
“Qiram,” sapa Lenggo padanya dengan tersenyum ramah. “Apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa, ya?”
“Ya, aku baik-baik saja. Kenapa keadaanmu seperti ini?" tanya Qiram membalas basa basi.
Lenggo tertunduk, air matanya menetes. “Biasalah Soleman Jahanam, kali ini dia mau nangkap dan jual Lenggo!” Lil O malah yang menyahuti.
“Eh?” Qiram berpikir keras, bukankah dikehidupan nya yang lalu mereka seharusnya sudah mulai pacaran? Karena saat itu Qiram di buly, Soleman sudah menujukkan gelagat kepemilikan pada Lenggo.
Lalu, dua tahun kemudian, Qiram melihat mereka main ranjang, bukannya minta maaf, tapi Lenggo malah mengejek dan menyalahkan dirinya. Bagaimana tidak kecewa, dia begitu tulus pada Lenggo, tak pernah menyentuhnya, menghormatinya, berusaha semampunya menyenangkan hati Lenggo, membelikan apa yang Lenggo mau dengan kerja keras, walau kadang diterima dengan wajah masam dari Lenggo karena tak merasa puas akan hadiah dari Qiram yang tergolong murah.
“Untung saja, ada kenalanmu yang tomboi itu, aku jadi dibantu oleh orang sekitar, kalo tidak, bisa bahaya juga tadi, soalnya mereka bawa senjata!” sambung Lil O bercerita menggebu-gebu pada Qiram.
“Oh, lain kali kau harus hati-hati, ya. Kau tahu? Kau adalah sahabat yang kuanggap saudara laki-lakiku!”
__ADS_1
Lil O tersenyum senang mendengarnya. “Hei Sob, kau terdengar seperti menggodaku! Aku juga menganggapmu saudaraku, lebih tepatnya adik laki-lakiku,” balas Lil O terkekeh.
“Baiklah, mulai sekarang aku adik laki-lakimu,” jawab Qiram tersenyum hangat.
“Hei, apa-apaan ini Sob? Biasanya kau akan marah jika aku katakan adik laki-lakiku, ahahaha! Wah, kau tambah dewasa ya, sekarang, ckckck, hahahaha!” Mereka berdua pun sama-sama terkekeh. Lenggo juga ikut tersenyum melihat mereka begitu senang.
Tak lama, mereka sudah di izinkan pulang, setelah diobati dan diberikan obat.
“Hm, Qiram, apa kita bawa Lenggo ke rumah kita?” Lil O berbisik pada Qiram.
“Loh? Kau ini, mentang-mentang sekarang banyak cewek yang dekat, kau mengabaikan cinta pertamamu, kasihan dia tahu, lihat tuh, dia kayak gitu, pasti udah terjadi sesuatu yang buruk padanya, kau gak kasihan?” Lil O menatap sahabatnya.
“Kasihan sih, tapi....” Qiram menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
__ADS_1
“Ya udah, gini aja, gimana kita carikan tempat kost atau rumah sewa yang jauh lebih aman, dari pada dia tinggal di tempat lama, kau tahu 'kan, Soleman dan gangnya kayak mana? Walaupun mereka ditangkap polisi, gak lama nanti juga keluar,” jelas Lil O.
“Emm, iya sih, kalo gitu aku bawa dia ke Desa Petarung aja!”
“Tempat kumuh yang kau ceritakan waktu itu?” tanya Lil O.
“Iya, itu adalah tempat teraman sekarang untuknya!” jawab Qiram. Lil O pun mengangguk setuju.
Ada satu hal yang tidak diketahui Qiram dan Lil O. Kemungkinan besar, Soleman and gangs tidak akan bebas lagi, karena Helmi Etika telah mengurung mereka di Buangtai.
“Lenggo, aku rasa kau tak akan aman lagi tinggal di tempat lama, bagaimana jika kau kami antar ke tempat yang lebih aman?” Lil O menawarkan Lenggo setelah bermusyawarah dengan Qiram.
Lenggo melirik Qiram, lalu mengangguk.
__ADS_1
Tak lama, Lenggo dan Lil O telah menaiki mobil Lamborghini Veneno milik Qiram. Jujur, Lenggo terkesiap melihat mobil itu awalnya, dia semakin terkesima melihat Qiram, baik, ramah, masih saja tampan dan sekarang menjadi lebih percaya diri, tapi sayangnya dia sangat cuek sekarang.
Lenggo merasa semakin sedih. ‘Mungkin dia jijik denganku yang sudah ternoda ini....’ lirihnya dalam hati.