
Elina sengaja berdandan dengan sangat baik untuk hari ini. Dia sengaja membuat rambut hitam panjangnya sedikit diubah gayanya dengan membuat gelombang di ujung rambutnya. Meski begitu, dia masih memakai riasan yang sangat
tipis karena dia sendiri tidak suka dengan make up yang tebal dan berat. Itu akan membuat kulit mulusnya menjadi buruk.
Elina sekali lagi memilih dress offshoulder dengan motif bunga-bunga kecil berwarna pink. Warna kesukaan Elina adalah merah muda. Terlihat kekanak-kanakan memang, tapi Elina tidak peduli dengan pandangan orang lain
tentang selera warnanya. Yang penting adalah dia menjaga penampilannya tetap anggun di depan para tetua dan orang-orang dari lingkaran elit ibu kota.
“Kenapa begitu lama? Apakah kamu sengaja berdandan begitu cantik untuk bertemu dengan kakakku? Apa kamu juga menyukai kakaku, El?”
Elina tidak terlalu mengambil hati soal pertanyaan apakah dia menyukai kakak Clara. Yang pasti adalah dia tidak membencinya dan saat ini Elina sedang tidak dalam posisi untuk bisa menyukai siapapun dengan bebas. Dia masih terikat misi sistem!
“Aku setiap hari memang terlihat seperti ini.”
“Cih! Baiklah, baiklah, putri berharga Keluarga Maharani memang setiap hari pastilah harus tampil cantik dan anggun. Tapi sejak kapan kamu bisa merias wajahmu sendiri? Bukankah biasanya kamu memanggil salon untuk make up ke rumah?”
Elina terdiam sebentar memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan. Memang Elina asli dalam novel selain bodoh karena dimanfaatkan oleh
kedua sahabat jahatnya, dia juga tidak memiliki bakat berdandan. Itu terbukti karena selera fashionnya yang jelek. Atau memang itu sudah pengaturan novel kalau karakter Elina serba kekurangan? Entahlah. Tapi berbeda dengan dirinya yang di dunia nyata sangat suka dengan make up dan perawatan wajah, jadi dia
mengkhususkan diri untuk belajar dari guru tertentu.
“Aku belajar make up akhir-akhir ini.” Elina menjawab dengan jawaban paling masuk akal.
“Oh. Kalau begitu ayo kita berangkat!” Clara jelas sangat bersemangat untuk pergi mengejutkan kakaknya.
“Memakai mobilku atau mobilmu?” tanya Elina.
__ADS_1
“Mobilku!” jawab Clara cepat. Dia harus membuat momen kakaknya agar bisa mengantar Elina pulang nanti. Jika Elina memakai mobilnya sendiri, bagaimana rencananya akan berjalan lancar?
Elina tidak pernah memikirkan kalau ternyata di belakangnya, sahabatnya ini merencanakan sesuatu yang licik. Tapi licik yang tidak mungkin Elina benci. Malah mungkin kelicikan yang membuat Elina tertawa jika mengetahuinya.
Clara datang ke kediaman Elina menggunakan mobil sendiri. Dia sudah terbiasa menyetir sendiri. Tidak seperti Elina yang tidak bisa menyetir. Tidak, lebih tepatnya dia malas untuk menyetir sendiri jika ada orang yang bisa dia bayar untuk melayaninya.
“Silakan, Nona!” Clara bergaya seperti pelayan yang membukakan pintu untuk tuannya. Bedanya adalah Clara membuka pintu co-pilot. Dia ingin Elina duduk di sampingnya. Jelas! Jika dia membiarkan Elina duduk di kursi penumpang belakang, bukankah dia akan terlihat seperti sopir Elina? Tidak ada bedanya. Jelas Clara tidak mau.
“Terima kasih.” Elina ikut bermain peran meladeni Clara. Dia masuk dengan lancar dan duduk dengan nyaman sambil memasang sabuk pengaman.
“Hati-hati. Jangan sampai membuatku terluka.” Elina jelas merasa tegang. Dia tidak tahu kemampuan menyetir Clara itu berada di tahap apa.
“Nona, tenanglah. Saya juga memiliki SIM yang saya dapatkan dengan usaha sendiri.” Clara jelas bisa melihat ketakutan Elina meski tidak Elina
tunjukan dengan gamblang. “Kita berangkat!”
Mobil keluar dari area villa dan terus melaju menuju Perusahaan Wijaya. Clara menyetir dengan kecepatan normal dan itu membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Masih di kawasan pusat distrik bisnis dan masih satu area dengan
Saat mereka memasuki lobi itu berjalan dengan mulus. Jelas pegawai resepsionis di lobi sudah hafal dengan Clara dan mereka menunduk hormat saat melihat Clara datang dan menyambut mereka dengan senyuman penuh penghormatan.
Elina dan Clara melewati keamanan dengan mudah dan naik ke lantai kantor Bara menggunakan lift khusus. Itu berjalan sangat cepat hingga Elina tidak sadar mereka sudah sampai di kantor Bara.
Tiba-tiba saja debaran jantungnya meningkat dan dia gugup tanpa sebab. Bukankah ini hanya mengajak orang untuk makan bersama, kenapa
begitu gugup?
Elina jelas gugup karena dia tidak begitu mengenal Bara yang memang tidak muncul dalam novel dan dia tidak tahu karakter Bara itu seperti apa. Apa dia termasuk penjahat atau murni hanya sebagai figuran yang memang
__ADS_1
tidak pernah disebutkan dalam novel dan tidak akan mengganggu atau mempengaruhi alur cerita? Elina sendiri tidak yakin. Dia takut jika dia berinteraksi dengan karakter lain itu akan mengganggu alur dalam novel dan mengganggu kesuksesan dirinya dalam menjalankan misi.
Tapi karena Bara tidak muncul dalam novel yang itu berarti bahwa Bara tidak akan pernah ada hubungannya dengan Arka maupun Bulan.
Memikirkan hal ini membuat Elina merasa sedikit tenang. Dia bisa menambah orang dan relasi untuk membantunya nanti di masa depan jika dia
benar-benar bangkrut sesuai dengan plot novel.
Mari kita buat hubungan baik dengan Bara! Kata Elina dalam hati penuh semangat untuk membuat hubungan persahabatan dengan Bara. Ini untuk
masa depannya dan dia harus berhasil membuat relasi sendiri.
“Apa kakakku ada di dalam?” kedatangan Clara membuat para sekretaris Bara terkejut dan mereka buru-buru menyapa Clara dengan penuh
senyum.
“Nona! Anda datang? Pak Bara sedang dalam rapat.” Orang yang bernama Diana salah satu dari dua sekretaris Bara itu melirik Elina dengan penuh kewaspadaan. “I-ini?”
“Kak Diana, ini sahabatku Elina.”
Sikap Diana membuat Elina paham dengan satu hal. Sepertinya sekretaris ini menyukai Bara. Elina bisa dengan jelas merasakan aura permusuhan dan waspada dari Diana. Sama seperti sekretaris Arka sebelumnya yang memandangnya persis
seperti Diana. Elina tertawa miris. Kenapa ke manapun dan kapanpun laki-laki tampan selalu memiliki pengagum yang tidak masuk akal dan bersikap waspada pada setiap wanita yang mungkin saja berpotensi dan akan menjadi saingan cintanya. Elina tidak habis pikir dengan jalan para wanita itu. Dia sendiri baik di kehidupan dulu dan sekarang belum pernah jatuh cinta. Itu karena pendidikan sejak kecil dan pengetahuannya sebagai anak dari pengusaha, pernikahan bisnis pasti akan terjadi padanya. Jadi Elina tidak terlalu berharap bisa menemukan cinta
sejati karena dia sadar diri suaminya kelak akan dipilihkan oleh orang tuanya sesuai kebutuhan bisnis perusahaan.
Sifat dan sikap Elina jelas berbeda dengan Elina yang terkisah dalam novel karena dia berani jatuh cinta dan berjuang demi cinta itu sendiri meski caranya salah dan berakhir menghancurkannya. Setidaknya Elina dalam novel yang dikisahkan sebagai salah satu penjahat berani memperjuangkan apa yang ia inginkan. Tidak seperti Elina di dunia nyata yang menuruti perintah keluarga dan menomor satukan kepentingan perusahaan.
__ADS_1
“Kalau begitu kami akan menunggu di dalam.”
Clara tidak memperhatikan ekspresi Diana dan menyeret Elina untuk memasuki kantor Bara.