
“Haruskah aku memasak makanan yang sederhana dulu? Oh! Kenapa kalian di sini semua? Aku tidak akan menghancurkan dapur, tenang saja. Jadi kalian boleh pergi dan kerjakan tugas kalian masing-masing. Aku hanya membutuhkan satu koki untuk membantuku.” Elina melihat kalau ruangan dapur yang awalnya luas kini terlihat sempit dan sumpek karena ada lebih dari sepuluh
orang yang berdiri di dapur. Mungkin itu malah lima belas orang dengan dirinya.
Elina hanya ingin memasak, oke! Dan dia tidak ingin ditonton seperti topeng monyet yang menjadi pertunjukan bagi semua orang. Dia malu! Ini adalah pertama kalinya dia memasuki dapur dan dia buta dengan semua yang ada di dapur. Baik itu peralatan dan bumbu serta bahan-bahan memasak lainnya.
“Paman Sam, tolong perintahkan para pelayan itu untuk pergi. Aku tidak akan menghancurkan dapur. Jadi tolong semuanya harap tenang saja.
Cukup satu koki masakan Asia yang membantuku.”
“T-Tapi Nona, ini adalah perintah Nyonya untuk mendampingi Anda.”
“Iya, tapi tidak harus sebanyak ini.” Elina menampakan wajah kesalnya. Melihat wajah kesal Elina, kepala pelayan tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah nona mudanya ini.
“Seperti yang kalian dengar. Sebaiknya kalian kembali bekerja dan selesaikan tugas kalian masing-masing,” kata kepala pelayan yang langsung dipatuhi oleh para pelayan. Mereka satu per satu meninggalkan dapur.
Kini dapur terlihat lebih luas dan tidak sesak lagi. Tapi saat menengok ke kanan, dia malah masih melihat kepala pelayan yang berdiri diam. Bukankah dia sudah menyuruhnya untuk pergi? Kenapa masih di situ? “Kenapa Paman Sam masih di sini? Anda juga harus pergi.”
“Baik, Nona.”
Ketika kepala pelayan itu pergi, kini yang ada di dapur besar ini hanya ada dua orang yaitu satu koki masakan Asia dan Elina.
“Pak siapa namamu? Setidaknya aku harus tahu nama Anda.”
“Nama saya Budi, Nona.”
“Oke, Pak Budi. Apa yang harus aku masak? Bagaimana kalau aku belajar memasak telur mata sapi terlebih dahulu? Aku ingin membuat nasi
goreng. Bukankah itu yang paling mudah? Nasi goreng ditambah satu telur mata sapi. Hehe!” Elina merasa bangga dengan idenya saat ini. Tapi dia tidak tahu kekacauan apa yang akan dia buat nantinya.
Apakah nonanya ini bahkan tidak bisa memasak telur mata sapi? Yah, itu bisa ditolerir. Nonanya saja bahkan tidak pernah memasuki dapur. “Baik, Nona.”
“Pertama-tama apa yang harus aku lakukan?” Elina memindai dapur ini yang sangat bersih seperti tidak ada satupun noda.
“Di mana telurnya? Aku tidak melihat ada telur di sini.”
Sang koki sakit kepala. “Nona, pertama-tama mari kita gunakan apron agar baju nona tidak kotor nantinya. Dan untuk telur disimpan di lemari es.”
__ADS_1
“Di mana apronnya? Oh! Itu dia.” Elina berjalan ke tempat apron disimpan. Lalu dia mengambilnya dan memakainya. Tapi dia tidak bisa! “Pak Budi bagaimana cara memakai apron ini?” tanya Elina dengan polosnya. Dia punya otak, oke! Hanya saja tidak digunakan untuk berpikir saat ini.
Sang koki benar-benar dibuat kagum atas ketidaktahuan nonanya. Itu hanya apron! Kenapa tidak bisa memakainya? Tapi sang koki hanya diam dan datang untuk membantu, “Seperti ini, Nona.”
“Pertama-tama ambil satu butir telur,” kata koki.
“Siapa yang mengambil telur? Pasti bukan aku, kamu? Kamu tidak menyuruhku untuk mengambil telur, kan?” tanya Elina polos. Dia tidak biasa bekerja di dapur. Dia tidak tahu apa-apa. Sungguh! Dia hanya tahu memerintah, bukan diperintah! Catat itu dengan baik.
Koki : “…”
Sang koki akhirnya menyerah. Dia sendiri yang akhirnya pergi mengambil telur dan menyerahkan telur itu pada Elina.
“Lalu apa?”
“Lalu panaskan teflon dengan api sedang. Masukan minyak dan tunggu sesaat dan masukan telur ke dalam teflon,” jelas Pak Budi.
“Oke, pertama panaskan teflon …” Untung di atas kompor sudah ada teflon jadi Elina tidak perlu repot-repot bertanya. “Lalu bagaimana cara menyalakan kompornya?”
“Seperti ini, Nona.” Sang koki mempraktikan cara menyalakan kompor dan langsung mengatur besar nyala apinya.
“Kemudian masukan minyak.” Elina menuang minyak cukup banyak membuat sang koki terkejut dan memekik dengan suara cukup tinggi hingga mengagetkan Elina.
teflon yang sudah diberi sedikit minyak sayur.
“Lalu masukan telor?” Elina memasukan telur bulat langsung tanpa memecahkannya terlebih dahulu.
Koki : “…”
Pak Budi ingin menangis rasanya. Dan sangat menyesal telah berinisiatif dan mencalonkan diri untuk mengajari nona mudanya memasak. Ini sama saja mengajari bayi untuk memasak. Apakah nonanya tidak punya otak? Kenapa
menggoreng telur tanpa memecahkan cangkangnya terlebih dahulu.
“Haah …” Pak Budi menghela napas panjang. Dia mencoba sebisa mungkin untuk bersabar. Pak Budi buru-buru mematikan kompor dan mengambil sebutir telur. “Biarkan saya praktikan terlebih dahulu dan Nona bisa melihatnya dari samping.”
“Oh … apa aku salah?”
Sangat salah!
__ADS_1
“Tidak, Nona. Itu wajar karena ini pertama kalinya Nonabbelajar memasak. Nona akan memasak nasi goreng, kan? Maka saya juga akan langsung mempraktikannya terlebih dahulu.”
“Oke.”
Sepanjang koki memasak, Elina menatap dari samping dengan patuh dan sesekali berkomentar.
“Oh! Saat memasak telur cangkangnya harus dibuka dulu menjadi dua.”
Koki : “… “
Tak lama kemudian satu piring nasi goreng dengan toping telur mata sapi dihidangkan di depan Elina.
“Wow! Sepertinya mudah! Aku pasti bisa membuatnya, kan Pak Budi?”
Kenapa Anda tanya saya! Batin Pak Budi. Dia benar-benar menyesal memiliki murid yang seperti nonanya ini.
“Nah, sekarang tinggal Nona yang memasak sendiri.”
“Tapi aku tidak mau memotong bawang dan cabai. Bagaimana jika tanganku teriris? Terus kalau kuku cantiku ini rusak?”
Koki : “…” Sang koki benar-benar tidak bisa berbicara saat ini emosinya sudah mencapai puncaknya namun sayang dia tidak bisa melampiaskannya. Hanya bisa ia pendam dalam hati. Oh! Tuhan, kenapa nonanya begitu manja.
“Mari kita haluskan bumbu dengan blender.”
Elina patuh. Saat bumbu sudah disiapkan kini tinggal eksekusi memasaknya.
“Nona! Garamnya terlalu banyak!”
“Nona! Awas gosong!”
“Nona, hati-hati saat mengaduknya jangan sampai berceceran!”
Mulut Pak Budi tidak bisa berhenti. Kenapa memasak saja bisa membuatnya sangat khawatir seperti ini. Dia belum pernah bertemu orang yang
benar-benar tidak bisa memasak seperti nonanya. Kenapa begitu ceroboh.
“Nah! Selesai!” seru Elina dengan bangganya.
__ADS_1
Koki yang sakit kepala melihat kekacauan dapurnya tidak bisa berpura-pura untuk memuji masakan Elina. Dia bahkan tidak yakin apa makanannya layak untuk dimakan. Itu hampir gosong dan baunyapun tidak seenak masakan yang ia masak. Jelas nonanya sudah mengikuti resepnya, kenapa saat sudah jadi malah
terlihat hancur seperti ini.