
Clara sengaja berjalan melambat di belakang. Dia mengambil ponselnya dan berpura-pura menjawab telepon. Dia harus pergi dan memberikan ruang untuk kakaknya dan Elina. Menjadi obat nyamuk? Hehe bercanda! Siapa yang ingin mengganggu waktu romantis orang lain dan menjadi obat nyamuk. Yang pasti bukan Clara orangnya. Dia juga tidak ingin mencicipi makanan di kafetaria. Yah, sangat pas. Dia bisa menghindar dari menjadi obat nyamuk dan makan makanan kafetaria. Ini seperti membunuh dua burung dengan satu batu.
“Halo? aku sedang berada di perusahaan … pulang? Iya aku akan segera pulang!” Clara sengaja meninggikan suaranya yang bisa didengar jelas oleh Bara dan Elina.
Elina menoleh ke belakang dan bertanya, “Ada apa?”
Clara menyimpan ponselnya dan kemudian menatap Elina sambil menjawab, “Tidak apa, ibuku memintaku untuk segera pulang. Mungkin sesuatu terjadi. Aku tidak bisa ikut dengan kalian. Maafkan aku, El.”
Clara tidak berani menatap mata Bara. Tapi meski begitu, dia masih bisa merasakan tatapan tajam kakaknya yang seolah bisa berkata “Kebohongan macam apa yang kamu katakan!” Clara memang tidak bisa berbohong di depan kakaknya. Tapi ini demi masa depan Kakaknya dan dia terpaksa berbohong. Seharusnya Bara sadar dan tidak mengekpos kebohongannya.
Beruntung karena Bara hanya menatap Clara dan setelah itu dia tidak mengatakan apa-apa. Elina yang polos itu jelas mempercayai kebohongan
Clara.
Mereka menunggu lift tiba dan saat pintu lift terbuka, mereka semua masuk ke dalamnya.
“Begitu. Lalu kamu bisa pulang. Kita bisa bermain lain waktu.”
“Yah. Kalau begitu kalian nikmati makan siang di kafetaria. Kakak, jangan lupa antar Elina pulang. Dia tadi datang bersamaku dan tidak membawa mobil sendiri.” Clara jelas sangat membantu kakaknya untuk bisa lebih dekat dengan Elina. Sebenarnya Elina bisa memanggil sopirnya, tapi Clara jelas memperingatkan kakaknya bahwa dia harus mengambil kesempatan emas ini.
“Tentu.” Bara jelas tahu maksud adiknya. Dia juga akan dengan senang hati mengantar Elina pulang dan menghabiskan waktu lebih lama dengan Elina. Yah, meskipun itu akan membuat pekerjaannya tertunda. Itu tidak apa-apa, dia bisa begadang malam ini. Dia siap dengan konsekuensinya.
Elina hanya menyaksikan dari samping saat dua bersaudara itu memutuskan nasibnya dan dia hanya bisa mendengar dalam diam tanpa bisa menyela atau menolak.
“Kalau begitu aku pergi.”
“Ya, hati-hati.” Pintu lift tiba di lantai satu dan saat
terbuka Clara dengan cepat melangkah keluar meninggalkan Bara dan Elina yang keluar dengan berjalan santai.
Saat Elina dan Bara berjalan menuju kafetaria, itu menjadi pusat perhatian dan membuat para karyawan yang sedang makan tanpa sadar
menghentikan kegiatan mereka dan mentap penuh kejutan karena bisa melihat bos besar
mereka pergi ke kafetaria. Ini adalah hal yang langka! Sangat amat langka, terlebih ada seorang wanita cantik di sebelahnya. Mereka bertanya-tanya, apakah wanita itu calon istri bos mereka.
__ADS_1
“Bagaimana cara mendapatkan makanannya?” Elina jelas bingung. Ini adalah pertama kalinya dia pergi ke kafetaria perusahaan orang lain. Dan
dia tidak memiliki kartu karyawan yang bisa digunakan untuk mengambil makanan. Ya, setiap perusahaan akan memberikan jatah makanan yang bisa diambil dengan jaminan kartu karyawan.
“Ikuti aku,” kata Bara. Dia memang belum pernah makan di kafetaria perusahaannya, tapi dia tahu tata cara mendapatkan makanan. Meskipun
tanpa kartu karyawan, dia masih akan bisa mendapatkan makanan. Dia kan bosnya, pikir Bara.
Bara memimpin jalan dan mengambil dua nampan. Dia tidak membiarkan Elina memegang nampan itu karena dia tahu, Elina ini sudah terbiasa dilayani oleh orang lain. Dia tidak mungkin membiarkan Elina mengantri makanan.
“Kamu bisa duduk di sana. Aku akan mengambilkan makanan untukmu. Apa yang ingin kamu makan?”
Elina sangat berterima kasih pada Bara yang peka. Ya, Elina memang ingin makan di kafetaria, tapi bukan berarti dia ingin ikut berdiri mengantri seperti orang lain. Beruntung Bara mau mengambilkan makanan untuknya. “Aku ingin makan apa saja yang tersedia di kantin ini. Samakan saja dengan menu Kak Bara.”
“Oke. Tunggu di sana.”
Elina patuh. Dia berjalan menuju kursi kosong yang tersedia. Meski banyak pasang mata yang menatapnya, tapi dia tidak begitu risih dan
memaklumi mereka yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
“Apa kamu menunggu lama? Maafkan aku.”
Elina tersenyum manis. Lalu menggeleng pelan, “Tidak apa-apa.”
“Makanlah.” Bara meletakan nampan yang berisi makanan dengan porsi yang sedang. “Jika tidak habis jangan dipaksakan, aku bisa memakan
sisanya.” Kata-kata yang Bara katakan seperti seorang kekasih yang sudah sering menghabiskan sisa makanan pacarnya.
Elina tentu saja menolak. Bagaimana dia bisa membiarkan orang lain menghabiskan sisa makanannya. Itu tidak sopan. “Tidak. Aku bisa
menghabiskannya.”
***
Itu sudah lewat jam satu siang saat Elina berada di dalam mobil Bara. Dia tidak menolak kebaikan Bara yang ingin mengantarnya pulang. Dia tahu Bara sibuk, tapi akan begitu munafik jika dia menolak kebaikan orang lain. Dia akui dia lelah dan itu akan menunggu waktu lama jika memanggil sopirnya untuk datang menjemputnya.
__ADS_1
Elina tidak tahu kenapa setelah makan dia merasa sangat mengantuk. Itu sebabnya dia tidak menolak Bara yang ingin mengantarnya pulang
karena dia ingin segera sampai di rumah dan tidur.
Elina yang sudah sangat mengantuk itu tertidur tanpa ia sadari.
Bara tidak bisa berkata apa-apa saat dia melirik orang yang duduk di sampingnya tapi matanya sudah terpejam. Dia ingin mengobrol dan
membicarakan banyak hal. Tapi gadis ini malah tertidur. Dia sama sekali menurunkan kewaspadaannya. Bagaimana jika Bara itu orang jahat? Kenapa Elina bisa tertidur begitu mudahnya. Apakah dia sudah mempercayai dirinya sehingga Elina bisa merasa santai dan nyaman di dekatnya?
Bara tidak bisa menahan senyumnya. Dia terus mengendarai mobilnya menuju Villa Maharani dengan perasaan gembira.
Elina membuka matanya. Dia bangun dan saat menyapukan pandangannya keluar jendela, itu adalah pemandangan rumah besar yang familiar. Sepertinya sudah sampai. Saat dia menoleh, dia mendapati Bara yang sedang memejamkan
matanya.
Apakah dia tertidur begitu lama dan membuat Bara menunggunya sampai bangun dengan sendirinya? Bukankah itu akan sangat membuang-buang waktu. Kenapa orang ini begitu baik padanya. Seharusnya dia membangunkannya saja daripada menunggunya untuk bangun sendiri. Elina merasa malu dan juga
tersentuh.
“Kakak! Maafkan aku.”
Bara membuka matanya dan menatap Elina. Dia tidak benar-benar tertidur. Dia hanya memejamkan matanya sambil menunggu Elina bangun sendiri karena dia tidak mau mengganggu istirahatnya.
“Apa aku membuatmu menunggu begitu lama? Kenapa Kakak tidak membangunkan ku? Maafkan aku.” Elina merasa sangat bersalah dan dia menurunkan alisnya dan ekspresinya berubah sedih.
“Tidak. Itu tidak lama.” Bara berbohong. Menunggu Elina bangun dia setidaknya menunggu satu jam lamanya. Dia benar-benar membuang-buang waktu sebenarnya.
“Maafkan aku.” Elina benar-benar merasa sangat bersalah dan tidak enak hati.
“Kalau begitu tolong jawab satu pertanyaanku.”
“Apa itu?”
“Apa kamu masih menyukai Arka?”
__ADS_1