Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 32 – Antar Aku Pulang!


__ADS_3

Karena mereka sedang mengobrol tidak mungkin bagi Elina untuk menikmati makanan. Jadi dia memutuskan untuk tidak sarapan. Toh ini bisa


dijadikan diet. Saat pembicaraan masih berlangsung, sistem kembali berbunyi.


Ding!


[Misi baru meminta Arka untuk mengantar pulang dan dapatkan hadiah senilai 40 jt. Terima atau tolak?”


Elina yang kini sudah mulai terbiasa dengan sistem sudah tidak kaget lagi jika sistem tiba-tiba muncul. Kali ini dia tidak menunggu lama untuk berpikir dan langsung menerima misi.


Tak lama kemudian pembicaraan selesai.


“Elin kenapa tidak makan sarapan?” tanya Kakek Thomas.


“Elin tidak punya nafsu makan, Kek. Aku ingin pulang sekarang. Tidak usah mengantarku pulang dengan para pengawal itu, Kek. Aku akan


meminta Kak Arka untuk mengantarkanku pulang.” Elina melirik Arka yang masih duduk


diam disebelahnya.


Elina tersenyum. Dia cukup pintar, dengan memberitahukan kepada kakek, sudah pasti Arka tidak akan menolak perintah untuk mengantarkannya pulang.


“Antar Elin pulang sebelum kamu pergi ke perusahaan. Kalau begitu kalian semua bisa pergi.”


“Baik.” Arka menjawab dengan datar seolah tidak tertarik tapi tidak juga menolak.


Elina diam-diam tersenyum. Tapi detik berikutnya senyumnya langsung menghilang saat mengingat momen tadi malam.


Tunggu!


Kenapa dia bisa menerima misi dengan gampangnya? Bukankah mereka tadi malam baru saja berciuman? Lalu bagaimana nanti jika di dalam mobil akan hanya ada mereka berdua? Itu pasti akan sangat canggung!


Kenapa Elina tidak memikirkannya dulu dan langsung menerima misi. Dia bisa saja menolak! Hadianya juga tidak terlalu banyak. Hanya 40 juta,


cukup untuk makan sehari di restoran Michelin.


Saat semua orang sudah pergi satu-persatu, hanya tersisa Elina dan Arka. Suasana sangat canggung. Saa Arka berdiri, Elina ikut berdiri. Saat Arka berjalan, Elina ikut dibelakangnya seperti ekor kecil.

__ADS_1


“Kenapa terus mengikutiku?”


“Kan Kak Arka akan mengantarkanku pulang.”


“Tidakkah kamu harus mengambil barang-barangmu terlebih dahulu? Aku ingin pergi ke kamar. Apa kamu mau ikut ke kamarku lagi?” tanya Arka dengan nada datar. Tidak ada intonasi sama sekali.


“Ah! Benar.” Elina terkejut dengan sangat lucu. Seperti kelinci manis yang membulatkan mata indahnya dan mulutnya ternganga memperlihatkan dua gigi putih besarnya. Tapi bedanya gigi Elina rapih.


Benar apa yang dikatakan Arka. Kenapa Elina hari ini begitu bodoh.


“Kalau begitu tunggu aku! Jangan tinggalkan aku! Awas kalau Kakak meninggalkanku!,” ancam Elina. Sementara itu Arka hanya mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum sangat singkat dan samar. Kalau tidak diperhatikan, senyum itu tidak akan terlihat.


Arka sudah menunggu Elina di dalam mobil yang terparkir di depan pintu villa langsung. Apa yang membuat gadis itu begitu lama hanya mengambil barang-barang bawaannya. Apakah wanita selalu memakan waktu lama dalam segala hal?


Alis Arka mengerut. Tidak pernah dia menunggu lama seseorang seperti ini. Elina selalu bisa menjadi pengecualian. Tanpa Arka sadari itu.


Arka melihat Elina berjalan dengan sangat perlahan dan anggun. Seolah saat melarikan diri tadi itu hanyalah sebuah ilusi. Apakah ini yang membuat Elina begitu lama? Berjalan dengan sangat perlahan hanya untuk beberapa langkah ini?


Elina tidak menyadari kalau penilaian Arka terhadap dirinya sangat rendah, tapi meski penilaian rendah bukan berarti Arka sangat membenci Elina. Buktinya jumlah poin kebencian Arka sekarang adalah 69!


Elina membuka pintu penumpang. Saat duduk sebuah suara dingin terdengar.


Elina harus keluar lagi dan akhirnya dia duduk di co-pilot di sebelah Arka.


Sial!


Dia tadi sengaja duduk di kursi belakang karena tidak ingin berduaan bersama Arka sedekat ini. Wajahnya memerah hanya karena dia mengingat


adegan ciuman semalam. Apakah orang ini batu? Kenapa tidak terlihat malu sama sekali? Apakah hanya Elina yang merasa malu dan canggung?


“Kenapa Kak Arka menciumku tadi malam? Apa Kak Arka menyukaiku?” Entah dapat keberanian dari mana Elina bertanya tanpa berpikir dulu. Dia sangat penasaran, oke! Benar-benar penasaran yang tidak bisa ditunda dan harus segera mendapat jawaban.


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Anggap tadi malam adalah balas dendamku karena kamu meresepkan afrodisiak padaku. Bersyukur aku tidak membalas dendam padamu,” kata Arka tanpa bisa dinalar. Dia sebenarnya


hanya berbicara omong kosong. Semua yang keluar dari mulutnya tidak benar sama sekali. Elina bangun! Jangan percaya kata-kata laki-laki ini begitu saja!


“Oh.” Elina sempat tertegun dan butuh waktu lama untuk mencerna apa yang Arka katakan. Jadi ciuman itu untuk membalas dendam padanya itu. Bukankah itu terlalu murah? Atau Arka yang terlalu baik. Apakah karakter dalam novel Arka memang seperti ini? Bukankah di dalam novel Arka dikatakan sangat dingin pada Elina dan bahkan membencinya? Kenapa kata-katanya sepertinya tidak masuk akal. Tapi Elina tidak mengejar pertanyaan itu dan duduk diam sampai dia pulang ke rumah.

__ADS_1


***


Malam di luar sudah sangat pekat. Tapi di ruangan ini, malam menandakan kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Musik yang memekakan telinga terdengar begitu keras. Sementara orang-orang di dalam kotak jelas


tidak mendengar musik keras yang berada di luar ruangan. Ini berkat isolasi suara yang bagus.


Orang-orang di dalam kotak sedang dalam suasana hati yang bercampur. Ada yang senang sekali menikmati minuman beralkohol, ada yang biasa saja dan ada yang menunggu dengan khawatir. Di dalam ruangan itu ada total empat orang yang duduk di sofa panjang. Mereka semua awalnya diam. Tapi seseorang memecahkan keheningan.


“Bukankah kalian bilang Arka akan datang ke sini?” tanya Alora. Sati-satunya wanita yang ada di kotak ini.


“Ya. Tadi aku sudah menelponnya dan dia berkata akan bergabung jika urusannya sudah selesai. Tunggu saja, dia pasti akan ke sini,” kata Verno sambil meminum gelas berisikan alcohol hingga habis.


“Mungkin dia tidak akan datang.” Kini Dimas ikut bersuara.


“Kenapa tidak datang? Ini demi merayakan ulang tahun Alora. Teman masa kecil kita. Kenapa tidak mau datang sesibuk apapun orang itu?” Verno


merasa kesal tanpa sebab. Mungkin itu efek minum.


“Akan aku coba menelpon lagi,” kata Daniel yang langasung mengeluarkan ponselnya dan membuat panggilan. “Tidak menjawab.” Daniel


berkali-kali membuat panggilan telepon tapi Arka tidak menjawab sama sekali.


“Aku akan menunggu di luar,” kata Alora.


Dimas jelas terkejut dengan pernyataan Alora. Pasalnya Alora adalah seorang aktris. “Apa kamu yaking? Jika ada paparazzi di luar bagaimana?”


“Itu tidak mungkin. Keamanan di sini terjaga dengan baik.” Alora bangkit dengan tidak sabar.


Begitu dia keluar menunggu Arka, tak lama kemudian sebuah mobil terparkir di depannya dan Alora langsung tersenyum sangat senang. Mobil


ini, dia hapal betul siapa pemilik mobil ini.


Saat Arka keluar, Alora dengan cepat berlari ke arahnya dan dia terhuyung-huyung berpura-pura mabuk.


Arka dengan reflek menangkap Alora dan langsung melepasnya detik berikutnya.


“Maaf, aku sedikit mabuk.”

__ADS_1


“Masuklah,” kata Arka dingin.


Saat mereka masuk, tanpa mereka sadari. Sebuah kamera berhasil membidik mereka berdua saat Alora terjatuh ke dalam pelukan Arka meski hanya sepersekian detik.


__ADS_2