan mungkin, ini termasuk aib pasien 'kan?
“Terimakasih Dokter.” Qiram menggenggam kedua tangan Aini.
“Ya, kalau begitu, saya bisa memeriksa tubuhnya, kalau dia berubah jadi manusia, eemm, maksudku kembali jadi manusia. Nona, izinkan aku memeriksa keadaanmu dulu ya!” Aini berkata lembut.
Gippong hanya menatap Aini dan merasakan dadanya semakin sakit.
“Mari, kita harus melakukan rontgen, sepertinya dadanya terhempas jatuh ya? Soalnya dari tadi dia memegang dada terus.” Aini melihat Qiram.
“Terserah aja Dok. Aku ingin dia baik-baik saja!”
“Baiklah, aku akan melakukan rontgen dulu!” ucap Aini.
Setelah di rontgen, Qiram menunggu cukup lama sampai hasil keluar. Hingga dia tertidur di kursi tunggu. Dia terbangun saat adzan subuh berkumandang, pintu rontgen masih tertutup.
“Kok lama ya?” Qiram berdiri dan hendak mengintip, namun pintu ruangan itu terbuka, keluarlah Aini dan Gippong.
“Bagaimana?” Qiram menyambut mereka dengan pertanyaan yang sangat penasaran.
“Mari kita duduk dulu, aku akan menjelaskannya.” Aini berjalan ke meja kerjanya yang diikuti oleh Gippong dan Qiram juga.
“Tuan Qiram, sepertinya teman Anda, Nona Gippong mengalami kerusakan tulang di bagian dadanya. Untuk saat ini, aku masih belum bisa memastikan apakah itu yang menyebabkan tumbuhnya tumor di sana karena kerusakan pada tulang itu,” jelas Aini.
__ADS_1
“Apa? Tumor? Kenapa bisa? Bagaimana caranya Dok supaya Gippong sehat?” Qiram tampak cemas.
“Saya akan mempelajari dulu dan bertanya pada sahabat-sahabat saya, mengenai pertumbuhan tulang di bagian dada Nona Gippong dan sedikit kejanggalan tentang tumornya. Saya sudah mengambil sample darah di bagian tulang sumsum belakang dan darah di nadi pergelangan tangannya, serta urine. Semoga akan segera menerima kabar baiknya.”
“Terimakasih Dokter.”
“Ya, resep obat ambil di apotik ya!” Aini tersenyum ramah.
“Baik Dok!”
Qiram pun menuju apotik klinik, mengambil obat, membayar biaya dokter dan obat di meja resepsionis. Lalu, beranjak pergi dari sana.
Aini menatap kepergian Qiram, sambil berpikir dan menatap 4 botol darah yang ia genggam.
“Apakah perbuatanku ini jahat? Aku hanya penasaran dengan makhluk itu, aku ingin menyelidiki nya lebih lanjut, kenapa Tuan Qiram bisa bersama dengan manusia kucing itu? Ini terlalu janggal dan membuatku tak percaya, sayangnya ini kenyataan yang tampak jelas di depan mataku!”
“Semoga aku bisa mengenal makhluk ini dan bisa menemukan penyembuhan untuk sakitnya, sepertinya Tuan Qiram sangat menyayanginya.”
Aini meletakkan dua botol darah dengan tempelan nama di atas meja kerjanya, lalu dua botol lagi dia bawa pulang, untuk dia teliti sendiri tanpa sepengetahuan siapa pun.
Sampai di belakang, tempat tinggalnya, ia meletakkan dua botol darah itu ke dalam lemari es kecil, agar darah itu awet. Di dalam lemari es itu ada beberapa cairan yang berwarna, hijau, kuning, bening, putih susu, dan lainnya.
“Aku berharap bisa menemukan terobosan baru!” Aini tersenyum sambil menutup lemari es kecil yang sebesar tas sandang miliknya.
__ADS_1