Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 81 – Apa Itu Anakku?”


__ADS_3

Mata Arka menatap tajam ke arah Bara. Dia diam-diam menebak kalau anak yang dikandung Elina adalah anaknya.


“Tunggu!” Arka menghentikan Bara yang membantu Elina berdiri berniat berjalan menuju ruang pemeriksaan.


Bara tidak mengindahkan perintah Arka dan hanya fokus membantu Elina. Begitupun juga Elina, dia hanya diam dan tidak mau repot-repot


melirik Arka.


“Sudah berapa bulan?” Arka mengikuti Bara dan Elina yang sudah berjalan.


“5 bulan. Sekarang Tuan Arka boleh pergi,” jawab Bara dingin. Seharusnya jawabannya cukup untuk membuat Arka diam dan pergi. Tapi perkiraan Bara salah. Nyatanya Arka tetep kekeh mengikuti.


Arka mengambil lengan Elina dan membuatnya terpaksa berhenti dan berbalik. Elina menatap Arka kesal dan penuh keluhan. Apa-apaan, dia ingin segera masuk ke ruang pemeriksaan dan tidak ingin membuang-buang waktu dengan Arka.


“Elina, apa itu anakku? Benar kan? Itu sesuai dengan malam panas kita!”


Kali ini Elina langsung menatap Arka tajam dan penuh kebencian. Sial! Apa yang dia katakan tadi? Malam panas? Seolah-olah mereka memiliki malam panas yang penuh gairah. Omong kosong apa! Elina saja tidak begitu ingat rasanya. Yang ia rasakan dan ingat hanyalah rasa sakit! Laki-laki


yang masih memegang lengannya dan tidak mau melepaskan ini berbicara hal yang membuat orang lain salah paham.


Elina diam-diam melihat Bara yang sudah jelas langsung menegerutkan keningnya tidak suka saat Arka berkata “Malam panas” dia tahu apa


maksud Arka. Bara mengepalkan tinjunya. Andai saja malam panas itu miliknya dan Elina.


“Apa yang kamu katakan? Aku tidak peduli. Cepat lepaskan! Jangan membuang waktuku.”


“Oke. Aku akan menunggumu di luar.”


“Tidak! Kak Arka pergi.”


“Baiklah.” Arka hanya bisa berkompromi untuk saat ini. Dia tidak ingin membuat Elina kesal. Masih ada waktu untuk menemuinya dan mengejarnya.


***


Pemeriksaan kandungan sudah selesai dan kini Elina sedang bersantai menonton TV dengan sekeranjang kecil buah stroberi di tangannya.


Elina memakan buah itu dengan nikmat tidak sampai Paman Sam menghampirinya.


“Nona.”

__ADS_1


“Ada apa?” Elina menjawab sambil terus mengunyah seperti hamster.


“Di luar villa ada wanita yang mengaku sebagai teman Nona dan ingin melihat Nona.”


Gerakan mengunyah Elina terhenti. Dia berpikir dalam-dalam apa itu sahabat plastiknya yang sudah lama tidak menghubunginya? Lusi dan


Sania? Dengan keberanian apa mereka menemui Elina?


“Apa itu dua orang? Lusi dan Sania?”


“Bukan, Nona. Itu satu orang. Namanya Bulan.”


“Bulan?” Elina jelas terkejut. Dia tidak percaya pahlawan wanita akan datang menemuinya. Ada apa? Apakah ini untuk berteman atau untuk


mencari masalah dan memperingatkan dirinya untuk menjauh dari Arka. Tapi Elina selama ini sudah menjauh dari Arka. Jadi untuk apa Bulan datang kepadanya?


“Biarkan dia masuk.” Meski penasaran dengan maksud kedatangan Bulan, nyatanya Elina masih cukup tenang dan tidak gugup. Dia masih


fokus menghabiskan stroberi dan lanjut


menonton TV.


Paman Sam tidak tahu kenapa nonanya membuat tamunya menunggu terlalu lama. Tapi dia tidak punya hak untuk menanyai majikannya. Dia hanya


bisa patuh dan mengiyakan, “Baik, Nona.”


Sementara itu di depan pagar villa, seorang wanita cantik berdiri di tengah panasnya matahari. Bulan sengaja menghampiri Elina karena dia penasaran kenapa karakter yang ia tulis sebagai penjahat dan seharusnya


mengganggunya kenapa diam saja dan tidak mengusiknya. Dia ingin memastikan sendiri karakter Elina ini seperti apa. Apa karena kedatangannya membuat perubahan alur dan membuat Elina menyerah pada Arka? Itu tidak benar. Jika Elina tidak mengganggunya, maka kemajuan dirinya dengan Arka mungkin akan


semakin sulit. Maka dari itu Bulan ingin memancing Elina agar dia bertindak jahat kembali sesuai alur.


Bulan ingin mengutuk karena Elina membuat dirinya berdiri di depan gerbang begitu lama di siang hari bolong begitu. Ini sudah 30 menit!


Tapi tunggu, bukankah ini salah satu tindak kejahatan Elina yang menyiksanya di tengah panas seperti ini? Bukankah Elina sengaja?


Sudut mulut Bulan terangkat. Dia terkekeh riang. Benar, sekali penjahat tetaplah penjahat. Bulan diam-diam senang dengan perlakuan Elina


yang seperti ini dan akan mempermudah dirinya mengeluh kepada Arka nantinya. Biar Arka lihat wanita seperti apa Elina itu. Bulan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Arka dan mengadu. Tapi untuk saat ini dia masih harus menahan kemauannya karena dia masih ingin melihat Elina dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu gerbang dibuka dan tidak ada orang yang menyambutnya. Bulan pikir setidaknya pelayan akan menyambut tamu. Tapi nyatanya tidak ada orang yang menjemputnya. Meski Bulan kesal dengan perlakuan ini, tapi


dia tetap berjalan memasuki vila.


Bulan melihat-lihat vila yang besarnya sama dengan Vila Giandra. Dia mencibir tidak suka. Cepat atau lambat keluarga Maharani akan


mengalami kebangkrutan. Saat itu hanya Bulan yang akan berdiri di puncak kekayaan. Bulan yakin itu.


“Nona, silakan masuk.”


Ternyata ada pelayan yang menunggunya di pintu masuk rumah. Bulan langsung masuk ke dalam rumah mengikuti pelayan itu dan langsung berjalan menuju ruang tamu.


Di sana Bulan melihat seorang wanita cantik yang sedang makan buah dengan perut buncit menyaksikan acara dalam TV.


Bulan mencoba menjernihkan penglihatannya. Apa yang ia lihat adalah nyata? Apa itu Elina? Kenapa perutnya buncit? Apa selama ini dia tidak


menganggunya karena Elina mengalami penyakit yang membuatnya buncit? Sejenis tumor? Tapi sepertinya itu tidak mungkin dan tidak masuk akal.


Atau mungkinkah Elina hamil?


Hamil?


Bulan tercengang dengan tebakannya sendiri. Apa-apaan! Sungguhkah? Elina hamil? Tapi dengan siapa?


Bulan berhenti dan otaknya sibuk mencerna kemungkinan yang ia tulis. Bukankah dirinya menulis plot Elina meresepkan obat untuk Arka. Mungkinkah wanita ini bodoh dan tidak meminum obat pencegah kehamilan keesokan harinya? Pasalnya dia tidak pernah menulis tentang kehamilan Elina. Jadi bagaimana bisa Elina hamil?!


Bulan benar-benar tidak percaya.


“Nona, tamunya ada di sini.”


Elina menoleh dan melirik Bulan, lalu meletakan keranjang stroberi dan membenarkan posisi duduknya sehingga perutnya terlihat lebih menonjol dan besar.


“Duduk,” kata Elina dengan suara lembut dan anggun. Membuat Bulan merinding dengan suaranya yang mengalun seperti celo. Apakah ini efek kehamilan? Tidak! Bulan harus tenang dan dia mencoba menyetabilkan emosinya. Tujuan


dia ke sini adalah untuk memancing Elina supaya bertindak sesuai alur. Dia harus membuat Elina marah dan hilang kesabaran. Kali ini tidak boleh gagal.


Bulan dengan angkuh duduk. Tidak memperhatikan sikapnya yang seharusnya menunjukan sikap lemah lembut sama sekali. Ini karena dia ingin menunjukan posisinya.


“Elina, aku harap kamu menjauh dari Arka,” kata Bulan langsung berharap dan menantikan respon Elina yang seharusnya akan langsung meledak di tempat.

__ADS_1


“Maafkan aku. Tapi, apakah aku mengenalmu? Kamu siapa?”


__ADS_2