
“Terima kasih, Kak,” kata Elina yang berdiri di samping Bara yang sedang mengeluarkan koper dan tas punggung Elina.
“Taruh saja di tanah. Nanti akan diambil sama pelayanku.”
“Oke.”
Elina : “…”
Suasana benar-benar canggung. Clara tidak ikut turun dari mobil karena sengaja ingin memberikan ruang bagi kakaknya untuk lebih
berkomunikasi dengan Elina.
“Kalau begitu aku pergi. Istirahatlah.” Bara menutup bagasi dan bersiap untuk berjalan ke sisi mobil, tapi langkahnya terhenti saat Elina
menarik lengannya.
“Tunggu!” Elina tanpa sadar meraih lengan Bara saat pria itu akan melangkah. Elina benar-benar tidak menyadari kalau tindakannya membuat
jantung Bara berdetak sangat kencang seolah ingin melompat keluar.
“Ah! Maaf!” Elina melepaskan tangannya dari lengan Bara. “Begini, untuk berterima kasih, aku ingin mengundang Kak Bara untuk makan malam. Kapan Kakak ada waktu? Hubungi aku, aku akan mentraktir Kakak makan. Bisakah?” Elina menatap Bara.
“Tentu,” kata Bara singkat. Itu karena dia sangat gugup sampai seolah lupa untuk berbicara dengan layak.
“Kalau begitu aku akan masuk. Sekali lagi terima kasih!” Elina langsung berlari masuk meninggalkan Bara yang masih berdiri diam melihat Elina yang terlihat seperti kelinci yang melarikan diri dengan sangat lucu.
Bara hanya terkekeh kecil dan masuk ke dalam mobilnya.
“Sangat senang?” tanya Clara yang melihat Bara masuk ke dalam mobil dengan senyum lembutnya. Laki-laki yang biasa berwajah kaku ini
juga bisa berekspresi lembut juga. Ini sangat langka.
“Bukan urusanmu.”
“Cih! Itu juga berkat aku yang membuat kesempatan Kakak untuk bisa mendekati Elina. Jangan lupakan apa yang aku minta.”
“Hmm.”
Mobil melaju pergi meninggalkan Villa Maharani dan meninggalkan tas dan koper yang sengaja ditinggal di halaman oleh Elina. Ini sudah
__ADS_1
di rumah dan dia bisa kembali bertindak sesuai rutinitasnya. Tidak mungkin dia mengangkat sendiri barang-barangnya saat para pelayan ada untuk bekerja.
Ini sudah tengah hari lewat saat Elina sampai di rumah. Dia tidak nafsu makan dan langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri dengan cepat dan dia akan segera melakukan hal yang paling penting untuk ditebus yaitu … tidur!
Ya, Elina benar-benar sangat mengantuk. Dia tidak tahu kenapa dia merasa sangat lelah dan mengantuk, ini pasti karena dia sudah bekerja keras di pedesaan dan kelelahan. Dia tidak terlalu banyak berpikir dan setelah mandi dan berganti baju menjadi piyama sutra, dia dengan mudah tertidur dalam hitungan detik.
Waktu terus berjalan. Siang berganti sore, sore berganti malam dan malam berganti pagi. Ya, Elina tidur seperti orang mati. Dia tidak
bergerak sedikitpun dan dia tidur dalam posisi yang sama selama semalam. Pada pukul 9 pagi dia terbangun. Dia bangun karena perutnya terasa sangat lapar.
Elina menguap sambil meregangkan tubuhnya. Meski dia tidur lama entah kenapa dia masih merasa sangat lelah.
Apa dia masih kurang istirahat? Haruskah dia tidur lagi setelah makan? Elina berpikir demikian. Dia dengan malas turun dari kasur empuknya dan berjalan dengan gontai ke ruang makan. Matanya sepertinya bengkak karena dia masih kesulitan membuka mata. Jadi dia berjalan dengan sangat lambat dan berhati-hati agar tidak jatuh menggelinding di tangga.
“Apa kamu baru bangun?”
Suara dari bawah tangga membuat Elina kesal. Apa mata orang yang bertanya itu buta? Atau orang ini bodoh. Kenapa masih bertanya dan
membuatnya kesal!
“Apa kamu buta?”
bangsawan. Kenapa perangainya tidak anggun seperti adik-adik orang lain. Kenapa adiknya sangat berbeda!
“Apa yang kamu katakan? Coba ulangi!”
“Ck! Bodoh!” Elina melewati Neo begitu saja dan melengos ke ruang makan dan langsung duduk tanpa memperhatikan kakaknya yang sudah memasang wajah terluka dengan dibuat-buat.
“Akan aku adukan pada Arka sisimu yang jelek ini,” ancam Neo. Biasanya jika Elina mendengar kata Arka, dia akan langsung berubah menjadi
anggun dan bersikap manis padanya. Tapi apa yang dia dapatkan sekarang? Tidak hanya Elina tidak meresponnya dan bertingkah manis, adiknya bahkan hanya meliriknya dengan pandangan penuh rasa penghinaan seolah berkata “Aku tidak peduli, lakukan sesukamu!”
Neo jelas terkejut. Kali ini benar-benar terkejut sampai dia membuka mulutnya tidak percaya. “Apa kamu sudah tidak menyukai Arka lagi? Apa kamu tidak ingin menikah dengan Arka? Apa yang terjadi? Bukankah kamu bersenang-senang di pedesaan bersama Arka?”
Elina hanya melirik Neo dan detik berikutnya dia menoleh ke arah dapur dan mengabaikan Neo sepenuhnya. Kata “Arka” sudah tidak berpengaruh lagi padanya. Dia tidak peduli. Yang Elina pedulikan sekarang adalah mengisi perutnya yang sudah lama memperotes kelaparan.
Tak lama kemudian sebuah hidangan barat muncul. Saat hidanganbitu diletakkan di depannya, saat mencium aroma masakan, Elina tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah.
Apakah karena asam lambungnya naik karena sudah lama tidak diisi atau ini karena dia terlalu banyak makan mie instan? Elina membekap
__ADS_1
mulutnya agar dia tidak muntah. Tapi tetap saja dia merasa mual hingga dia memutuskan untuk berdiri dan menjauh.
“Ganti makanannya. Aku ingin bubur. Sepertinya perutku bermasalah. Bawakan buburnya ke kamarku. Aku ingin istirahat.”
“Baik.” Pelayan yang berdiri dan baru saja menyajikan makanan itu mengangguk patuh.
Selain mual, Elina juga merasa sangat lemas secara tiba-tiba. Tidak bisa, dia harus segera berbaring. Dia merasa sangat pusing. Dia tertatih-tatih menaiki tangga dan dengan penuh perjuangan akhirnya dia bisa kembali dengan selamat ke kamarnya. Dengan cepat Elina membaringkan dirinya di kasur dan perlahan-lahan rasa mual itu menghilang dan dia mulai merasa nyaman.
Elina menggertakan giginya sangat membenci Arka dan misi yang diberikan oleh sistem. Ini semua salah mereka, Elina sebelumnya tidak
pernah sakit. Tapi sekarang untuk pertama kalinya dia merasakan sakit. Jadi sakit rasanya seperti ini. Merasa sangat lelah dan pusing dan mual.
Elina yang berbaring itu duduk saat mendengar ketukan pintu.
“Masuk!”
Pelayan wanita masuk membawa semangkuk bubur. Elina yang lapar langsung menyambarnya. Untung saja kali ini dia tidak merasa mual dan dia
langsung memakan buburnya dengan lahap.
“Terima kasih. Kamu boleh kembali.”
Elina menghabiskan semangkuk bubur itu hanya dalam hitungan menit. Dia meletakan mangkuk kosong itu di meja dan tidak terburu-buru untuk
memanggil pelayan.
Saat dia meletakan mangkoknya dan membenarkan posisi duduknya, sistem kembali terdengar.
Ding!
[Misi baru. Membuat vlog pertanian dan unggah di saluran streaming. Hadiah uang sebesar 10 miliar! Terima atau tolak?]
Mata Elina membulat saat membaca bilah notifikasi dan membaca angka 10 miliar. Itu lumayan banyak dan sejauh ini adalah uang paling banyak yang dia dapatkan dari misi. Elina tanpa ragu memilih menerima misi tanpa membaca detail.
“A1, berapa uang yang aku kumpulkan sejauh ini?”
“Itu 1,5 miliar, Nona.”
“Yah … lumayan.”
__ADS_1