
Arka keluar dari kamar mandi dengan diselimuti uap efek dari mandi air hangat. Hanya dibalut dengan handuk mandi di bagian bawah tubuh, Arka berjalan ke sisi meja sambil mengeringkan rambut pendeknya yang basah menggunakan handuk. Otot enam pack nya terlihat sangat menggoda, ditambah garis putri duyung yang terukir dengan jelas berkat olahraga yang rutin itu terlihat sangat seksi.
Nyatanya, sesibuk apapun Arka, dia masih menyempatkan untuk berolahraga dan mempertahankan sosoknya yang luar biasa. Dia yakin jika Elina melihat sosok tubuhnya, Elina pasti akan tergoda. Sayang sekali Elina tidak ada di depannya. Pikir Arka sambil menyeringai kecil membayangkan reaksi Elina jika dia benar-benar memperlihatkan otot-otot perutnya. Ck! Arka sudah tidak sabar untuk segera menikahi Elina.
Arka melemparkan handuk ke sofa dan mengambil ponselnya. Dengan cepat dia mencari nomor asistennya dan melakukan panggilan.
“Selamat malam, Bos! Apa perintahmu?” tanya Adam asisten khusus Arka yang selalu siap siaga 24 jam.
“Carikan nomor ponsel Bulan dan kirimkan padaku segera.” Arka memang tidak memiliki kontak nomor Bulan.
“Baik.”
Tidak butuh waktu lama Adam sudah mengirimi nomor Bulan. Arka melihat nomor itu sekilas dan langsung membuat panggilan.
“Halo? Siapa ini?” Suara Bulan terdengar dari speaker. Bulan memang tidak memiliki nomor ponsel Arka. Berkali-kali dia memita nomor Arka pada Adam, tapi selalu ditolak.
“Ini Arka. Besok pagi kamu cuti dan datang ke Vila Giandra jam 9 pagi.”
“Arka?! Benarkah ini Arka? Bagaimana kamu bisa punya nomorku?” tanya Bulan dengan suara meninggi. Jelas dia sangat bersemangat dan
terkejut dengan panggilan Arka. Dia tidak pernah menyangka akan ada waktu sang pahlawan pria menghubunginya terlebih dahulu. Saat ini Bulan yang berada di apartemennya sedang sangat bahagia. Dia bahkan melompat-lompat di kasur masih tidak percaya dengan fakta bahwa Arka menelponnya.
“Dan bawa kontrak pertunangan juga. Jangan lupa itu.”
“Untuk apa kontr-“
Bip!
Arka langsung mematikan sambungan telepon dan langsung memblokir nomor Bulan. Dia takut wanita aneh ini akan mengganggunya dengan menelpon balik dirinya. Dia juga melempar ponselnya pada kasur dan berjalan ke arah lemari
untuk memakai baju. Setelah memakai baju dia langsung pergi ke ruang belajar untuk melanjutkan kerja. Dia sudah menunda banyak hal dan hari ini bisa dibilang dia tidak produktif. Tapi meskipun demikian, dia masih bahagia karena dia akhirnya bisa melihat dan berbicara dengan Elina.
***
Sementara itu Bulan yang kecewa dengan panggilan yang terputus sepihak oleh Arka sedang mencoba menelpon balik Arka. Memang benar wanita ini mencoba beberapa kali menelpon Arka sesuai dengan perkiraan Arka,
__ADS_1
tapi hanya suara mekanis yang terdengar.
Bulan langsung terduduk dan wajahnya berubah dari tersenyum cerah ke wajah penuh kekecewaan.
“Mungkin Arka sibuk,” katanya menghibur diri sendiri. Bulan yang sedang duduk di kasur dengan cepat menyetabilkan emosinya dan mencoba berpikir positif. Dengan cara ini Bulan kembali bahagia. Dia turun dari kasur dan pergi
ke depan meja rias untuk mengaplikasikan perawatan wajah sambil bersenandung. Dia
cukup senang karena akhirnya pahlawan pria mau menghubunginya dengan inisiatifnya
sendiri.
Kemudian Bulan teringat perintah Arka. Besok pagi dia tidak akan pergi bekerja dan membawa kontrak pertunangan. Bulan penasaran dengan
tujuan Arka. Dia berpikir apa yang akan Arka lakukan di vila besok. Apakah akan ada perubahan pada isi kontrak? Seperti perpanjangan waktu tunangan dari satu tahun ke beberapa tahun atau langsung meloncat ke jenjang pernikahan?
Bulan terbuai dengan khayalannya sendiri dan tidak pernah terpikirkan kalau besok kontrak itu mungkin saja akan dihancurkan oleh Arka.
Bulan tidak berpikir sampai situ.
***
Tapi sebelum itu, Arka pergi ke gym untuk berolahraga sekitar 30 menit. Lalu setelah itu dia mandi dan sarapan. Dan tepat pukul 8 pagi dia pergi mengendarai mobilnya menuju vila Maharani. Butuh sekitar satu jam untuk sampai ke pinggiran kota dari apartemen Arka. Perkiraan akan tiba tepat pada pukul 9 pagi sesuai jadwal.
Kemarin setelah menghubungi Bulan, Arka juga menghubungi kepala pelayan vila dan memberitahu mereka kalau dirinya dan Bulan akan bertemu di vila untuk mendiskusikan sesuatu. Arka harus menghubungi pihak vila agar
kakeknya bisa bersiap.
Mobil Arka sudah memasuki area vila. Dia turun dan tidak seperti biasa, kepala pelayan yang biasanya akan enggan untuk menyambutnya,
kini sudah mulai berubah sikap dengan mulai berdiri di teras menunggunya turun dari mobil. Arka mencibir. Ini semua berkat posisi dirinya yang semakin kuat di keluarga Giandra. Perlakuan para pelayan sudah semakin berbeda dan mereka sudah tidak berani merendahkan dirinya secara terang-terangan seperti dulu. Cih! Munafik!
Arka sangat membenci orang-orang di keluarga Giandra. Dia sudah tidak sabar untuk menghancurkan keluarga ini.
“Tuan muda Anda sudah datang. Tuan Thomas sudah menunggu seperti biasa di halaman belakang. Dan Nona Bulan juga sudah datang. Mereka sedang meminum teh bersama,” lapor kepala pelayan dengan sangat sopan. Benar-benar perubahan sikap yang luar biasa sampai membuat Arka ingin muntah. Dia jijik
__ADS_1
dengan perubahan ini.
“…”
Arka tidak berniat menanggapi dan dia masuk melewati kepala pelayan begitu saja dan langsung berjalan ke halaman belakang. Seperti biasa, kakeknya yang sudah lama pensiun itu sangat suka menghabiskan harinya di halaman belakang dengan minum teh ataupun bermain catur dengan pengasuh lainnya.
“Arka kamu sudah datang.” Bulan berdiri menyambut Arka dengan senyum cerah yang cantik. Tapi Arka mengabaikan Bulan dan langsung duduk di samping kakeknya.
“Kakek aku datang.”
“Begitu. Apa yang ingin kamu diskusikan denganku dan Bulan?”
“Apa kamu membawa surat perjanjian kontrak pertunangan?” Arka menatap Bulan.
Bulan yang ditatap langsung tersipu dan dengan malu-malu menjawab, “Aku membawanya,” katanya dengan suara sangat rendah dan penuh kasih.
“Berikan padaku.”
Bulan tidak tahu apa yang akan Arka lakukan tapi dia langsung memberikan kontrak itu pada Arka.
Srak!
Arka langsung menyobek kertas Bulan dan kertas yang ia bawa menjadi sobekan-sobekan kecil dan berhasil membuat Bulan dan kakek membulatkan
mulut mereka.
“Apa yang kamu lakukan?!” pekik Bulan sangat terkejut dengan tindakan Arka.
“Arka apa maksudmu?” Kakek juga bertanya-tanya.
“Kakek, aku tidak akan bertunangan dengan Bulan. Pertunangan ini batal. Anggap kita tidak pernah membuat penjanjian ini.”
“Tidak! Apa maksudmu? Aku tidak setuju! Aku ingin bertunangan denganmu,” kata Bulan histeris. Dia langsung menatap Kakek Thomas meminta bantuan agar membujuk Arka untuk membatalkan perkataanya.
“Seperti yang tertulis pada kontrak. Aku bebas memutuskan pertunangan kapanpun, di manapun dan dengan alasan apapun. Itu terserahku. Dan lagi, kita bahkan belum benar-benar bertunangan.”
__ADS_1