Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Pilihan yang Tepat


__ADS_3

“Apakah kamu tidak bisa bersamaku, tolong jangan menghilang.” Qiram mengungkapkan keinginannya, dia menggenggam tangan Marissa, mengelus perut Marissa penuh kasih.


“Tidak, ini sudah takdir Qiram. Aku dan kamu tidak akan pernah bisa bersatu,” jawab Marissa tegar.


“Kakek pergi dulu ya, kalian berdua berbincang lah.” Tuan Beneno pun pergi dari sana, meninggalkan Marissa dan Qiram.


“Maafkan aku Marissa, apa yang harus aku lakukan?” tanya Qiram.


“Tidak ada Qiram. Kamu hanya harus merawat putra kita. Aku bukan musnah seperti itu, aku hanya tidak bisa pergi kemana-mana, apalagi di sini. Aku hanya bisa bertahan di sini, sampai melahirkan. Jangan khawatir.” Marissa mengelus wajah Qiram dengan sayang.


“Rasanya sangat sakit, ya? Maaf, aku tidak peka dengan perasaanmu, maaf....” lirih Qiram merasa bersalah.


“Kamu tidak salah Qiram, masalah peka ataupun perasaan berbalas, itu tidak bisa dipaksakan, hatimu sudah ada orang lain, jadi wajar, jika kamu tidak mengingat dan memikirkan aku.”


Mendengar itu, Qiram kembali memeluknya erat. “Maafkan aku, Marissa.”


Perasaan Qiram rasanya sangat sakit. Menyakiti orang yang menyukai dirinya, rasanya sangaaat lah sakit. Perasaan yang tidak bisa di balas, dia mengasihinya, tapi tidak cinta.


“Sudah, aku baik-baik saja. Bolehkan aku menciummu?" tanya Marissa tersenyum manis.


Qiram mengangguk.

__ADS_1


Marissa pun mencium seluruh wajah Qiram dan terakhir, dia mencium bibirnya. Ciuman hangat yang awalnya manis, kini berubah menjadi menggebu-gebu.


Entah berapa lama peraduan bibir itu berlangsung, hingga akhirnya Marissa terbatuk mengeluarkan darah.


“Marissaaa!” seru Qiram khawatir. “Maaf, aku menyakiti kamu lagi!”


“Tidak apa-apa Qiram,” balas Marissa dengan suara lemah. “bisa kamu bantu aku ke sana!” tunjuknya pada kolam.


Qiram memapah tubuh Marissa ke tepi kolam berdinding batu sungai. Marissa duduk dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam air. “Kita bicara di sini, ya,” ungkap Marissa.


“Iya.” Qiram mengangguk.


Suasana hening beberapa detik. “Marissa,” panggil Qiram.


“Kenapa harus berendam?”


“Oh ini, aku memiliki kekuatan air, jadi dengan merendam tubuh, kekuatanku bisa bertambah, meringankan batukku,” jawab Marissa menjelaskan.


“Sakit banget, ya?”


“Tidak apa-apa, Qiram.”

__ADS_1


“Wanita selalu berkata seperti itu, tidak apa-apa, tapi itu ada apa-apa. Aku tidak bisa percaya lagi, dengan kata tidak apa-apa Marissa. Aku sudah pernah dibohongi dengan kata tidak apa-apa oleh Gippong. Aku sungguh tidak tahu, mungkin karena aku memang terlahir menjadi bodoh.”


“Tidak Qiram, kamu tidak bodoh. Kamu adalah pria baik hati.” Marissa mencium pipi Qiram. “Aku menyukaimu saat pertama kali kita bertemu, walaupun di kehidupan pertama pertemuan kita itu ... karena aku terpancing perforfom auramu, namun kehidupan kedua ini, aku benar-benar jatuh hati kepadamu.”


“Marissa.” Qiram menatap Marissa lembut dan mereka pun berciuman.


Cukup lama Qiram mengobrol dengan Marissa. Hingga, Marissa harus beristirahat, pengikutnya sudah mendatangi dan mengingatkannya.


“Tidak apa-apa Qiram, lanjutkan lah rencana pernikahanmu dengan wanita itu, lalu ... sebaiknya kamu juga ceritakan tentang anak kita, bahwa kamu sudah memiliki anak sebelumnya, agar anak kita selalu bersamamu.” Marissa tersenyum dan beranjak pergi dari sana.


Qiram pun akhirnya menemui Tuan Beneno dan berpamitan. Dia juga telah menceritakan pada Tuan Beneno, kalau dia akan menikah dengan Dokter Aini.


“Aku harap, memang wanita itu adalah wanita terbaik dari semua wanita pilihanmu.” Tuan Beneno menepuk pundak Qiram.


“Kakek pasti datang 'kan?” tanya Qiram menatap Tuan Beneno.


“Tentu, Kakek akan menghadiri pernikahanmu. Keturunan ku satu-satunya, klan Damzi.”


Mereka berdua pun tersenyum.


Beberapa orang mengawal kepergian Qiram hingga sampai di lapangan helikopter. Sedangkan Tuan Beneno tidak mengantarnya sampai ke sana.

__ADS_1


Qiram menaiki helikopter. “Maafkan aku Gippong, Marissa. Semoga ini adalah pilihan yang terbaik, seperti yang diinginkan Kakek. Dokter Aini, semoga kamu memang pilihan yang tepat.” gumam Qiram, sebelum helikopter mengudara.


__ADS_2