Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 13 – Bertemu Protagonis Pria Setelah Tidur Bersama 1


__ADS_3

Elina sudah terbiasa bergaul di lingkaran sosial para kaumbangsawan semenjak dia kecil. Jadi di depan orang lain dia pasti akan berperilaku sangat baik. Pun kali ini dia langsung menyapa teman-teman ibunya dengan sangat ramah.


“Hallo, Tante. Ini pertama kalinya saya ikut membantu ibu merangkai bunga. Mohon bantuannya,” kata Elina sambil tersenyum manis.


“Leila, ini putrimu? Kenapa begitu cantik,” puji Vani. Nyonya dari Keluarga Wijaya.


“Selamat datang Elina. Semoga kami tidak mengganggu kegiatanmu,” kata Stevi. Nyonya dari Keluarga Sentana.


“Ini pertama kalinya aku melihat anakmu, Lei. Kenapa kamu menyembunyikan putri yang begitu cantik  selama ini?” kali ini nyonya dari Keluarga Arwinto-Mawar-berbicara.


“Duduklah dan jangan malu. Anggap kita bukan tetua dan jangan canggung,” kata Kumala. Nyonya dari Keluarga Wisnu


“Terima kasih, Tante Vani, Tante Stevi, Tante Mawar dan Tante Kumala atas pujiannya,” ucap Elina. Dia bisa tahu nama-nama orang asing


ini karena sebelum masuk tadi ibunya sudah memberitahukan nama dan ciri-ciri orangnya. Elina bisa mengenali nama orang begitu mudah hanya dengan melihat penampilan yang ibunya deskripsikan.


Elina ikut merangkai bunga dalam diam. Setelah merangkai bunga, hal berikutnya jelas minum teh dan bergosip. Sebenarnya Elina tidak terlalu suka ikut mendengarkan gosip di antara para tetua ini. Tapi dia tidak bisa meninggalkan ibunya dan memberikan kesan yang buruk pada orang lain.


“Elina, kenapa kamu tidak ikut hadir dalam pesta ulang tahun anakku besok hari Selasa? Aku akan memberikanmu undangannya nanti. Bagaimana?” tanya Vani.


“Baik, Tante Vani.”


Ini adalah suatu kebetulan. Ngomong-omong, Elina juga ingin bersosialisasi dan membaur dengan lingkaran elit ibu kota. Dia ingin berteman


dan memiliki jaringan dengan generasi ketiga orang-orang elit ini. Siapa tahu itu akan membantunya nanti jika dia benar-benar bangkrut.


Pesta teh berlangsung dengan damai dan membahagiakan. Dari pesta teh Elina jadi mendapat banyak informasi soal gosip yang tengah beredar di lingkaran sosial ibu kota. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan Elina.


Ketika tes sore sudah selesai, Elina memohon undur diri terlebih dahulu. Dia ingin menyiapkan gaun apa yang akan ia pakai di pesta ulang tahun besok. Seharusnya tidak boleh terlalu sederhana, ini adalah pesta anak satu-satunya dari Keluarga Wijaya. Mereka berempat adalah istri dari 10 orang paling kaya di lingkarang sosial Negara I. dan Keluarga Maharani juga salah satu dari 10 keluarga paling kaya itu. Yang nomor satu jelas itu milik dari Keluarga Giandra.

__ADS_1


Elina yang tidak terlalu suka berbelanja secara langsung ke mall, untuk kali ini dia lebih memilih untuk memanggil para merk terkenal itu ke rumah dan dia akan memilih di rumah. Kemarin dia sudah meminta kepala pelayan untuk memberikannya satu asisten tapi kepala pelayan itu menolak dan bilang kalau kepala pelayan masih bisa diandalkan untuk mengurus keperluan


nonanya.


Keesokan harinya sebuah undangan tiba. Dan Elina juga sudah menyiapkan gaun malam. Gaun Off Shoulder yang berwarna emas itu sangat cocok di tubuh Elina. Dia juga memanggil make up artis untuk mendandani dirinya. Dia harus bersiap dari pagi karena demi tampil maksimal maka dia harus melakukan perawatan tubuh terlebih dahulu. Perawatan dari ujung rambut sampe ujung kaki, pagi ini para pekerja keluar masuk Villa Maharani.


Undangan pestanya adalah malam hari pukul tujuh malam. Dalam sekejap itu sudah waktunya bagi Elina untuk berangkat. Dia harus berangkat


lebih awal karena jarak rumahnya yang jauh dan bisa memakan waktu perjalanan sekitar satu jam tiga puluh menitan. Itupun jika tidak macet di jalan.


Elina masuk ke dalam mobil dengan kado yang sudah kepala pelayan siapkan. Kebetulan anak semata wayang Ibu Vani Wijaya itu adalah


laki-laki. Dia sendiri belum mengecek hadiah apa yang ada di dalam kotak kecil itu. Mungkin dasi? Atau jam tangan? Elina tidak tahu karena dia juga belum bertanya pada Paman Sam.


Setelah memakan waktu satu setengah jam, akhirnya Elina sampai di Villa Wijaya. Vilanya tidak jauh berbeda dengan Villa Maharani. Di sana sudah ada banyak orang yang berada di luar ruangan. Tema ulang tahunnya memang tema luar ruangan. Halaman Keluarga Wijaya didandani sebegitu mewahnya penuh dengan lampu berkelap-kelip.


saat Elina turun dari mobil, dia sempat berdiri mematung sebentar.


dia bertemu Arka di sini? Tapi seingat Elina, Arka tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain selain teman-temannya di ruangan privat. Karena acara kali ini digelar di rumah Wijaya dan akan dihadiri banyak orang, mungkin saja Arka tidak akan datang.


“Haah …” Elina menghela napas lega. dia akhirnya menata pikirannya dan mulai mencari pemeran utama hari ini yaitu Verno untuk menyerahkan hadiah.


“Itu dia!” seru Elina saat melihat Verno dikerumuni oleh beberapa anak muda yang sudah bisa Elina tebak kalo mereka itu adalah anak-anak


generasi ketiga di ibu kota. Dia harus cepat-cepat ke sana dan memberikan hadiahnya lalu kembali dan pulang. Itu karena dia tiba-tiba memiliki firasat yang buruk. Entah apa yang akan terjadi nanti tapi firasatnya mengatakan kalau sesuatu pasti akan terjadi pada dirinya.


“A1 sampai sekarang masih belum ada misi?”


“Mohon bersabar, Nona. Seperti yang sudah saya katakan. Misi akan tersedia jika sudah waktunya bertindak sesuai alur cerita.”

__ADS_1


“Jadi hari ini benar-benar tidak ada hubunganya dengan alur cerita, kan?”


“Benar, Nona.”


“Lalu kenapa aku tiba-tiba memiliki firasat buruk? Tiba-tiba debaran jantungku menjadi cepat. Kenapa aku gugup?” Elina memegangi dadanya


yang berdebar-debar tanpa alasan. Dia gugup bukan main tanpa tahu apa yang dia takuti.


“Mungkinkah Anda memiliki penyakit jantung?”


“Apa?! Katakan lagi! Aku sehat, oke! Sangat sehat. Apa kamu mengutuku untuk memiliki penyakit jantung?”


“Tidak, Nona. Itu karena pernyataan Anda tidak saya pahami.”


“Huh! Sabar, sabar, sabar.” Elina menarik napas panjang dan mencoba menenangkan detak jantungnya. Saat sudah mulai tenang ada seseorang yang memanggilnya.


“Elina? Kamu sudah datang nak?” Itu adalah  Tante Vani, ibu dari Verno.


Elina langsung mengubah wajahnya dan tersenyum manis, lalu berkata, “Hallo, Tante Vani. Selamat malam. Wah! Tante terlihat sangat cantik


malam ini.” Elina memberikan pujian kesopanan pada Vani. Di lingkaran sosial memang sudah biasa untuk sesekali saling melempar pujian.


“Ah, apa yang kamu bicarakan. Tante sudah tua. Kamu juga sangat cantik hari ini. Apa kamu sudah bertemu dengan Verno?”


Elina menggeleng pelan, “Belum, Tante.”


“Oh! Kalau begitu kamu cari sendiri, ya. Tante harus melihat tamu yang lain terlebih dahulu.”


“Silakan, selamat tinggal.” Elina masih mempertahankan senyumnya. Tapi saat dia berbalik, senyum itu seketika hilang.

__ADS_1


Sial! Kenapa orang itu ada di sini!


__ADS_2