
Bara melemparkan kertas yang berisi laporan triwulan perusahaan dengan keras. Alisnya berkerut. Dia jelas marah dengan hasil yang
menurutnya tidak sesuai ini.
Para karyawan yang berada di ruang rapat bergetar dan berkeringat dingin. Mereka tidak berani berbicara dan mereka menahan napas dan
mencoba menyembunyikan keberadaan mereka sebisa mungkin.
Bos mereka yang biasanya dingin dan terlihat menakutkan kini terlihat lebih garang seperti iblis yang mengamuk. Ini karena kesalahan tim tertentu hingga membuat pendapatan triwulan perusahaan menurun meski itu hanya nol koma sekian persen. Itu bahkan tidak sampai 1 persen penurunan keuntungan. Tapi Bara yang memang orang perfeksionis dengan ambisi yang tinggi tidak bisa menerima penurunan kinerja seperti ini.
“Apa kalian ingin beristrirahat di rumah dengan nyaman? Kenapa kalian tidak keluar dan berkemas lalu pulang dan tidur.” Dalam kata lain kalian bisa keluar dari perusahaan ini. Kalian dipecat!
Bara benar-benar bertemperamen dan berhati dingin. Itu menambah kesan menakutkan bagi bawahannya. Bahkan wajah tampannya tidak bisa
menyelamatkan citranya yang sudah kepalang buruk. Dia dijuluki sebagai hadesnya dan putra mahkota diktaktor Perusahaan Wijaya, meski terkenal menakutkan, nyatanya masih banyak karyawan wanita yang diam-diam menaruh hati pada iblis yang satu ini.
“Kalian bisa keluar,” kata Bara dengan suara rendah dan terkesan dingin.
Para karyawan teruburu-buru memberesi barang-barang mereka dan berebut untuk keluar terlebih dahulu. Mereka jelas tidak ingin terlalu
berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Bara yang sedang dalam mood buruk.
Ruangan dengan cepat kosong dan menyisakan Bara dan satu-satunya manusia yang bisa bertahan dengan temperamen Bara. Itu adalah
asisten Bara yang sedang menerima telepon. Frans sedikit menjauh dari Bara saat menerima telepon yang datang dari sekretaris Bara.
Bara menyandarkan punggungnya pada kursi dengan keras. Melonggarkan dasinya dengan kasar dan akhirnya dia bisa sedikit bernapas dengan mudah. Ya, dia tadi merasa sangat sesak. Dasinya seolah mencekiknya dan itu membuat emosi Bara tadi semakin meluap. Tidak benar-benar mencekik, hanya sebagai ungkapan saja. Dalam situasi Bara yang sangat ambisius terhadap bisnis dan kesuksesan, dalam 28
tahun hidupnya, ini adalah pertama kali bagi Bara untuk mengalami penurunan meski itu hanya sedikit. Tapi itu sangat menganggu dan membuat sakit mata.
Sepertinya Bara memiliki kelainan psikologis yang membuatnya sangat ambisius dan sulit untuk menerima kekalahan. Dia sendiri tidak tahu dan
memang tidak pernah memeriksakan kondisinya ke tenaga ahli di bidangnya.
“Begitu. Baik, saya akan menyampaikannya pada Pak Bara.” Frans menutup panggilan telepon dan memasukan ponselnya ke sakunya sambil berjalan ke arah Bara.
“Pak, Nona muda ada di ruangan Anda.” Frans tidak melaporkan dengan siapa Clara datang dan hanya memberitahunya bahwa nona muda yang merujuk ke Clara sedang berada di ruangan kantor Bara.
__ADS_1
Mendengar adiknya berada di ruangannya tidak membuat Bara berubah menjadi lebih baik malah itu membuat Bara tambah sakit kepala. Untuk apa
adiknya yang biasanya tidak pernah berkunjung ke kantor tiba-tiba datang menemuinya. Apakah ini berhubungan dengan permintaannya yang terakhir kali?
“Hm.”
Bara hanya bergumam pelan dan bangkit. Dia siap meninggalkan ruang rapat yang membuat moodnya buruk ini. Langkahnya cepat dan mantap. Dia terlihat sangat gagah saat berjalan, seperti model yang berjalan di catwalk. Tapi tidak
ada yang melihat pertunjukan ini karena Bara menggunakan jalan khusus dan sepanjang
jalan dia tidak bertemu dengan satu manusia lain pun.
Alis Bara jelas masih tertaut yang mendakan moodnya masih buruk. Tampilannya sudah tidak rapih karena dasinya sudah dilonggarkan. Tapi dia
tidak peduli karena saat ini yang terpenting adalah mencari tahu kenapa adik perempuan satu-satunya ini berani mengganggu waktu kerjanya.
***
Elina yang ditarik paksa oleh Clara tidak bisa mengelak dan dia menuruti ke mana Clara pergi. Dia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang
desainnya terlalu dingin. Benar-benar dingin. Ini bahkan jauh lebih dingin daripada ruangan kantor Arka yang masih terlihat warna-warna kehidupan.
“Clara, apa ini kantor kakakmu? Kenapa seperti ini?”
“Oh! Jangan tanyakan selera aneh dari kakakku. Dia memang sedikit berbeda dengan manusia normal lainnya. Tapi jangan khawatir, kakakku adalah orang yang paling baik di dunia ini. Terlepas temperaman dingin dan kakunya. Jika
kamu menghilangkan dua kepribadian bau itu, kamu akan melihat kalau kakakku itu sempurna dan bisa menjadi suami dan ayah yang baik nantinya,” kata Clara panjang lebar mencoba mempromosikan kakaknya berharap Elina sadar apa maksudnya. Dia jelas-jelas merekomendasikan kakaknya sebagai calon suami dan ayah yang baik. Seharusnya Elina paham.
“Oh.” Elina tidak tahu harus merespon seperti apa jadi dia hanya bisa merespon seadanya.
“Tinggalkan Arka dan pilih kakakku, El. Dijamin kamu akan bahagia dalam hidup ini.” Clara benar-benar blak-blakan dan ingin Elina menjadi
saudari iparnya. Dia tidak menyembunyikan itu.
Saat Clara berkata demikian, kebetulan Diana memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan mendengar perkataan Clara.
Diana jelas tidak suka dan semakin membenci Elina. Jadi gadis ini benar-benar berpotensi sebagai saingan cintanya. Dia saja kesulitan mendekati Bara, tapi apa sekarang? Adik Bara bahkan membawa seseorang untuk dijodohkan dengan Bara. Dia tidak terima ini! Diana tidak tahu kalau Elina jelas memiliki setatus lebih tinggi darinya. Dia hanya orang biasa dan Elina adalah seorang putri bangsawan, tapi Diana tidak tahu itu dan tidak peduli. Yang dia pedulikan adalah Elina menjadi saingan cintanya. Hanya itu!
__ADS_1
Tapi meski begitu, Diana tetap tidak melakukan apapun terhadap Elina. Paling jauh dia hanya menatap Elina dengan penuh kebencian yang
membuat Elina merasa risih.
Elina jelas peka dengan tatapan kebencian yang Diana tunjukan pada dirinya.
“Kak Diana! Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu?” Clara jelas kaget saat dia melihat ada tambahan orang di ruangan ini. Dia tidak
mendengar suara ketukan dan saat dia berbalik, dia melihat sosok Diana yang masuk
membawakan minuman.
“Maafkan aku. Aku sudah terbiasa seperti ini,” kata Diana dalam kata lain dia sedang pamer pada Elina bahwa dia sudah terbiasa masuk
tanpa mengetuk pintu dan itu artinya agak sepesial. Tapi yang Diana tidak tahu adalah Elina benar-benar tidak peduli dengan perkataan Diana. Jadi usaha Diana untuk pamer benar-benar sia-sia.
“Bukankah itu tidak sopan?” Clara menjadi sedikit tidak suka dengan Diana. Wanita ini jika diperhatikan sepertinya memiliki niat lain.
“Clara, aku ingin pergi ke kamar mandi. Bisa tunjukan aku di mana kamar mandinya?” sela Elina. Dia tidak ingin melihat Clara yang sepertinya akan berdebat dengan Diana.
“Kamu dorong pintu itu. Ada kamar mandi di dalamnya.”
“Begitu.” Elina masuk ke dalam kamar mandi yang juga berada di dalam ruangan ini. Sepertinya Bara juga setipe dengan Arka yang suka berlama-lama
dan mungkin tidur di kantor. Itu terbukti dengan ruangan tempat istirahat ini.
Diana tidak ingin berdebat dengan Clara jadi setelah dia menaruh minuman di meja, dia segera pergi. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dan itu adalah sosok Bara yang masuk.
“Aku dengar kamu datang ke kantorku, kali ini ada apa mengangguku?” tanya Bara langsung. Dia hanya melihat Clara yang sedang duduk dengan manis sambil minum teh. Tiba-tiba emosinya meningkat. Apa adiknya datang hanya untuk minum teh dengan anggun? Tapi tunggu, kenapa itu ada dua cangkir?
Bara mendengar ada suara pintu tertutup dan saat dia menoleh dan berbalik ke sumber suara. Dia membeku. Waktu seolah berhenti dan dia
terpana. “El-elina?”
Sial!
Itu benar-benar Elina yang baru saja keluar dari ruangan istirahatnya. Dia bisa menebak kalau Elina pasti baru saja pergi ke kamar mandi. Elina pergi ke kamar mandinya! Sial! Jantungnya berdebar sangat kencang memikirkan Elina baru saja menggunakan kamar mandi yang sama dengannya.
__ADS_1
Sepertinya dia akan mati. Debaran jantungnya sangat cepat. Tolong! Siapapun tolong Bara yang saat ini begitu gugup melihat bidadari di depannya turun dari langit!