Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 19 - Pura-Pura Hamil 1


__ADS_3

Satu minggu ini Elina telah belajar memasak dengan giat. Ya! Dia sudah menguasai satu menu masakan. Ingat! Satu menu! Yaitu nasi goreng


dengna toping telur mata sapi. Satu minggu terakhir yang dia lakukan hanya memasak dan memasak.


Elina merasa tertekan saat kuku cantiknya yang rusak dan dia harus melakukan perawatan lagi. Untuk menebus perawatan tubuhnya, hari ini


Elina tidak lagi ingin belajar memasak. Dia ingin perawatan, oke! Sudah lama dia tidak melakukan hal favoritnya ini. Dia ingin menangis tanpa air mata. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan sistem. Kenapa menyuruhnya untuk memasak


dan diberikan kepada Arka. Dia kan bisa saja memesan makanan di restoran mewah


dan tidak perlu repot-repot memasak sendiri.


Elina bersiap untuk pergi ke salon. Saat dia sedang berganti pakaian, tiba-tiba sistem muncul kembali.


Ding!


[Pengingat! Memasak makanan untuk Arka dan biarkan Arka memakan masakan yang tuan rumah masak. Hadiah uang 50 juta. Jika gagal maka uang tidak akan didapat dan justru akan dikurangi. Terima atau tolak. Misi masih belum dijalankan. Batas waktu tinggal 1 hari. Jika dalam 1 hari tidak selesai maka misi dianggap gagal.]


“Sial!”


Rencana hari ini adalah untuk perawatan. Tapi kenapa sistem malah muncul di saat yang tidak tepat. Elina kira misinya tidak dibatasi waktu jadi dia sedikit bersantai. Tapi apa ini?


“A1!”


“Ya?”


“Kenapa kamu tidak bilang kalau ada batas waktunya. Sekarang aku ingin melakukan pewaratan dan aku tidak mau memasak hari ini. Lihat! Semua jariku berubah jadi jelek,” keluh Elina.


“Jika Nona tidak ingin melakukan maka tolak misinya dan Anda tidak akan mendapatkan uang. Ini adalah misi utama dari sistem untuk perkembangan alur cerita.”


“Kamu! Hah, baiklah!” ketus Elina. Dia tidak jadi berganti baju dan langsung pergi ke dapur. Sekarang dia sudah agak terbiasa pergi ke dapur meski belum hafal terlalu banyak hal seperti bumbu dan alat-alat memasak lainnya.


Elina berjalan dengan langkah malas saat dia pergi ke dapur. Saat memasuki dapur tidak ada seorang pun di sana. Itu karena ini adalah pagi hari sekitar jam sembilan dan koki biasanya hanya akan di dapur sekitar satu jam sebelum makan siang.


Elina mengambil apron dan memasangkannya ke tubuhnya. Sekarang dia mahir dalam memakai apron. Lalu dia menyiapkan bumbu-bumbu yang

__ADS_1


diperlukan seperti bawang putih, bawang merah, cabai secukupnya, dan kencur untuk dihaluskan bersama. Di dapur ada ulekan tradisional, tapi tidak mungkin seorang nona bangsawan ini mengulek. Jadi dia menghaluskan bumbunya menggunakan blender.


Elina memasak nasi goreng rasa kencur. Memasak nasi goreng rasa kencur tidak memerlukan kecap jadi dia tidak mengambil kecap.


Lalu siapkan wajan penggorengan, nyalakan kompor di api sedang. Tuangkan minyak secukupnya dan tunggu hingga minyak memanas. Saat sudah panas maka masukan bumbu yang sudah dihaluskan, lalu aduk sampai tercium bau harum dan sedikit matang. Tambahkan garam dan penyedap rasa, lalu aduk lagi. Langkah terakhir adalah masukan nasi putih dan aduk hingga merata.


Saat nasi goreng sudah dimasukan ke kotak makan, Elina lalu membuat topingnya, yaitu telor mata sapi setengah matang.


Langkahnya hampir sama. Panaskan teflon yang sudah diberi sedikit minyak sayur dengan api sangat kecil, jika sudah panas lalu pecahkan


telur dan masukan ke dalam teflon. Tunggu beberapa saat tapi jangan sampai gosong dan tidak perlu dibalik. Maka bagian atas telur akan matang kira-kira 70%nya.


Letakan telur di atas nasi goreng dan tutup kotaknya dan masukan kedalam wadah khusus dengan isolasi yang bisa mempertahankan panas.


Elina mengendus tubuhnya yang bau asap dan bau bumbu. Dia merasa jijik dengan bau badannya sendiri. Lalu dia kembali ke kamarnya dan bersiap untuk mandi. Karena dia akan mengantarkan makan siang untuk Arka maka dia


harus berdandan dengan cantik. Berdandan bukan demi Arka. Jelas tidak! Dia berdandan karena pasti nanti akan ada banyak orang yang akan melihat. Sebagai wanita kaya, dia tidak boleh tampil dengan jelek. Itu harus elegan dan cantik.


Kali ini Elina memilih Sheath dress dengan panjang selutut. Dress yang mampu menonjolkan lekuk tubuhnya tapi masih terlihat kasual dan sopan ini adalah kesukaan Elina.


“Kakak, kenapa kaka sudah pulang? Bukannya perjalanan bisnisnya memakan waktu kira-kira satu bulan?” Elina cukup senang melihat kakaknya pulang.


“Ternyata bisa diselesaikan dalam waktu dua minggu. Kenapa kamu masuk ke dapur? Tumben sekali. Apa matahari terbit dari Barat?”


“Aku memasak.” Bahu Elina terangkat tinggi merasa bangga dan melapor pada kakaknya seolah meminta pujian.


Neo membelalakan matanya tidak percaya, “Kamu? Ke dapur? Memasak? Hehe, siapa yang kamu bohongi. Kamu pikir aku percaya?” Neo sangat meremehkan adiknya ini. Seingat dia, adiknya ini tidak akan pernah mau memasuki


dapur apalagi memasak sendiri.


“Kakak tidak percaya? Lalu coba masakanku. Kakak duduk di ruang makan, aku akan mengambilkan masakan yang aku masak.”


Tanpa Elina sadari dia mulai mandiri. Tanpa memanggil pelayan, dia mau memasuki dapur dan melayani kakaknya.


“Oke. Coba aku lihat apa benar kamu yang memasak.” Neo menuruti permintaan Elina dan menunggu dengan patuh di ruang makan.

__ADS_1


Kebetulan Elina memasak cukup banyak dan masih ada sisa sedikit. Jadi dia dengan cepat menyajikan nasi goreng yang sudah mendingin itu dan kembali memasak telur mata sapi.


“Lihat! Ini adalah hasil masakanku setelah latihan satu minggu!” Elina kembali membanggakan dirinya sendiri.


Neo : “…”


“Kenapa tidak dimakan?” tanya Elina saat melihat Neo hanya diam menatap sepiring nasi goreng.


“Hanya nasi goreng?”


“Iya! Dan telur mata sapi. Jangan lupakan topingnya. Aku memasak sendiri.”


“Kamu berlatih berhari-hari untuk menu sederhana ini? benar-benar hanya nasi goreng? Apakah ini bisa dimakan? Kamu yakin aku tidak


akan keracunan makananmu, kan?”


“Kakak!” seru Elina merasa kesal dengan ejekan Neo. Dia sudah susah payah belajar berhari-hari dan menyingkirkan jadwal perawatannya dan mengorbankan tangannya dan jarinya yang lentik. Tapi apa tanggapan kakaknya ini. apa? Keracunan katanya?


“Kalau begitu jangan dimakan! Sini!”


“Baiklah, baiklah. Akan aku makan. Jangan marah. Jangan menangis.”


“Siapa yang menangis!” keluh Elina.


Neo perlahan menyendok nasi goreng. Wajahnya menunjukan mimik yang sangat kesakitan seolah-olah dia dipaksa untuk meminum racun.


Padahal itu hanya nasi goreng. Sendok itu perlahan memasuki mulut Neo.Neo sudah bertekad akan tetap memuji masakan adiknya ini meski nanti masakannya tidak enak, dia akan tetap memujinya. Dia perlahan mengunyah dan mengunyah mencoba menikmati makanannya.


“Sial! Ini enak!”


Mata Elina berbinar. “Benarkah? Kalau begitu Arka pasti akan menyukainya,” kata Elina tanpa sadar.


Neo hampir tersedak nasi goreng saat mendengar nama Arka disebutkan. “Apa? Kamu akan memberikan nasi goreng ini untuk Arka? Elina, kakak sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk menjauh dari Arka. Jangan ganggu dia.”


“Aku tidak peduli, wlee.”

__ADS_1


Elina pergi dengan kotak isolasi makanan di tangannya. Meninggalkan Neo yang memasang wajah muram.


__ADS_2