
“Hei, kau!” teriak Qiram menoleh kebelakang, masih dengan posisi memijak wajah Bobi, kemudian melemparkan uang koint seribuan yang ia ambil dari kantong celananya tepat mengenai jidat Rony yang berniat memukulnya dari belakang
“Akh!” ringisnya. Tunggg! Suara benda nyaring terjatuh. “Aakhh!” Dia terpekik lagi karena benda yang ia pegang jatuh tepat di mata kakinya. Sebuah pentungan yang terbuat dari aluminium yang ingin ia pukulkan pada Qiram tadi.
“Huh!” Qiram mendengus sinis. “Jika kau ingin selamat, ganti ban mobilku!” perintah Qiram, lalu langsung merunduk dan memutar kepala Bobi.
Krek! Bunyi tulang yang sepertinya patah, dan ... Rony pipis di celana karena melihat Bobi yang juga terkapar, Feri di sampingnya juga terkapar. Dia menjadi sangat ketakutan.
“Kau ingin seperti mereka? Jika tidak, cepat ganti ban mobilku!” Qiram berjalan ke arah jok belakang mobil, mengeluarkan ban mobil serap.
“Pasang sekarang! Atau kau ingin aku buat seperti mereka juga?” Qiram merunduk, mengambil pentungan yang terbuat dari alumunium yang terjatuh dari genggaman Roni tadi.
__ADS_1
Melihat Qiram memegang pentungan itu, Roni semakin gemetar. “Tolong ampuni aku! Tolong!” Dia bersujud memohon.
“Baiklah! Ganti ban mobilku segera!” Qiram menatap tajam Roni dengan pentungan yang ia letakkan di bahunya.
“Ba-baik!” Rony bergegas menjawab dengan terbata, ia langsung berdiri mendekati ban mobil.
“Nih, alat-alat nya!” Qiram memberikan sekotak kunci-kunci penting yang akan digunakan Roni untuk mengganti ban mobil.
Qiram mengambil tali dan mengikat tubuh Bobi dan Feri, lalu duduk di atas tubuh itu dengan santai sambil bermain hp. “Cepat kerjakan! Jangan planga plongo terus!” hardik Qiram.
‘Aku sudah tiga hari tidak mengajukan pertanyaan pada guci, uangku juga sudah mulai menipis. Apalagi setelah aku mencoba membuat perusahaan otomotif beberapa hari lalu bersama guru,’ Qiram bergumam.
__ADS_1
Ya, setelah dia membeli beberapa buah perumahan dan bantuan di tempat kumuh, dia juga membeli lahan kosong yang cukup luas untuk perusahaan otomotif, kini sedang tahap pengerjaan. Di kehidupannya yang lalu, kawasan itu sangat ramai dan memang ada perusahaan otomotif sebelumnya di sana. Jadi, sebelum orang membangunnya, ia ingin membangunnya terlebih dahulu.
‘Masalah bersaing dan keberuntungan rezeki, itu nanti! Apakah perusahaan otomotif ku dengan perusahaan otomotif orang yang ada dikehidupan lamaku akan berdampingan, itu tidak masalah. Siapa tahu, keberuntungan kembali berpihak padaku. Hm....’ Qiram tersenyum.
Kurang lebih 30 menit, Roni selesai mengganti ban dengan keringat yang bercucuran. Qiram masih memegangi pentungan, ia mengambil kotak kunci-kunci yang sudah dibereskan Roni dan memasukkannya kembali ke dalam jok belakang mobil. Kemudian, berjalan ke arah tempat duduk yang banyak dengan oleh-oleh dan makanan.
Ia meraih sekotak kecil cake, ciki-ciki dengan bungkus besar dan sebotol air mineral. “Ini untukmu!” Qiram meletakkan di hadapan Rony yang masih ketakutan.
Qiram membuka dompetnya, menarik uang dua ratus ribu rupiah, memberikan pada Roni. “Ti-tidak, sa-saya tidak butuh. Saya hanya butuh air minum ini saja, terimakasih!” tolaknya terbata-bata.
Qiram kembali menggenggam pentungan, meletakkan di atas bahu Rony, membuat kaki pria itu gemetar, saking takutnya jika pentungan itu dipukul ke kepalanya. “Uang dan makan itu aku berikan sebagai upah karena kau membantuku mengganti ban mobil. Aku tahu, kamu susah, aku tahu kamu pengecut, aku tahu kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak perintah. Jadi, ambillah uang ini!”
__ADS_1
Pelan, Roni mengambil uang dua ratus ribu itu takut-takut. “Aku manusia, kau juga manusia, aku punya perasaan, pasti kau juga punya perasaan 'kan? Sebagai manusia, aku tak akan menyakiti yang lemah, aku tak akan memukul orang yang telah mengaku kalah, aku tak akan menyiksa orang yang membutuhkan.” Qiram masuk ke dalam mobilnya, lalu melemparkan pentungan keluar dari mobilnya, karena masih sempat ia bawa masuk tadi.
Mobil Qiram melaju dengan cepat untuk pulang ke rumah, Roni berdiri diam menatap kepergian mobil itu. Ia buka cake dan ia lahap sambil menangis. Jika seandainya ia bisa memilih, lebih baik menjadi kaki tangan orang baik dengan cara terhormat, bukan sebagai preman jahat.