
Cahaya oren sudah nampak di cakrawala, Arka menyudahi kegiatannya di ladang. Begitu juga para karyawan lain. Mereka satu-persatu mulai
meninggalkan sawah dan ladang.
Arka pulang lebih dulu dan meninggalkan Bulan. Dia bahkan sepanjang bekerja tidak berkomunikasi dengan Bulan meski wanita itu berada tidak jauh darinya. Dia merasa ada sesuatu yang aneh tapi dia tidak tahu apa itu.
Arka berjalan dengan cepat. Dia ingin segera melihat keadaan Elina di balai desa seperti apa.
Sementara itu Bulan yang ditinggal Arka tanpa sepatah katapun lagi-lagi merasa sudut hatinya seperti tertusuk dan dia kecewa. Kenapa bosnya
tidak mengajaknya untuk pergi bersama dan hanya pergi begitu saja? Tapi Bulan dengan cepat menyetabilkan emosinya. Dia berjalan cepat menyusul Arka dan berjalan di sisinya meski ada jarak yang cukup lebar.
Arka yang sudah tiba di balai desa dibuat takjub dengan suasana ramai namun hening. Sehening saat mereka sedang melakukan rapat yang begitu penting. Arka penasaran kenapa para karyawannya bertindak begitu hati-hati dan seperti tidak ingin menimbulkan suara keras.
Saat dia masuk ke balai desa, lagi-lagi dia dibuat terkejut saat melihat Elina yang sedang tidur dengan pulasnya di atas kursi plastik yang
berjejer. Dia tidak menyangka dia bisa menyaksikan pemandangan di depannya. Elina yang ia kenal pasti tidak pernah mengalami kesulitan seperti ini sejak kecil. Tiba-tiba dia merasa tertekan. Ada rasa bersalah di hatinya karena telah membuat adik sahabatnya ini tidur di tempat yang tidak layak.
Arka hanya mengamati Elina dalam diam. Dan saat ini Bulan juga sudah memasuki balai desa dan melihat Elina yang sedang tertidur pulas. Meski keadaanya berantakan, tapi wanita itu masih terlihat sangat cantik.
Arka tidak berniat terus melihat Elina karena seluruh tubuhnya yang gatal dan dia harus segera mandi dan membersihkan diri. Untuk itu
dia hanya mengambil tasnya dan pergi ke kamar mandi di belakang balai desa untuk membersihkan diri. Begitu pula dengan Bulan. Dia juga sudah tidak tahan dengan rasa kotor ini dan memutuskan untuk mandi.
***
Elina tidur setengah jam lagi setelah semua karyawan sudah selesai membersihkan diri dan mulai memasak makan malam yang lagi-lagi
merupakan mie instan.
__ADS_1
Elina yang mencium bau itu mengernyitkan dahinya dan perlahan-lahan dia membuka matanya. Dengan lemah dia bangkit dan duduk dengan linglung. Dia menguap dan merasakan seluruh tubuhnya sakit. Dia masih bingung dan nyawanya belum terkumpul semua.
Elina perlahan-lahan mulai sadar dan dia langsung terkejut saat melihat para karyawan yang sudah memadati ruangan balai desa juga sedang menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
Elina malu!
Dia sangat malu dan wajahnya tersipu merah seperti kepiting rebus! Apa saat dia tidur semua karyawan Arka melihatnya? Kenapa dia tidak
mendengar langkah kaki atau percakapan orang? Kenapa dia terus tidur dan tidak bangun meski aula sudah dipenuhi orang banyak. Dia tertidur seperti orang yang pingsan. Akan ditaruh di mana reputasinya sebagai nona muda dari Keluarga Maharani. Dia benar-benar sangat malu.
Sialan!
Tahu begini dia tidak akan tidur. Dia sama saja mempermalukan dirinya sendiri.
“Apa kamu sudah bangun?” Arka yang datang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk itu langsung duduk di sebelah Elina tanpa bertanya. Terlihat sangat alami.
Elina yang melihat Arka duduk di sampingnya langsung berpindah tempat. Dia ingin menjauh dari Arka sejauh mungkin. Dan dia ingin mengabaikan laki-laki bau ini! Dia marah pada Arka!
“Jangan berbicara padaku! Jangan pedulikan aku! Kamu menjauh dariku sana!”
Arka yang kebingungan : “…”
Elina melihat dirinya sendiri yang begitu kotor. Dia merasa sangat tidak nyaman. Apalagi saat melihat semua orang sepertinya sudah mandi
dan membersihkan diri. Elina ingin mandi, tapi semua bajunya ada di koper dan koper itu tertinggal di dalam bis. Dia hanya membawa tas ransel yang berisi skincare dan peralatan mandi. Itu tidak berguna jika dia tidak bisa mengganti
bajunya.
Elina yang tiba-tiba melihat Adam itu langsung berbinar senang.
__ADS_1
“Adam! Ke sini sebentar.”
Adam yang merasa terpanggil langsung berlari mendekat ke arah Elina dan dia sempat melirik bosnya yang wajahnya tidak terlihat senang.
“Nona membutuhkan bantuan?”
“Aku ingin mandi. Di mana kamar mandinya? Bisa tolong tunjukan? Tapi aku tidak membawa baju ganti. Apakah kamu bisa menolongku untuk
meminta gadis desa ini siapa yang memiliki baju baru untuk meminjamkanku bajunya atau aku bisa membelinya nanti? Jangan yang sudah pernah dipakai. Aku tidak mau baju yang sudah pernah di pakai, harus baru! Dan juga sepatuku rusak. Mungkin kamu bisa menanyakan apa di warung terdekat ada sepatu atau sandal yang bisa aku pakai?”
Adam jelas kebingungan. Dia mendengar permintaan calon istri bosnya ini tapi dia tidak yakin bisa melaksanakan tugas dengan baik. Di desa ini siapa yang memiliki baju baru? Haruskah dia bertanya satu persatu ke setiap rumah? Bukankah itu akan sangat melelahkan? Dan mungkin juga mereka tidak memilikinya. Kalau untuk sandal dia masih bisa membelinya di warung. Meski desa ini miskin, masih ada warung di desa ini yang mungkin menyediakan sandal.
Tapi Adam jelas tidak bisa menolak perintah Elina jadi dia mengangguk mengiyakan dan mulai pergi untuk mencari baju baru yang belum pernah
dipakai untuk nona muda bangsawan ini. Dia dibuat sakit kepala. Dia ingin menangis, tugas ini lebih sulit daripada rapat berhari-hari dengan bosnya. Kenapa dia begitu sial?
Arka yang duduk dengan jarak 2 bangku dari Elina jelas memasang wajah masam dan tidak suka saat Elina mengabaikannya dan malah meminta
bantuan Adam. Biasanya gadisnya ini akan merengek padanya. Ada apa? Kenapa dia merasa Elina sengaja menjauh darinya karena dia telah melakukan sesuatu yang salah. Tapi apa? Dia tidak tahu apa salahnya.
Bulan yang juga sudah selesai mandi dan mendengar permintaan Elina sedikit mengernyitkan satu alisnya. Nona muda ini kenapa dengan gampangnya membuat perintah yang hampir mustahil? Dia berjalan mendekati Elina dengan niat baik, “Nona Elina saya masih memiliki baju ganti lain. Kebetulan saya membawa banyak baju dan juga ada sepatu yang tidak saya pakai. Apakah Nona mau memakai baju saya?”
Elina menoleh dan menatap Bulan dengan datar. Dia memindai Bulan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Dia memandang dengan merendahkan. Memangnya bajunya akan bisa muat di tubuh Elina yang begitu seksi seperti
bentuk gitar sepanyol itu. Apalagi di bagian dadanya yang sangat besar dan menonjol. Dia takut baju Bulan tidak akan muat di tubuh seksi Elina. Bulan sendiri memiliki perawakan yang kurus dan kecil meski wajahnya cantik. Tapi jelas
tidak secantik Elina.
“Tidak perlu. Aku tidak mau memakai pakaianmu.”
__ADS_1
***Mohon bantu author dengan memfollow akun ini. Terima kasih***