Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Makan dengan Cucu


__ADS_3

Qiram duduk termenung di sudut ranjang. Menatap layar ponsel yang sudah gelap. “Bajumu juga tidak ada?” tanya Qiram tanpa menoleh pada Hafisa.


“Hanya ada lingerie dan kimono ini,” jawab Hafisa.


“Sepertinya semua orang senang mengerjai kita, tapi tak ada pilihan lagi, aku sangat lelah. Jadi, malam ini kita tidur seranjang tanpa pakaian.” Qiram memutar tubuhnya dan menatap Hafisa.


“Aku lelah dan ngantuk sekali, tidak apa 'kan?” Qiram menatap Hafisa.


“Ya, tentu saja tidak apa-apa.”


Setelah mendengarkan itu, Qiram mendekat ke arah ranjang, masuk ke dalam selimut. Di dalam selimut itu, dia melepaskan handuknya dan melemparkan ke arah sofa yang berada di dinding bagian kiri dari ranjang.


“Kamu langsung mau tidur, ya?” tanya Hafisa.


“Iya, badanku rasanya capek dan pegal seharian ini cukup sibuk,” jawab Qiram.

__ADS_1


“Ooh, begitu. Selamat tidur Qiram.” Hafisa tersenyum.


“Ya, kamu juga, selamat istirahat.” Setelah berkata seperti itu, Qiram memilih memejamkan matanya.


***


Di tempat lain, Professor Azrul memijit kepalanya. “Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya dia sukses dan kaya raya? Kenapa dia malah masuk penjara dan ketahuan melakukan tindakan tidak terhormat begini? Apakah kehidupannya dulu, sebelum dia kaya dan terkenal, dia terjebak kasus ini dulu? Soalnya satu tahun lagi sih, dia akan menjadi pria sukses dengan perusahaan dan pusat perbelanjaan dimana-mana, bahkan dia memiliki berbagi tempat rekreasi,” pikirnya.


“Kakek, ayo, makan dulu, aku sudah memasak makanan untuk kakek. Jangan terlalu banyak berpikir, dan jangan terlalu memaksakan diri. Aku bahagia hidup sama kakek, yang penting sama kakek. Aku nggak butuh apa-apa lagi. Semuanya sudah cukup, uang pensiun kakek bisa untuk kita makan, aku juga bisa jualan untuk memenuhi kebutuhan makan kita.” Cucu Professor Azrul berkata.


Cucunya hanya diam saja, ayahnya memang bodoh, jika tidak bodoh, dia tidak akan di tipu orang, apalagi berakhir bunuh diri, sedangkan Ibunya, entah dimana rimbanya, hanya Professor Azrul seoranglah yang dia punya.


“Kamu itu cucuku yang paling cantik. Wajahnyi seperti putraku, kulitmu seperti ibu kamu, perpaduan mereka membuat kamu sangat cantik. Kakek harap, seorang pria kaya bisa jatuh hati padamu!”


Cucunya kembali diam tidak menyahuti. “Ya sudah, ayo, kita makan.” Profesor Azrul pun mencoba berdiri dengan batuan tongkatnya dengan tangan kanan untuk bangkit dan dibantu oleh cucunya di tangan kiri.

__ADS_1


“Ini untuk Kakek,” ucapnya menyodorkan sup ikan, saat mereka sudah duduk di meja makan.


“Kenapa sih kamu selalu masakin Kakek ini? Kakek bosan tahu, Kakek juga mau makanan seperti yang kamu makan itu!”


“Tidak bisa Kek. Makanan ini banyak kolesterol, nih lemak semua, mengandung banyak garam dan micin. Sup Ikan Kakek ini, garamnya khusus kubelikan untuk Kakek.”


Professor Azrul mendengus.


“Ini semua demi Kakek. Aku tidak ingin Kakek sakit. Aku tidak ingin sendirian di dunia ini kalau kakek pergi, kakek paham 'kan?”


“Iya.”


Setelah makan, Professor Azrul kembali membaca artikel tentang Roki, beberapa tempat dan usaha Roki yang dia ingat, lalu pelelangan barang bekas.


“Kemana harus aku cari guci itu, ya? Aku sangat yakin guci itu ada di daerah pinggiran kota itu, di sekitar kali hitam, salah satu penguasanya di sana bernama Soleman. Aku harus mencari pria itu, siapa tahu aku yang beruntung dan menemukan gucinya. Aku akan meminta rumah, perhiasan dan uang yang sangat banyak untuk cucuku,” katanya dengan tersenyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2