Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 40 – Pergi ke Pedesaan 1


__ADS_3

Jam dua pagi di Villa Maharani orang-orang sudah terjaga. Terutama para pelayan, mereka semua bangun pagi. Ini semua karena Elina. Nona


muda ini membuat seluruh penghuni villa merasakan yang namanya kerja di pagi


buta.


Para pelayan sibuk menyiapkan barang-barang apa yang harus dibawa ke pedesaan seperti selimut, bantal, pakaian ganti, barang perawatan


seperti skincare dan kebutuhan pribadi lainnya.


“Kenapa kalian bekerja sangat awal?” Neo yang tidak tahu kalau adiknya akan pergi ke pedesaan dalam satu hari satu malam itu bertanya sambil mengucek matanya. Dia masih sangat mengantuk, tapi kegaduhan yang terjadi membuatnya terjaga dan tidak bisa tidur.


“Nona akan pergi ke pedesaan untuk melakukan kegiatan amal, Tuan.”


“Hah! Apa? Coba ulangi,” perintah Neo merasa dia masih belum bangun sepenuhnya dan telinganya mengalami halusinasi pendengaran.


“Nona Elina akan pergi ke pedesaan dalam rangka acara amal sosial Perusahaan Giandra,” ulang kepala pelayan dengan sabar.


“Apa?! Keluarga Giandra? Apa adiku membuat masalah lagi dan memaksa ikut ke pedesaan demi Arka? Adiku sepanjang umurnya belum pernah pergi ke pedesaan. Bagaimana mungkin dia mau pergi ke tempat kotor itu jika bukan karena Arka.”


“Sebenarnya ini adalah permintaan Presdir Grup Giandra, Tuan.” Kepala pelayan membela Elina. Dia tidak terlalu suka jika nonanya selalu


disalahkan karena mencintai Arka. Memangnya apa yang salah? Itu hanyalah cinta. Kenapa begitu menantang percintaan dan perjuangan nonanya untuk mendapatkan hati Arka?


“Apa! Kakek Thomas?” Neo jelas sangat terkejut kali ini dia tidak bisa berkata apa-apa. Apakah adiknya akhirnya bisa menaklukan Arka?


Entahlah, dia tidak yakin. Laki-laki ini sebenarnya sangatalah berbahaya. Tapi orang-orang banyak yang meremehkan bakat Arka. Neo yakin suatu hari Arka akan melakukan sesuatu yang sangat besar yang mengguncang perusahaan.


Sementara itu di lantai atas tepatnya di kamar Elina, nona muda ini masih sangat mengantuk tapi dia harus memaksa matanya untuk terbuka


lebar.


“Apa Nona akan tetap memakai dress yang kasual?” tanya salah satu pelayan yang sedang memilih baju untuk dibawa ke pedesaan.


“Tentu saja! Nona harus tampil anggun di mana dan kapanpun!” sahut pelayan lain.


“Tapi bukankah Nona akan melakukan beberapa pekerjaan di desa nanti?”

__ADS_1


“Itu sepertinya tidak mungkin. Paling Nona hanya akan melihat dari kejauhan. Dia hanya akan menyetor wajahnya. Dia pasti tidak akan ikut turun ke lapangan.”


“Benar. Aku tidak akan turun untuk bekerja. Bawa saja gaun yang indah tapi sederhana. Karena ini acara amal, tidak mungkin aku memakai perhiasan atau pakaian yang glamour penuh berlian.”


Elina mengagetkan para pelayan itu karena kemunculannya yang tiba-tiba. Elina juga mendengar semua percakapan diantara mereka. Memang benar, dia tidak akan ikut dalam pekerjaan di desa nanti. Dia hanya akan melihat dari kejauhan. Bukankah dalam misi yang terpenting adalah dia ikut ke pedesaan. Tidak ada penjelasan kalau dia harus ikut bekerja. Jadi Elina bisa sedikit santai.


***


Pukul 3 dini hari Elina sudah rampung menyiapkan diri dan sekarang dia sudah berada di luar villa untuk pergi ke Perusahaan Giandra.


“Nona hati-hati di sana. Jika Nona tidak kuat, maka Anda bisa menelpon rumah. Sopir pasti akan datang menjemput,” kata kepala pelayan.


Padahal mereka tidak tahu alamat dan desa  mana yang akan Elina tuju, bagaimana bisa menjemputnya secara asal.


Tapi Elina menerima niat baik para pelayannya, “Begitu. Terima kasih. Aku pergi dulu.”


“Hati-hati di jalan, Nona.”


Elina memasuki mobil dan mobil pun melaju menuju Perusahaan Giandra. Elina menguap. Dia masih sangat mengantuk. Untuk itu dia tidur di


Itu tepat pukul 4 pagi Elina sampai di Perusahaan Giandra. Dan saat Elina turun, dia langsung melihat Arka yang berdiri dengan sangat


gagah menggunakan kaos olah raga menginstruksikan orang-orang untuk melakukan


sesuatu. Saat melihat Arka, tiba-tiba Elina jadi kesal. Gara-gara laki-laki ini dia harus ikut ke pedesaan!


Sialan!


Elina berjalan dengan sepatu flatnya. Dia tidak menggunakan sepatu berhak tinggi karena dia tahu dia akan ke pedesaan yang mungkin jalannya jelek. Jadi dia memilih memakai sepatu datar meski itu dihiasi dengan beberapa


ornamen cantik berwarna merah muda sesuai dengan dress yang ia kenakan, sweater merah muda.


“Nona, Anda sudah datang.” Adam berlari kecil ke arah Elina dan dia membulatkan matanya saat melihat Elina dan barang bawaannya. “Nona,


kenapa nona memakai dress? Dan kenapa barang bawaannya banyak sekali?”


“Memangnya kenapa dengan bajuku? Dan barang-barangku? Bukankah kita akan menginap?”

__ADS_1


“Itu benar, tapi …” kata-kata Adam terputus saat Arka memerintahkan dari kejauhan untuk segera berangkat.


“Oke. Tolong bawakan koperku dan tas ini. Aku tidak bisa membawanya sendiri,” kata Elina meninggalkan Adam dengan satu koper dan tas


punggung yang besar. Dia berjalan menuju bus dengan anggun dan tidak memperhatikan ekspresi menderita dari Adam.


Elina masuk ke dalam bus dengan lancar. Dia melihat Arka yang sudah duduk di salah satu bangku di barisan belakang sopir bus. Dia tidak


mau duduk dengan Arka, tapi saat Elina melihat ke belakang, itu ada Bulan yang memakai baju olah raga sama dengan Arka.


Tiba-tiba hati Elina masam saat melihat ini. Oh! Lihatlah, mereka bahkan memakai baju olah raga yang sama. Seperti pasangan yang dibuat


dari surga. Elina merasa kesal seketika.


Dia mendengus pelan dan ingin berjalan dan duduk ke belakang. Tapi saat melewati Arka, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan Elina jatuh terduduk.


“Ah!” Elina membuat suara dengan sangat keras dan membuat  orang-orang memperhatikan ke arahnya.


“Mau pergi ke mana?” Suara dingin itu masuk ke telinga Elina. Dia yang masih kaget karena tangannya ditarik seseorang itu mendongak


dan menoleh. Itu adalah wajah Arka yang begitu dekat dengannya. Hanya berjarak beberapa mili saja. Elina tiba-tiba mengingat saat Arka menciumnya, dia dengan cepat memundurkan kepalanya dan menatap Arka tajam.


“Kenapa kamu menarik tanganku tiba-tiba! Membuat kaget saja,” marah Elina. Dia sangat kesal saat melihat Bulan dan kini Arka juga


membuatnya kesal. Jika bukan karena misi, dia malas untuk bertemu dengan Arka.


“Kamu mau pergi ke mana? Tidak duduk denganku?”


Elina memandang Arka dengan bingung. Apa pahlawan ini mati otak, seharusnya dia sangat membenci Elina dan tidak mau dekat-dekat dengannya. Kenapa malah dia menariknya ke kursinya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.


Elina tidak ingin menjawab pertanyaan Arka. Dia bangkit dan berniat untuk pergi dari kursi yang Arka duduki. Namun aksinya gagal saat tangannya kembali ditarik.


“Duduk di sini dan tidur. Kakakmu menyuruhku untuk menjagamu tadi di telepon dan aku dengar kamu bahkan bangun jam 2 pagi. Kamu pasti akan mengantuk di perjalanan.”


“Itu bukan urusanmu!” Elina mencoba menepis tangan Arka dan dia berjalan ke sisi paling belakang mobil dan duduk di sana sendirian.


Mengabaikan berbagai tatapan yang sedari tadi menyorot padanya. Dia tidak peduli. Elina hanya ingin lanjut tidur dan mengabaikan semua orang!

__ADS_1


__ADS_2