
Waktu terus berlalu dan saat ini sudah satu bulan sejak terakhir kali Elina pergi ke Bara. Sekarang dia sedang duduk di ruang tamu untuk menunggu Bara menjemputnya. Kemarin dia sudah memberitahukan Bara kalau hari ini dia akan memeriksa kandungan. Ya, Elina sudah hamil 5 bulan dan sekarang adalah jadwal rutin pemeriksaan.
Elina menepati janjinya dan membiarkan Bara menemaninya. Dia tidak berpikir terlalu banyak dan menganggap ditemani Bara itu bukan hal yang spesial.
Elina tidak perlu menunggu terlalu lama karena beberapa menit kemudian Paman Sam datang dengan Bara di belakangnya.
“Elin, aku datang. Apa kamu menunggu lama?” Bara yang sengaja mengambil cuti dan memakai pakaian kasual sederhana namun masih terlihat tampan dengan cepat berjalan ke arah Elina dan membantu Elina untuk berdiri.
“Tidak. Tepat waktu.” Elina menerima uluran tangan Bara. Dan Bara dengan cekatan membantu Elina berjalan. Memang benar perut Elina sudah semakin membesar dan dia kesulitan untuk duduk dan berdiri sendiri.
“Hati-hati.” Bara terus memegangi Elina dengan satu tangan dan tangan lain berada di belakang terlentang. Jika dilihat, itu seperti orang yang akan memeluknya.
“Kakak … aku masih bisa berjalan sendiri. Tidak perlu didukung seperti ini.”
“Aku khawatir kamu tersandung. Lebih nyaman bagiku untuk memastikan kamu baik-baik saja.”
“Kakak berlebihan,” keluh Elina.
“Yah. Aku berlebihan.”
“Aku tidak bisa berkata-kata.”
“Kalau begitu diam saja dan terima perlakuanku ini.”
Bara menuntun Elina dengan sangat hati-hati. Mereka berjalan ke luar dengan sangat pelan. Itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan siput
yang berjalan. Sungguh sangat lama.
Bara membukakan pintu co-pilot dan membantu Elina duduk dengan sangat hati-hati. Setelah memastikan Elina aman dan nyaman, dia memutari mobil dan masuk. Memakai sabuk pengaman dan siap berkendara ke rumah sakit khusus ibu dan anak. Rumah sakit swasta elit.
“Kakak, bukankah Kakak terlalu lama membuatku duduk di dalam mobil? Kenapa berjalan begitu lambat? Lihat, mobil di belakang kita bahkan
beberapa kali membunyikan klakson tidak sabar.”
“Aku tidak peduli. Aku harus sangat hati-hati. Aku tidak ingin menyakiti kandunganmu.”
“Kakak terlalu berlebihan. Aku tidak apa-apa dan kandunganku kuat. Kakak bisa menyetir dengan normal.”
__ADS_1
“Tidak.”
Elina hanya bisa pasrah. Dia tidak berdaya. Orang ini sangat keras kepala. Dia tidak selemah itu dan dia juga tidak akan dengan mudah terluka.
Bara lagi-lagi berkendara dengan sangat pelan. Itu tidak pernah melewati 60 km / jam. Perjalanan yang seharusnya bisa diakses dengan 1 jam, itu memerlukan waktu 2 jam.
Bokong Elina sakit karena duduk dalam waktu yang lama dengan posisi yang sama. “Lihat, bokongku sakit karena duduk terlalu lama,” keluh Elina dengan nada manja.
Bara yang baru saja memakirkan mobilnya dan bersiap untuk membuka sabuk pengaman menoleh dengan khawatir. “Apakah ada yang sakit? Mana yang sakit? Apakah kita harus ke IGD?”
Elina memandang Bara dengan tatapan tidak percaya. Orang ini benar-benar berlebihan. “Kakak, tidak apa-apa. Jangan berlebihan.”
“Tapi ini pertama kalinya aku bersama ibu hamil. Aku takut aku melakukan kesalahan.”
Elina tersenyum lembut. Laki-laki ini benar-benar baik. Meskipun agak berlebihan, tapi masih bisa diterima. Setidaknya Bara berusaha menjaga
dirinya dengan sangat baik. Kelewat baik malah.
“Tidak apa-apa. Ayo keluar. Mungkin antriannya sudah banyak.”
lebih memilih rumah sakit khusus perawatan ibu dan anak. Jadi meskipun dia pasien VIP, nyatanya dia masih harus mengantri karena di rumah sakit ini pasien VIP tidak hanya dirinya. Dia sama sekali tidak mendapat perlakuan khusus seperti yang dikisahkan dalam novel-novel jika orang kaya sakit dan langsung ditangani oleh dokter dan tim khusus.
Elina masih harus mengantri meski antriannya tidak begitu panjang.
Bara masih mendukung Elina seperti mendukung orang tua lanjut usia yang sudah sangat sulit untuk berjalan. Elina hanya bisa berkompromi karena berapapun dia meminta untuk bertindak normal, Bara tetap tidak mendengarkannya. Bara masih membawa Elina dengan sangat pelan dan sangat hati-hati seolah-olah jika Bara tidak memegang Elina, detik berikutnya Elina akan
langsung celaka dan mati.
Sepertinya Bara adalah tipe manusia yang paranoid. Meskipun dia bersikap dingin pada orang lain, tapi Bara selalu bersikap hangat padanya. Elina cukup berterima kasih dengan hal ini.
“Biarkan aku yang mengurus berkas-berkasnya. Kamu duduk.”
“Oke.”
Bara menuntun Elina duduk di sofa yang empuk. Beruntung fasilitas di rumah sakit ini sangat memenuhi standar kelas atas. Dari mulai gedung yang mewah sampai perabotan semua sesuai dengan estetika Bara.
“Tunggu di sini. Aku akan mengurus pendaftaran.”
__ADS_1
Elina hanya mengangguk dan mengulas senyum. Dia mulai membaca majalah yang ada di depannya saat Bara meninggalkan Elina dan pergi
untuk mendaftar.
***
Arka saat ini membawa sekeranjang buah dan bersiap naik ke ruang rawat inap. Demi kemajuan proyek, dia sengaja mendekati mitra bisnisnya dan sekarang anak dari mitra bisnisnya itu sakit dan di rawat di rumah sakit khusus ibu dan anak.
Untuk ke bangsal rawat inap, dia harus berjalan melewati ruang pemeriksaan kandungan.
Arka dengan percaya diri berjalan melewati ruang pemeriksaan kandungan. Tapi jalannya terhenti saat dia melihat sosok familiar sedang duduk
di sofa. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah sosok itu sesekali mengelus perutnya yang buncit.
Arka mencoba menjernihkan penglihatannya. Dia sudah 4 bulan tidak melihat sosok ini dan dia mungkin juga berhalusinasi. Arka ingin
memastikan dan dia berjalan mendekat. Tapi setelah mendekat, dia dapat memastikan kalau sosok di depannya ini memang orang yang ingin dia temui dan selama ini seolah-olah menghilang.
“Elina?” Arka masih tidak percaya dengan penglihatnnya.
Elina yang sedang menunduk itu mendongak saat sebuah suara memanggilnya. Dan detik berikutnya dia terdiam. Waktu seoalah berhenti. Elina memandang Arka dan Arka menatap Elina dengan penuh pertanyaan.
“Kenapa kamu di sini? Dan, dan kenapa perutmu membesar? Apa kamu sakit?” Arka mencoba mencari informasi kalau daerah ini adalah daerah
pemeriksaan kandungan.
Elina tidak menyangka akan bertemu di tempat ini. Dari banyaknya tempat, kenapa harus bertemu di tempat pemeriksaan? Elina sudah
sebisa mungkin untuk menghindar dan menjauh dari Arka setidaknya sampai anaknya lahir. Dia tidak menyangka Tuhan mempertemukan mereka di sini.
“Elina, apa kamu hamil?” Arka benar-benar tidak percaya dan ini semua tidak masuk akal.
Elina ingin mengabaikan Arka. Tapi itu tidak mungkin karena orangnya sudah ada di depan mata.
“Elin, ayo masuk. Sudah saatnya kamu diperiksa.” Bara masih belum tahu kalau ada Arka yang berdiri tidak jauh dari Elina.
Elina menghela napas lega. Bara datang di waktu yang tepat.
__ADS_1