Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 46 - Nona Muda Bekerja di Ladang 2


__ADS_3

Sawah yang membentang hijau dan kebun sayuran hijau terlihat sangat kontras dengan wanita yang berdiri memakai gaun serta payung merah muda. Dia terlihat begitu menonjol dibanding orang-orang yang saat ini sudah mulai


bekerja. Ada yang menyiangi tanaman, ada yang mencabuti rumput, ada yang mencangkul, dan kesibukan pertanian lainnya.


Elina berdiri bingung, dia tidak tahu harus bekerja apa. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak mengerti apapun tentang pertanian. Jadi


dia hanya berdiri diam sementara itu Arka sudah menyibukan diri menyabuti rumput yang tumbuh di sekitar sayuran.


“Kakak, apa yang harus aku lakukan?” Elina berjalan mendekati Arka yang sudah berjongkok di ladang. Elina selalu berjarak tidak lebih


dari sepuluh meter dari Arka dan harus selalu berada di dekat Arka. Di tempat asing yang kotor ini, oh tolonglah, Elina jelas tidak akan mau jauh-jauh dari satu-satunya orang yang dikenalnya.


Sementara dia masih berdiri di dekat Arka, saat dia mengalihkan perhatiannya dan melihat ke jalan, dia mendapati dua sosok manusia yang sedang berjalan ke arahnya. Tidak, lebih tepatnya berjalan ke arah Arka. Itu adalah asisten Arka-Adam-dan juga orang yang tidak ingin Elina lihat yaitu Bulan.


Elina mengernyitkan dahinya. Bukankah Bulan tadi masuk ke kelompok yang akan mengajar di sekolahan? Kenapa sekarang dia berjalan ke arah


sini? Apakah ini sesuai pengaturan plot dan pahlawan wanita akan selalu terlihat disekitar pahlawan pria? Elina melepas kaca matanya dan ia taruh di saku. Dia tidak ingin berurusan dengan Bulan dan memilih untuk mulai mengikuti Arka mencabuti tanaman hama di sekitar sayuran.


Elina berjongkok dengan payung yang selalu mengikutinya ke manapun dia pergi. Matahari siang hari sangatlah meyengat dan Elina sudah basah kuyup oleh keringat dan kepanasan sebelum sempat melakukan apapun. Dia hanya


berdiri tapi keringatnya sudah bercucuran dan sekarang dia sudah berjongkok dengan payungnya dan perlahan-lahan mengulurkan tangan yang dibalut sarung tangan untuk mencabuti rumput.


“Kenapa susah sekali mencabut rumput ini?” Elina mudah sekali dibuat kesal. Itu hanya rumput, tapi kenapa begitu alot saat dicabut. Akarnya sepertinya terlalu dalam dan Elina yang pertama kali dalam hidupya mencabut rumput ini


harus mengerahkan kekuatannya lebih besar hanya agar bisa berhasil mencabut gulma ini.


“Argh!” Elina jatuh terduduk karena saking kuatnya dia menarik rumput dan saat rumput itu berhasil tercabut, otomatis Elina tidak memiliki


persiapan untuk menahan diri agar tidak terdorong ke belakang.


Bokong Elina kebetulan menduduki batu dan itu terasa sangat sakit. Pada saat ini Elina mendengar suara yang menkhawatirkan dari atasnya.


“Nona, apa Anda tidak apa-apa?” Bulan berlari ke arah Elina saat melihat Elina terpental. Dia sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak pecah.


Nona muda ini terlihat sangat konyol dan lucu baik dari segi pakaian yang tidak cocok dengan area ladang dan juga tingkahnya yang bodoh. Apa nona ini tidak memiliki kecerdasan? Kenapa hanya mencabut rumput saja bisa jatuh terduduk. Dia khawatir kalau Elina diberi sabit itu mungkin akan membahayakan dirinya dan orang lain.

__ADS_1


Elina kesakitan, tapi saat dia mendnegar suara Bulan yang tertahan seperti sedang menahan tawa, dia jelas langsung kesal. Pahlawan wanita


ini baik dari mananya? Kenapa dia ingin tertawa ketika melihat orang lain menderita? Apakah deskripsi dalam novel tentang pahlwan wanita yang baik seperti malaikat dan memiliki empati dan simpati tinggi itu palsu?


“Tidak apa-apa.” Elina melirik Bulan sekilas dan lanjut melihat ke arah Arka. Seperti dugaannya, laki-laki ini tidak peduli dengannya dan masih terus bekerja mencabuti rumput. Dasar laki-laki tidak berperasaan!


“Kalau begitu aku akan membantu kalian mencabuti rumput.”


Elina : “…”


“Bos! Kami datang untuk membantu,” kata Adam yang langsung bergabung ke sisi Arka untuk mencabuti rumput liar.


“Pergilah ke area lain. Di sana ada yang lebih perlu bantuan daripada hanya mencabuti rumput.”


“Baiklah.”


Adam bangkit dan pergi meninggalkan sisi Arka dan menyisakan tiga orang yang bekerja mencabuti rumput termasuk Elina di dalamnya.


Elina melihat Bulan yang dengan terampil membabat habis rumput yang membandel menggunakan sabit atau parang itu. Dia terlihat begitu terbiasa. Apa pahlawan wanita yang miskin ini memang sudah terbiasa memegang sabit? Kenapa terlihat begitu ahli, Elina jadi iri dibuatnya. Tapi Elina tidak terlalu memperhatikan Bulan terlalu lama karena saat dia menoleh ke arah tangannya, sesuatu merambat di jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan.


“Aaahhh!” Elina menjerit dan refleks berdiri dengan ketakutan. Dia mengibas-ngibaskan tangannya berharap ulatnya akan jatuh.


“Kakak! Ada ulat hiks, hiks.” Elina dengan mudahnya menangis. Dia takut dan juga jijik dengan ulat bulu itu. Meksipun tidak menyentuh langsut ke kulitnya dan tidak menimbulkan rasa gatal, tetap saja itu menjijikan dan menakutkan. Elina belum pernah menyentuh ulat dalam hidupnya!


“Tidak apa-apa, itu hanya ulat.” Bulan mencoba menghibur Elina dan tersenyum ramah.


Tidak apa-apa nenekmu!


Elina sangat ingin memarahi pahlawan wanita ini tapi dia masih menahannya karena takut akan konsekuensinya jika dia berani memarahi


pahlawan wanita di depan Arka. Sementara itu Arka hanya manatapnya dalam diam dan tidak datang membantu sama sekali yang membuat Elina jadi kesal dengan Arka.


“Tidak apa-apa. Mari lanjut bekerja,” kata Bulan.


Elina tidak lagi peduli dengan pekerjaan. Dia yang sudah berdiri itu berjalan ke arah tanggul dan duduk di sana. Dia tidak lagi mau bekerja

__ADS_1


mencabuti rumput. Siapa yang tahu hal apa lagi yang akan menempel di tangannya. Bisa-bisa itu mungkin cacing atau bahkan ular! Hanya membayangkannya membuat Elina merinding.


Saat Elina kesal dan wajahnya masam, tiba-tiba suara sistem terdengar.


Ding!


[Selamat! Misi pergi ke pedesaan dan melakukan amal sosial berhasil dilaksanakan. Uang 500 juta akan langsung di transfer ke rekening vitual.]


Membaca bilah notifikasi yang muncul di depannya, Elina langsung berubah senang. Wajahnya yang tadinya masam kini penuh dengan senyuman. Itu berarti dia tidak harus repot-repot bekerja ataupun melakukan hal lain demi kesuksesan misi dan dia bisa bersantai ria menikmati pemandangan yang membentang di


depannya.


Elina tiba-tiba merasa pergi ke pedesaan ada manfaatnya juga. Setidaknya dia bisa menghirup udara segar dan melihat kehijauan hutan dan


sawah. Meski dia masih menganggap kalau pedesaannya terlalu kumuh dan menjijikan.


“Aww!”


Elina menoleh ke sumber suara. Itu adalah pemandangan Bulan yang sedang memegang jarinya yang sepertinya teriris sabit dan darahnya terus menetes.


“Apa yang terjadi?” tanya Arka yang sudah berjalan ke arah Bulan dan langsung memegang tangan Bulan dan menekannya mencoba menghentikan pendarahan.


“Kenapa tidak hati-hati? Cepat tekan lukanya dan kembali ke balai desa untuk mendapat perawatan,” titah Arka.


“Tidak apa-apa, Pak! Ini hanya luka kecil.”


Elina yang memperhatikan dari jarak beberapa meter itu tidak bisa berkata-kata. Apa-apaan ini? Kenapa Arka langsung bertindak cepat saat


Bulan terluka tapi dia tidak peduli saat Elina jatuh dan menjerit ketakutan saat ada ulat yang menempel di tangannya.


Ah!


Dia sadar! Mereka memang adalah pasangan asli dalam novel. Jadi mungkin wajar jika Arka khawatir dengan Bulan. Tapi entah kenapa hati Elina terasa sakit dan air matanya menetes. Dia berdiri dan langsung berbalik tanpa melihat


ke belakang lagi. Dia berjalan dengan cepat dan meninggalkan dua orang itu yang masih saling memegang tangan. Elina pergi tanpa menoleh ke belakang. Hatinya masam dan sakit. Dia tidak peduli lagi dengan Arka.

__ADS_1


***Mohon bantu author dengan memfollow akun ini. Terima kasih***


__ADS_2