
Qiram terus berjalan-jalan melihat daerah kumuh yang tersulap menjadi perumahan rapat nan asri. Senyuman mereka tampak cerah dan sangat bahagia.
“Nak Qiram, apa kamu tidak berniat memberi nama pada tempat ini? Nenek rasa kamu harus memberikan nama baru pada tempat ini, Nak!” sang nenek menggenggam kedua tangan Qiram. Menatap Qiram lembut.
“Apakah tidak apa-apa saya memberikan nama pada tempat ini? Apakah saya pantas-”
“Tentu saja sangat tidak apa-apa, tempat ini dulunya adalah milikku dan kamu memberikan kami fasilitas seperti ini, bagaimana tidak pantasnya kamu memberikan sebuah nama di tempat ini,” ujar sang nenek.
Qiram tersenyum saat melihat nenek itu tersenyum tulus dan hangat.
“Bisakah saya memberikan nama daerah ini, Desa Petarung?” Qiram menatap nenek lekat.
“Desa yang bertarung untuk kehidupan yang sangat sulit, bertarung demi makanan, bertarung demi tempat yang layak untuk berteduh, anak-anak hingga orang dewasa bertarung di sini.”
“Kamu memang anak yang baik. Aku suka namanya, Nak Qiram. Nama yang sangat cocok, dengan nama ini, kita semua bisa selalu mengingat, kita harus selamanya bertarung untuk kehidupan yang lebih baik dan layak.”
Setelahnya, sang nenek mengumumkan tentang nama daerah mereka adalah Desa Petarung. Semuanya bersorak bahagia, bukan hanya itu, Qiram juga mengeluarkan dan memberikan amplop yang berisi uang pada setiap orangnya. Kemudian, pamit undur diri dari sana.
__ADS_1
Setelah dari Desa Petarung, Qiram langsung menuju ke tempat warung ikan bakar, ia mengambil pesanannya dan membayar.
Setengah perjalanan, tampak Lil O menelpon.
‘Ram, kau ada dimana?’
“Lagi di jalan nih, sebentar lagi nyampe.”
‘Langsung aja ke rumah sakit bunda dan anak di jalan punogoro ya!’
“Hah? Kau sakit Lil? Ok, aku akan segera ke sana!” Dengan gesit, Qiram memutar stir mobilnya, langsung menuju rumah sakit yang dikatakan Lil O.
“Kau sudah datang Ram?” Lil O langsung berdiri setelah melihat Qiram.
“Iya, aku pikir kau yang sakit!” Tampak Qiram bernapas lega. “lalu, siapa yang sedang sakit?” tanya Qiram.
“Hafisa,” jawab Lil O. “Tuan Jecky, pergilah pulang, sudah ada aku dan Qiram di sini.” Lil O menatap Jecky.
__ADS_1
“Oh, ini kunci, bawa mobilku saja, ikan bakar pesanan Gippong ada di dalam, tadi aku membeli cukup banyak, aku lebihkan juga untuk kita,” jelas Qiram saat memberikan kunci mobilnya pada Jecky.
“Baik Tuan Muda, saya akan segera pulang. Tadi kami semua terburu-buru, hingga meninggalkan bayi Pangeran bersama Gippong yang sedang sakit. Aku akan segera pulang.” Qiram mengangguk mendengar ucapan Jecky.
“Kenapa Fisa bisa masuk rumah sakit? Apa dia terjatuh?” Qiram bertanya setelah Jecky hilang di balik belokan di depan sana.
“Kakinya mengeluarkan darah dan air aneh gitu, kami khawatir sekali, kebetulan banget aku pulang pake mobil Isuzu traga, pas aku baru masuk, tiba-tiba Hafisa pingsan. Aku dan Jecky panik, jadi langsung bopong dia masuk ke dalam mobil dan bawa ke rumah sakit.”
“Pas nyampe sini, di anjurkan operasi, kalau tidak bahaya pada bayinya. Kata dokter, Hafisa sudah terjatuh seminggu yang lalu, sehingga air ketubannya pecah, hampir kekeringan, perutnya sakit dan mules karena begitu kata dokter. Aku juga gak terlalu paham menjelaskannya, yang aku ngerti sih begitu. Intinya dia harus operasi, kalo nggak bahaya pada anaknya.” Lil O menggaruk kepalanya karena bingung menjelaskan pada Qiram.
Qiram hanya mengangguk, karena nyatanya dua laki-laki itu sama-sama jomblo sejati, belum pernah menikah, sehingga pengalaman seperti ini adalah hal pertama bagi mereka.
“Kata dokter jatuh seminggu yang lalu? Berarti Hafisa jatuh saat kita tidak ada di rumah ya? Padahal itulah yang aku khawatirkan, aku sudah bilang, kalau ada apa-apa cerita, malah simpan sendiri, untung aja ya! Semoga dia dan anaknya selamat dan bisa melalui operasinya.” Qiram bergumam.
“Iya, aamiin!” balas Lil O.
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih telah setia membaca cerita ini🌹