Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 76 – Siapa Ayahnya?


__ADS_3

“Oh. Hamil, apa?!” kata Ibu dan Neo bersamaan. Mereka sangat terkejut.


“Ya. Aku hamil. Itu sudah 4 bulan.” Elina mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang dan dia kembali duduk dengan anggun.


“Apa kamu bercanda? Di mana kameranya? Apa ini acara prank? Kamu sengaja berbohong ya?” tanya Neo tidak percaya. Sementara itu ibu sudah memegangi bagian kepalanya karena terasa tegang. Mungkin tekanan darahnya naik. Berbeda dengan sikap heboh Neo dan Ibu yang langsung terdiam kesal, Ayah terlihat sangat tenang.


“Aku benar-benar hamil, Kak! Ini hasil USG nya. Coba lihat!” Elina menyerahkan lembar foto hasil USG.


“Elina! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa hamil? Bagaimana ini? jika sampai tersebar ke dunia luar. Reputasimu akan hancur! Hamil di luar nikah.” Ibu sudah mau pingsan. Dia benar-benar terkejut dengan kelakuan anak gadisnya ini.


“Siapa ayahnya?” tanya Ayah.


“Siapa? Katakan EL, siapa laki-laki bajiingan yang membuatmu hamil?”


“Aku tidak akan memberitahu kalian. Pokoknya begitu saja. Aku hamil dan akan melahirkan dan membersarkan anak ini sendirian. Jangan tanyakan lagi!”


“Jadi alasan kamu pindah ke apartemen itu karena ingin menyembunyikan kehamilanmu?” tanya Neo masih tidak mau mempercayai apa yang adiknya katakan.


“Ya benar.”


“Elina! Kamu sangat kelewat batas!” Ibu tidak bisa menahan amarahnya.


“Sudahlah. Semua sudah terjadi. Sekarang tenang dan mari bicarakan hal-hal berikutnya dengan kepala dingin,” kata ayah. Ayah entah


kenapa benar-benar tenang dan itu membuat Elina malah menjadi takut. Ini seperti ketenangan sebelum badai melanda.


“Apakah itu Arka?” tanya Neo. “Bajiingan! Aku akan membunuh anak itu!”


“Bukan!” Elina jelas tidak mau memberitahu keluarganya kalau memang Arka yang membuatnya hamil.


“Kalau begitu beritahu kakak! Siapa orangnya?”

__ADS_1


“Aku tidak mau. Kakak berhenti marah-marah. Itu tidak akan baik untuk ibu hami,” keluh Elina.


“Dan satu hal lagi. Aku ingin melakukan bisnis. Ayah, beri aku uang untuk modal membuka bisnisku.” Elina menatap ayahnya dengan penuh


harap.


“Bisnis apa yang ingin kamu lakukan? Kamu hamil. Fokus merawat kandungan dengan baik saja.”


“Tidak. Aku terlalu bosan dan ingin mencoba untuk membuka bisnis.” Elina sangat ingin berbisnis karena untuk berjaga-jaga siapa tahu plot novel benar-benar akan membuat keluarganya benar-benar bangkrut. Dengan membuka bisnis yang tidak ada hubungannya dengan Perusahaan Maharani, kemungkinan itu


akan aman. Di dalam novel Arka membuat Perusahaan Maharani bangkrut, jadi Elina akan membuat perusahaannya sendiri.


“Kalau begitu lakukan sesukamu.”


“Terima kasih, Ayah!” Elina bangkit dan berjalan ke sisi ayahnya, lalu dia mencium pipi ayahnya. Sifat manjanya ternyata masih tidak bisa hilang.


Berita kehamilan Elina dengan cepat menyebar ke seluruh penghuni villa. Para pelayan jelas sangat terkejut. Jadi perut buncit nona mudanya itu bukan karena kelebihan berat badan tapi karena kehamilan. Mereka heboh bergosip siapa orang yang berani membuat nona mudanya hamil di luar nikah. Nona mudanya yang mereka rawat dengan sepenuh hati itu harus hancur reputisanya. Mereka sangat ingin tahu siapa laki-lakinya. Tapi mereka hanya bisa menelan emosi mereka bulat-bulat kerena tidak ada info siapa kira-kira pria itu.


Tidak terasa itu adalah waktu makan malam. Suasana makan malam kali ini sangat berbeda. Ibu dan Neo terlihat tertekan. Sementara itu


ayah terlihat normal dan Elina jelas jauh lebih merasa nyaman karena beban yang selama ini dia rasa dan simpan akhirnya bisa keluar dan dia lega.


Untuk makan malam ini dia makan banyak, tidak seperti keluarganya yang tidak nafsu makan dan sibuk dengan kekhawatiran masing-masing.


“Karena kamu tidak mau memberitahu siapa ayah anak itu maka kamu harus menyembunyikan kehamilanmu dari dunia luar,” kata Ibu tidak bisa


menahan keluhannya. Reputasi yang selama ini dibangun dengan susah payah akan hancur hanya karena masalah ini. Ibu Leila tidak rela reputasi anak gadisnya hancur dan mungkin akan berdampak pada nama baik keluarga.


“Tidak, Bu. Cepat atau lambat orang-orang di lingkaran sosial juga pasti akan tahu. Aku tidak akan menutupinya. Biarkan mereka tahu dan aku sudah tidak peduli dengan reputasiku.”


“T-tapi,”

__ADS_1


“Hentikan. Jangan membuat Elina tertekan, ingat, dia sedang hamil.” Ayah membela Elina dan hal itu membuat Elina terharu. Meski ayahnya


memang biasanya terlihat dingin, tapi kasih sayang yang ayahnya berikan itu tidak kurang. Ayahnya bisa mengerti dirinya dengan baik. Elina sangat bersyukur akan hal itu.


Makan malam selesai dan Elina kembali ke kamarnya. Dia langsung berjalan ke arah kasur dan langsung menidurkan dirinya di sana. Setelah makan malam, seperti biasa, rasa kantuk kembali menyerang dan Elina tidak berjuang untuk tetap terjaga. Jadi Elina tidur sangat awal.


***


Berbeda dengan Elina yang dengan mudahnya tidur, di pusat kota, tepatnya di kamar perusahaan Giandra, Arka terkapar di kamar istirahatnya. Dalam 3 bulan ini dia terus saja merasa mual dan lemas. Padahal dia sudah memeriksakan diri dan hasilnya adalah tubuhnya normal.


Tapi kenapa selama 3 bulan ini dia begitu tersiksa. Dia muntah saat mencium bau parfum, bau rokok, bau makanan. Selama 3 bulan ini dia hanya bisa memakan bubur. Ini semua sudah menunda dan mengurangi kinerja kerjanya.


Arka benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa mengalami mual dan muntah padahal hasil pemeriksaan mengatakan kalau dirinya sehat. Tapi meski begitu, Arka masih mencoba bekerja meski keadaan tubuhnya sangat lemah. Selama 3


bulan ini dia juga tidak berhasil menghubungi Elina dan dia bahkan baru tahu kalau Elina tidak tinggal di villa dan entah pergi ke mana.


Dia sudah mencari Elina selama ini tapi informasi


keberadaannya seolah sengaja dirahasiakan.


Yang tidak Arka ketahui adalah Elina selalu berada di apartemen dan tidak pernah keluar jika tidak penting. Maka dari itu, kegiatan Elina sedikit menyulitkan pencarian Arka terhadapnya.


Dan satu hal lagi yang membuat Arka aneh adalah saat dia melihat Bulan, rasa kebenciannya sangat meningkat. Bahkan dia merasa jijik hanya dengan melihat wajah Bulan. Jadi selama 3 bulan ini dia mencoba untuk tidak melihat Bulan meski wanita itu terus-menerus mencoba mendekatinya.


Jika bukan demi menjaga Bulan agar tetap berada di kubunya selama penilaian pemilihan presdir, dia mungkin sudah lama akan mengusir Bulan. Tapi dia menggertakan giginya dan menahan diri untuk tidak bersikap terlalu


kasar meskipun dia masih mengabaikan Bulan.


Yang membuat Arka sedikit besyukur adalah setidaknya selama 3 bulan ini tidak ada gosip soal Elina yang mungkin akan dilamar Bara. Itu tandanya Elina masih sendiri dan Keluarga Wijaya juga sepertinya belum bergerak untuk melamar Elina.


Arka akan mencoba mencari keberadaan Elina secepat mungkin. Sepertinya Elina sengaja menjauh darinya karena Bulan. Nanti, jika sudah menemukan Elina, Arka berniat menjelaskan rencananya dan mencoba membuat Elina kembali dekat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2