Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 62 – Telepon Arka


__ADS_3

Elina menggunakan ponsel lain saat melakukan siaran live. Jadi dia harus mengambil ponsel yang biasa dia pakai untuk menelpon Arka.


“Tolong ambilkan ponselku di meja rias,” perintahnya pada salah satu pelayan.


“Baik, Nona.”


Elina menunggu tak sampai lima menit pelayan itu sudah membawa ponselnya. Dia dengan cepat membuka ponselnya dan mencari kontak Arka.


Elina terdiam. Dia tiba-tiba bingung dan tidak tahu harus berbicara seperti apa. Aksinya tempo hari dengan meninggalkan Arka seharusnya menjadi penghalang dan bukti kalau dia marah padanya.


Tapi ini demi uang dan demi misi. Elina menggertakan giginya dan memencet tombol panggil.


Deringan pertama itu belum diangkat. Sampai deringan ketiga suara rendah dan terdengar dingin yang familiar itu menembus indra pendengaran Elina.


“Halo?”


Elina : “…”


Elina sempat terdiam beberapa saat. Entah kenapa dia menjadi gugup.


“Kalau tidak berbicara akan aku tutup. Aku sibuk,” kata Arka di ujung sana yang membuat kemarahan Elina kembali naik secara tiba-tiba. Laki-laki bau ini bahkan tidak meminta maaf dan masih bersikap dingin padanya. Apa dia tidak sadar kalau Elina itu marah? Kenapa seperti tidak peduli.


Yah, benar. Apa yang Elina harapkan? Pemeran utama pria jelas hanya akan peduli pada Bulan.


“Apa Kak Arka tidak tahu kalau aku marah?” Elina bertanya dengan kesal. Nadanya berubah kembali terdengar manja dan centil. Elina tanpa sadar bersikap begitu manja dan kekanak-kanakan jika itu sudah berhadapan dengan Arka.


“Tahu. Jadi kenapa kamu marah?”


Yang tidak Elina sadari adalah di ujung sana Arka sudah menyunggingkan senyumnya. Di tengah rapat dia mendapat telepon dari Elina. Memang


benar, Elina sepertinya tidak bisa mendiamkannya terlalu lama. Cepat atau lambat pasti gadis ini akan menghubunginya dan tebakannya memang tepat sasaran.


Dan yang tidak diketahui Arka adalah ini semua bukan kemauan Elina. Ini karena sistem! Jika sistem tidak memberikan misi, mungkin Elina akan tetap mengabaikannya hingga tahun depan.


“Apa Kak Arka tidak tahu alasan aku marah?” Elina bertanya dengan nada tinggi. Dia benar-benar kesal. Entah kenapa akhir-akhir ini


emosinya mudah sekali berubah naik turun. Dari bahagia ke marah, dari marah ke bahagia tanpa sebab. Dia tidak tahu kenapa emosinya tidak stabil. “Kalau begitu aku akan terus mengabaikanmu!”


Tut!


Elina memutus panggilan sepihak. Dia lupa kalau dia belum menjalankan misi. Saat dia ingat, dia merasa malu sendiri. Mau tidak mau dia harus memanggil Arka lagi.


Sialan!


Ini seperti lelucon.

__ADS_1


Elina kembali menguhubungi Arka dengan rasa malu yang masih terasa. Dia seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Memutus panggilan


tanpa sebab dan kemudian menghubungi lagi dalam hitungan detik.


Panggilan diangkat dalam dering kedua. Itu satu detik lebih cepat dari sebelumnya.


“Aku marah pada Kak Arka!”


“Kalau marah kenapa masih menelpon?”


“Itu karena ada yang harus Kakak lakukan supaya aku tidak lagi marah.”


“Apa itu?”


“Sekarang aku sedang melakukan siaran langsung. Kakak harus menontonnya. Nama channelnya adalah xxxx. Pokoknya Kakak harus menontonnya sekarang. Jika tidak aku akan mengabaikan Kakak seumur hidupku!” ancam Elina.


“Apa kamu yakin bisa mengabaikanku seumur hidup?”


“Apa maksud Kakak! Memangnya Kakak siapa hingga tidak mampu aku abaikan? Bagiku Kakak hanya orang asing. Sekarangpun aku mengganggap Kakak sebagai orang yang tidak dikenal.”


“Hmm. Kenapa kamu marah? Apa salahku?”


“Apa Kakak paham maksudku? Aku tidak tahu apa yang sedang Kakak lakukan tapi pokoknya sekarang Kakak harus menonton siaran langsungku. Setelah itu aku akan memberi tahu Kakak kenapa kemarin aku marah dan pulang dan


meninggalkanmu sendirian.” Elina harus memastikan Arka menonton siaran langsungnya


“Lihat komentar. Aku akan meninggalkan jejak di area komentar.”


Elina yang berdiri jauh dari ponsel yang digunakan untuk melakukan siaran langsung berjalan mendekat. Ya, sedari tadi siaran memang terus berjalan dan percakapan Elina juga terdengar oleh para netizen. Dan sekali lagi area komentar meledak.


[Gila! Sepertinya pasangan kita sedang bertengkar. Elina dan Arka sepertinya masih berkonflik.]


[Kira-kira masalah apa yang membuat mereka berkonflik? Apa kalian tahu itu?]


[Yang di atas, mungkin Arka berselingkuh.]


Elina tidak sengaja membaca komentar tentang Arka yang berselingkuh.


“Benar! Kak Arka menduakanku,” ucap Elina tanpa sadar yang sekali lagi membuat netizen heboh.


Panggilan yang masih terhubung itu membuat Arka yang juga sedang menonton siaran langsung bisa mendengar perkataan Elina dengan jelas.


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kapan aku menduakanmu?” protes Arka dari telepon.


“Ah!” Elina baru sadar kalau dia sudah berbicara omong kosong dan ditonton dan bahkan didengar oleh orangnya secara langsung. Dia tadi

__ADS_1


berbicara tanpa berpikir dan lupa kalau dia saat ini sedang melakukan siaran langsung.


Ekspresi kaget Elina terekam kamera. Elina membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ kecil dan mata bulat besarnya berkedip-kedip di


depan layar ponsel.


“Wajah lucumu tidak bisa membantumu, El. Kapan aku menduakanmu?” Arka masih mengejar Elina dengan pertanyaan sampai dia mendapat


jawaban yang memuaskan.


Elina menatap layar ponsel yang merekamnya  dengan kesal. Dia menatap tajam ke arah kamera


seolah sedang menatap Arka dan membayangkan kalau Arka ada di depannya.


“Kenapa tidak kamu pikirkan sendiri kapan kamu tidak mempedulikan aku dan malah mempedulikan wanita lain!” Elina meraung.


Sekali lagi tingkah Elina membuat area komentar meledak.


[Apa mereka sedang bertengkar di siaran langsung?]


[Jadi Arka berselingkuh? Apakah karena itu kemarin Elina tidak terlihat saat di perjalanan pulang?]


[Apa Arka tergoda oleh gadis desa? Bukankah ini karena mereka baru saja melakukan perjalanan ke pedesaan? Mungkin saja di pedesaan ada wanita


yang sangat cantik dan berhasil memikat Arka. Padahal Elina adalah wanita yang sangat cantik. Laki-laki memang bajiingan semua! Tidak ada yang tulus dan tidak pernah merasa puas meski sudah memilki perempuan yang sangat cantik di sisi mereka.]


“Aku ingin membelah dan melihat sebenarnya apa isi kepalamu itu. Kenapa bisa berpikiran aku menduakanmu?”


“Sudahlah. Aku tidak ingin membahas masalah ini.” Elina langsung menutup telepon. Karena dia sudah memastikan kalau Arka sudah menonton siaran langsungnya, jadi dia bisa menutup telepon dengan sesuka hati.


Ding!


[Selamat! Misi berhasil dan uang 1 miliar akan ditransfer ke rekening virtual.]


Elina yang semula kesal kini menahan senyumnya agar tidak terlihat di kamera. Dia berbalik dan senyumnya langsung terlihat jelas.


“Yes.” Kekesalan yang sempat dia rasakan itu langsung meluap dan hilang. Seperti inilah mood Elina. Gampang sekali berubah-ubah.


Sementara itu Arka yang berada di ruang rapat dan ditatap oleh karyawan lain harus menahan sakit kepala lagi. Elina lagi-lagi marah tanpa sebab dan dia tidak tahu harus membujuk wanita manja yang satu ini seperti apa.


“Ada apa? Kenapa kalian berhenti? Lanjutkan presentasinya. Aku masih mendengarkan.”


Arka memang sedang di tengah-tengah rapat. Timnya akan melakukan projek baru dan tadinya salah satu karyawan sedang menjelaskan di depan. Tapi semua itu dihentikan saat Arka menerima telepon dan berbicara di depan para karyawan.


Para karyawan jelas terkejut. Mereka tidak pernah melihat Arka terkecoh saat rapat. Biasanya dia akan menolak semua panggilan yang masuk.

__ADS_1


Tapi kenapa kali ini atasan mereka ini menerima telepon dan berbicara di depan mereka tanpa menutupinya sama sekali? Dan mereka sepertinya mendengar itu adalah Elina. Putri dari Keluarga Maharani. Sepertinya gosip soal bos mereka yang akan bertunangan dengan putri bangsawan dari keluarga yang kuat itu benar. Itu tandanya posisi Arka mungkin akan semakin kuat untuk menjadi kandidat calon Presdir Grup


Giandra.


__ADS_2