Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Agresif


__ADS_3

Anak bawah umur dilarang membaca bab ini!!!


•••


Di Klinik. Aini uring-uringan, akhirnya dia meminta izin keluar. Dia pergi diam-diam ke rumah sakit umum, mendaftarkan diri untuk USG.


Setelah dia mendaftarkan diri, dia menunggu cukup lama di ruang tunggu. Hingga akhirnya, namanya terpanggil juga. Dia masuk dengan tangan dingin berkeringat, jantungnya berdetak lebih kencang.


Dokter kandungan langsung menyapa dan tersenyum ramah, bertanya apa gejala yang dia derita dan lainnya, setelah sedikit berbincang dan menjelaskan jika dia sudah melakukan tespeck, tanpa berkata dia masih perawan kepada sang dokter.


Dokter pun meminta dia tidur di ranjang pasien, lalu mengoleskan gel di bagian permukaan kulit perutnya. Sebuah alat, dokter itu gerakkan ke kiri dan kanan, sedikit menekan dan memperjelas. Terpampang nyata sebesar biji di rahim Aini ada mahluk hidup.


Dokter itu tersenyum. “Selamat Ibu, Anda hamil.”


Bagai di sambar petir di siang bolong, walaupun dia sudah melakukan tes, tetap saja Aini tak percaya. Bagaimana dia bisa hamil sendiri tanpa bersetubuh. Dia benar-benar syok.


Dokter menjelaskan pertumbuhan bayi, meminta menebus obat dan vitamin pada Aini.


Setelah keluar dari ruangan rumah sakit, Aini membuang obat itu dan mencaritahu dimana tempat orang aborsi secara ilegal. Karena jika legal pasti ada surat dan lainnya. Sedangkan dia hamil saja tiba-tiba, tak ada ayahnya. Siapa yang akan percaya dia hamil tanpa Bapak? Memangnya dia wanita suci yang ditiupkan roh suci ke dalam perut? Itu mustahil, tak akan ada yang percaya. Sayangnya, itu kenyataan. Aini frustrasi rasanya!


“Gimana bisa ini terjadi padaku, apa-- jangan-jangan, karena ulat penelitian waktu itu? Sebenarnya aku bukan hamil, tetapi ulat itu hidup di perutku. Arrg, tidak!” Aini ingin menjerit kuat rasanya, namun dia tahan karena dia sedang berada di tempat keramaian.

__ADS_1


Aini terus berjalan dan tubuhnya tiba-tiba saja menghangat, ada perasaan aneh, dan bagian sensitifnya yang berada di kedua paha menjadi basah tanpa sebab, dia berhasrat. Dia mencium aroma farfum Qiram, hingga dia memutuskan berjalan sambil menghirup aroma farfum itu.


Hingga tampaklah Qiram sedang berbincang dengan dua orang pria yang menggunakan jas, mereka tengah dalam keadaan berdiri, lalu berjabat tangan. Setelahnya, tinggallah Qiram sendiri yang berjalan hendak pergi. Aini menyusul dan berlari mengejarnya.


“Qiram!” panggilnya.


“Aini? Loh, kamu di sini?” tanya Qiram.


“Iya, tadi ada keperluan penting, aku boleh nebeng sama kamu nggak? Tapi aku naik taksi online sih kemari, nggak bawa motor.”


“Oh, baiklah, tetapi kita berhenti dulu di apartemen ku ya, aku beli beberapa apartemen. Aku ingin memeriksanya, untuk kusewakan,” ucap Qiram dengan tersenyum kecil.


“Kamu baik dan rajin sekali Qiram,” puji Aini. “Aku nggak masalah kok jika kita berhenti di apartemen dulu, soalnya aku tadi udah minta izin sebentar keluar,” jelas Qiram.


Qiram dan Aini masuk ke dalam mobil keren milik Qiram. Tak lama, mereka pun sampai di apartemen yang di beli Qiram.


Mereka masuk, tetapi saat masuk, Aini menjadi semakin aneh, matanya sudah membara, tubuhnya sudah sangat panas dan dia tidak tahan lagi, dengan kasar dia menutup pintu apartemen itu bergegas, dan mendorong tubuh Qiram terpojok ke dinding.


“Do-” Mulut Qiram langsung dibungkam dengan ciuman paksa, Aini dengan ganas menerkam Qiram, membuat pria itu kalangkabut, terkejut, tapi tubuhnya malah sangat bagus bereaksi.


Mungkin kelamaan jomblo, atau karena pernah melakukannya dengan Marissa, sehingga Qiram dengan gampang on, burung gagak di celananya sudah siap mematuk saat ciuman bibir panas Aini meyerangnya buas. Tangan Aini menggerayangi tubuhnya bahkan merosot bebas memijit-mijit kepala burung miliknya.

__ADS_1


“Ah!” Satu suara lolos dari mulut Qiram di kala Aini dengan agresifnya membuka celananya dan bermain burung.


Mulut gadis itu seperti mengemud permen alpenlibe rasa coklat. Qiram mengeram, mengambil rambut Aini dan memeganginya, membiarkan kepala gadis itu maju mundur.


Jari-jari kaki Qiram sudah meregang, dia tak tahan lagi dengan rasa geli dan enak. “Dok,” panggil Qiram dengan suara berat dan sedikit parau. Matanya berubah sayu, menandakan dia tengah ber- h a s r a t.


“Hmm.” Suara yang terdengar seperti men de sah, terdengar dari mulut Aini. Beberapa detik kemudian, dia melepaskan mainannya dan berdiri sejajar dengan Qiram, langsung meraup bibir pria itu dalam. Mencicipi setiap inci bibirnya. Lidahnya menari seperti cacing kepanasan, liar melesat di seluruh rongga mulut.


Qiram yang kalap, mulai kehilangan kesadaran dan imannya, tangannya mulai meraba pinggul dan bo-kong Aini, meremasnya dua kali, lalu terus menaikkan ke atas, memasukkan kedua tangannya ke dalam baju Aini.


Tangannya mer emas-re mas, hingga menyingkapkan dua buah yang menantang dirinya, dengan rakus dia melahap itu.


Ujung dada Aini di mainkan oleh bibir Qiram sebelah, sedangkan sebelahnya lagi dipelintir.


“Aku ingin!” ucap Aini tak tahan, matanya sudah sangat sayu. Dia pun membuka pakaiannya.


Lalu dengan agresif, membuka kakinya dan langsung menghujamkan sendiri milik Qiram dengan kasar dan sedikit bantuan dari Qiram mendorong ke depan.


“Akkkh!” ringis Aini kesakitan. Ini benar-benar sakit. Dia gadis perawan, tetapi dia mainnya ala orang yang sudah berpengalaman karena terlalu ber has rat, dia tidak bisa menahan godaan ini. Aneh bukan?


Melihat raut wajah Aini yang kesakitan, Qiram mengelus lembut wajah itu, mengecup bibirnya, menarik miliknya dan menggendong Aini ke atas sofa. Dia kasihan jika main berdiri seperti ini untuk pemula. Qiram bisa melihat, ada noda darah di miliknya.

__ADS_1


Dengan sadar namun penuh n a f s u, Qiram pun menggagahi tubuh Aini dalam keadaan sadar. Menikmati indahnya tubuh sempurna dokter cantik itu. Mereka berdua mabuk dalam surga dunia.


__ADS_2