
Rangga Albusro diam-diam mengikuti kakak laki-lakinya yang bernama Roki Albusro.
Selama ini dia curiga dengan perlakukan kakaknya, pagi pergi dan pulang tengah malam, terkadang dia memiliki banyak uang dan berfoya-foya, kadang tampak menggila seperti orang depresi.
Di pinggir kota, jalanan beraspal tipis, kiri kanan banyak tumbuhan hijau nan liar. Rangga sedikit takut ketahuan, karena tak ada lagi kendaraan yang lalu hilir mudik di jalan ini. Jadi, dia memutuskan menjaga jarak agar tidak ketahuan.
Hingga akhirnya Rangga melihat dari kejauhan, jalan itu buntu, ada gerbang kawat berkarat. Tampak sopir membuka gerbang itu, memajukan mobil, dan menutup gerbang itu kembali, baru melajukan mobil entah ke depan.
Rangga menghafal daerah itu, lalu memutuskan kembali nanti. Karena, tidak mungkin dia akan masuk ke dalam. Dia bisa ketahuan, dia akan masuk kembali nanti saja, dia ingin mempersiapkan diri dulu.
Rangga selama ini di jaga oleh satu orang pengawal, tetapi dia sering menipu pengawal itu, dia merasa tak bebas jika diikuti terus menerus. Oleh karena itu, dia bisa keluyuran kesana kemari dan pernah menjadi bahan keroyokan saat bertemu dengan Qiram.
Rangga anak yang baik dan lemah lembut, dia satu ayah dengan Roki tapi tidak satu ibu.
***
Roki telah sampai jauh ke tengah pelosok hutan. Jalanan cukup jauh dari gerbang kawat tadi. Ini adalah hutan lindung, menjadi tempat melakukan tindakan ilegal bagi Roki.
__ADS_1
Mobil Jeep yang ditumpangi Roki berhenti tepat di sebuah bangunan yang hanya ditembok semen tanpa cat, tepinya sebagian berlumut hijau dan hitam.
Tampak beberapa motor dan mobil terparkir di sana, mulai dari barang rongsokan hingga baru. Itu semua adalah barang curian.
Bangunan yang terlihat kecil dari luar namun luas di dalam, karena bangunan itu dibuat di dalam tanah melebar.
“Selamat datang, Boss,” sapa salah satu pria berbadan kekar dengan kepala botak, ada tato di leher dan lengannya.
Dia mengiri langkah Roki masuk ke dalam. Saat di dalam ruangan, sudah terdengar dan terlihat beberapa adegan tak senonoh. Mulai dari yang benar-benar menikmatinya atas suka sama suka, sedikit paksaan, dan pemerkosaan, lebih parahnya lagi, seorang wanita di perkosa banyak pria.
Ada beberapa wanita diikat, di pukuli dan di pecut. Benar-benar tempat yang sangat kejam.
“Maaf Boss. Kami belum dapat. Apalagi beberapa hari ini kami tidak mendapatkan kabar sedikit pun dari Soleman. Entah dia melarikan diri atau lupa daratan,” jawab Pria Botak itu.
“Tidak berguna!” hardik Roki marah.
Seorang Pria jangkung menyediakan kursi untuk duduk Roki, menuangkan minuman dengan alkohol rendah, lalu memberikannya pada Roki.
__ADS_1
“Tapi, walaupun begitu, kami mendapatkan tiga orang anak kecil yang siap kita jual organ tubuhnya.” Pria botak itu kembali berbicara.
Sebuah senyuman sedikit terukir di wajah Roki. “Cukup bagus, teruslah mencari anak-anak yang terbuang itu, dan kalian harus mendapatkan barang baru.”
“Tenang Boss. Kami akan melakukan yang terbaik. Kami juga akan menyeleksinya terlebih dahulu. Jika kamu mendapatkan perawan, kami pastikan dia untuk Boss terlebih dahulu,” ucap Pria Botak itu lagi.
“Bagus!” Roki mengangguk.
Roki meneguk minumannya, lalu berdiri dan melihat beberapa penjara di bawah tanah. Ada beberapa penjara untuk anak-anak dan wanita-wanita yang tidak mau bekerja untuknya.
Semua perempuan akan dipaksa dan dijual untuk kepuasan, jika melawan akan dihukum, kadang dibunuh dan dijual orang tubuhnya seperti hati, jantung, ginjal, mata, tulang sumsum dan lainnya.
Untuk masalah organ tubuh, yang lebih laku keras adalah tubuh anak-anak dari pada wanita dewasa.
Bukan hanya itu, di bawah sana juga terdapat obat-obatan terlarang. Di tengah hutan ini, mereka diam-diam menanam ganja, memproduksi nya sendiri dan mengedarkannya.
Beberapa sabu-sabu dan lainnya ada yang dari daerah luar kota dan luar negeri, tempat ini di sembunyikan. Sekali sebulan, Rangga akan membuka markas rahasianya di ujung, di dekat pintu masuk pagar kawat berkarat tadi. Sekitar 25 meter dari sana ada bangunan yang di jaga empat orang.
__ADS_1
Bangunan itu setiap sebulan sekali akan mengadakan penjualan obat-obatan dan melelang wanita-wanita. Yang diundang ke sana, tentu saja orang-orang pilihan.