
Qiram kembali pulang, dia diantarkan pulang oleh bawahan Tuan Beneno.
Qiram langsung berbaring di ranjang dengan tatapan kosong.
“Ada apa dengan Tuan Muda?” tanya Jecky pada bawahan Tuan Beneno.
“Maaf, Tuan. Tuan Muda menyaksikan kepergian Nona Marissa.” Penjelasan Pendek itu pun di pahami oleh Jecky.
“Baiklah aku mengerti. Terimakasih. Aku akan menjaga Tuan Muda, kalian bisa kembali dengan tenang,” ujar Jecky.
Ya, Jekcy mulai menyadari akan kepergian Marissa, saat bayi Pangeran bergerak dan menangis lama, bahkan tidak bisa digendong oleh baby sitter. Jecky mengunci bayi itu ke dalam kamar, menyuruh ke-dua baby sitter untuk pulang lebih awal. Hingga bayi Raja, dia yang merawatnya sendiri, di pisahkan sementara dulu dengan bayi Pangeran.
Bayi raja sudah tertidur di dalam ayunannya, karena sudah menghabiskan sebotol ASI kiriman dari Hafisa yang tengah syuting.
Perlahan, Jecky masuk ke dalam kamar. Bayi Pangeran yang kemarin tubuhnya masih bayi hanya bisa di gendong, bahkan belum bisa apa-apa, kini sudah berdiri tegak, berjalan dengan tertatah-tatah. Matanya bersinar berkilauan, bercahaya keemasan.
“Matamu seindah mata Tuan Muda Qiram.” Begitulah Jecky memuji mata bayi Pangeran. Mata kuning keemasan milik Qiram yang dia peroleh saat meminta permohonan pada guci emas waktu itu.
“Babababa! Tatatata!” gumam bayi Pangeran. Dia tidak menangis dan mengamuk-ngamuk lagi.
__ADS_1
“Apa proses pertumbuhannya sampai di sini saja? Apakah sudah aman jika aku bawa keluar?” Jecky bertanya-tanya sendiri.
“Tata! Bababa!” Bayi Pangeran berjalan tertatah-tatah ke arah pintu.
“Pangeran, kamu mau kemana?” Jecky cepat menangkap bayi yang baru pandai berjalan itu.
Eh? Jekcy terkejut, melihat Qiram sudah berdiri saja di depan pintu, padahal tadi dia tidur di ranjang.
Jecky menatap curiga saat mata Qiram berubah warna keemasan. “Tidak! Jangan! Apa yang akan terjadi!” kata Jecky cemas, dia dengan cepat memangku bayi Pangeran.
“Tuan Muda, ada apa? Apa Anda butuh bantuan?” tanya Jecky waspada.
“Aku ingin melihat anakku dan Marissa,” jawab Qiram dengan suara rendah, tak ada emosi di sana.
“Kau juga memiliki mata emas putraku? Bahkan tubuhmu berkembang menjadi normal ya, setelah Ibumu melahirkan.” Qiram mengusap lembut pipi Pangeran.
“Biar aku gendong, Guru.”
“Tapi---” Jecky berniat menolak karena masih merasa khawatir. Akan tetapi, Qiram sudah mengambil dari tangannya. Dia menggendong Pangeran dengan lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Tumbuh lah dengan baik Pangeran, ibumu sudah berkorban demi kita. Tumbuhlah menjadi putra yang membanggakan dia. Papa akan berusaha melindungi dan menjagamu.” Setelah berkata seperti itu, dia mencium pipi dan kening Pangeran.
“Bababa!” gumam bayi kecil itu meraba wajah Qiram.
Qiram menggendong bayi itu sambil mengayun-ayunkan di tangannya. Sampai bayi Pangeran tertidur lelap. Setelahnya, Qiram meletakkan Pangeran berdekatan dengan Raja.
“Tidak apa-apa Guru, jangan cemas. Pangeran tidak akan berbahaya. Dia menyukai Raja dan Hafisa kok,” jelas Qiram mengelus punggung Pangeran dan membelai lembut pipi comel bayi Raja yang tengah tertidur pulas.
Jecky hanya bisa mengangguk mendengar itu.
“Guru, tolong ceritakan semua padaku. Aku tidak ingin kehilangan lagi, apalagi ada yang mati karena aku. Apakah kutukan itu, hukuman itu, bisa terjadi pada istriku Hafisa? Dia tidak salah apa-apa, dia terlalu baik.”
“Tenanglah Tuan Muda. Tidak akan terjadi apa-apa pada Nona Hafisa, karena dia manusia biasa. Nona Marissa dan Gippong berbeda, dia bukan manusia, makanya mereka menghilang,” terang Jecky berhati-hati.
“Aku sungguh tidak ingin lagi menyakiti atau kehilangan. Aku ingin memperbaiki semuanya, diriku, kehidupanku, aku tidak ingin hancur lagi, apalagi menghancurkan hidup orang lain, Guru....” lirih Qiram.
Jekcy memeluk Qiram. “Tuan Muda. Semuanya sudah baik-baik. Orang-orang jahat di kehidupan pertama Anda sudah masuk penjara, mereka sudah mendapatkan hukuman. Orang-orang baik yang membantu Tuan Muda di kehidupan pertama juga sudah Anda bantu dikehidupan kedua ini. Jadi, jangan khawatir dan bersedih hati lagi.”
Qiram menangis dalam pelukan Jecky, seperti seorang anak laki-laki yang tengah mengadu pada ayahnya.
__ADS_1