Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 85 – Kamu cemburu


__ADS_3

“Uhuk! Uhuk!” Elina terbatuk dan merasa perutnya tidak nyaman. Dia memegangi perutnya saat tersedak air minum.


“Elin, apa kamu baik-baik saja?” Ibu langsung menghampiri Elina dan menepuk pelan punggung putrinya. “Apa perutmu baik-baik saja?”


“Ya.” Elina akhirnya merasa lega. Dia menatap Arka yang sedang berlutut dan juga kebetulan Arka menatapnya penuh rasa khawatir.


“Paman, Bibi maafkan aku. Aku tahu aku tidak sopan. Tidak! Sepertinya aku sudah tidak waras. Maafkan aku!”


“Kamu tahu kalau itu tidak sopan tapi masih kamu lakukan.” Ayah jelas tidak suka dengan sikap Arka dan dia tidak mau repot-repot menutupi rasa tidak sukanya.


“Kamu tidak tahu waktu saat berkunjung. Apakah kamu tahu etiket?”


“Saya tahu saya salah. Tolong maafkan kelancangan saya sekali ini. Saya benar-benar ingin bertemu dengan Elina. Elin … jangan


menghindariku. Ayo kita bicara.”


“Huh!” Elina membuang muka.


Begitupun Neo yang langsung memasang tampang garang.


“Pertama-tama ayo berdiri jangan berlutut seperti itu. Paman Sam tolong ambil bingkisan yang dibawa Tuan Arka,” kata Ibu menengahi. Walau


bagaimanapun dia tidak bisa membiarkan calon penerus Keluarga Giandra berlutut. Bagaimana jika kabar itu tersiar di lingkaran sosial? Bukankah itu sama saja mempermalukan Keluarga Maharani?


“Terima kasih, Bibi.” Arka berdiri tapi dia juga masih gelisah. Dia akui dia bodoh dan gegabah. Dia tidak ingat waktu dan datang di saat waktu yang salah.


“Apa kamu sudah makan malam? Mari kita makan bersama. Paman tolong siapkan satu set peralatan lagi.”


“Tidak, saya-“


“Baik, Nyonya.”


“Ayo duduk. Kita bisa membicarakan hal-hal lain setelah makan.”


“Bu, kenapa harus mengajaknya makan?” keluh Neo sangat tidak suka.


“Neo!”


“Ugh.” Dalam keluarga Maharani, perempuan menjadi sosok yang paling ditakuti. Setelah mendapat tatapan tajam dari ibu yang lembut, Neo pun hanya bisa menahan keluhan dan duduk diam dengan wajah berkerut. Sementara itu

__ADS_1


Elina lanjut makan tanpa menggubris Arka.


“Terima kasih.” Arka semakin tidak tahu malu dan dengan cepat berjalan ke sisi Elina dan duduk di sebelahnya. Karena memang hanya di sebelah Elina satu-satunya kursi yang tersisa.


Pelayan dengan cepat menyajikan bagian Arka dan Arka makan dalam diam. Meskipun suasana canggung, tapi mereka dengan cepat menghabiskan makan malam.


“Mari kita bahas di ruang tamu,” kata Ayah memimpin berdiri terlebih dahulu dan berjalan menuju ruang tamu.


“Aku akan membantumu.” Arka berniat membantu Elina berdiri. Dia melihat perut Elina yang sudah besar dan bulat. Ada perasaan aneh yang menyerang Arka. Seperti kasih sayang karena ikatan darah. Entahlah, dia tidak tahu alasannya yang terpenting adalah dia merasa yakin kalau anak yang dikandung Elina adalah darah dagingnya.


Arka sangat ingin mengelus perut Elina. Tapi dia tidak berani bertindak gegabah. Takut membuat gadis ini lebih marah dan lebih menjauh darinya.


“Tidak perlu.” Elina mengabaikan Arka.


Mereka semua duduk di ruang tamu dengan Elina yang duduk menempel pada ibunya dan ayah dan Neo duduk berdekatan sedangkan Arka duduk


sendiri menunggu untuk diadili.


“Jadi kedatangan Tuan Arka ke sini untuk apa?” Ayah bertanya dengan dingin.


“Paman, panggil aku Arka. Jangan panggil aku tuan.”


“Saya takut itu tidak bisa.”


“Jangan berani. Saya tidak bisa menyinggung Keluarga Giandra.”


“Paman …” Arka sedih. Sedangkan Neo sangat senang. Untungnya Ayahnya tidak bersikap terlalu baik kepada Arka ini dan hanya mempertahankan


kesopanan semata.


“Jadi Tuan muda datang ke sini untuk apa?”


Arka menyerah. Dia hanya bisa mengikuti keinginan Paman Teguh. “Saya ingin bertemu Elina. Maafkan saya karena baru mengunjungi


sekarang. Saya tidak tahu kalau Elina hamil.”


“Itu tidak masalah karena Anda bukan siapa-siapa bagi kami.”


“Tidak! Aku adalah ayah dari anak yang dikandung Elina!” Arka sangat bersemangat mendeklarasikan diri sebagai “Ayah”

__ADS_1


Teguh terkekeh pelan namun perkataanya masih terdengar dingin tanpa intonasi. “Benarkah? Anda tahu dari mana kalau Anda adalah ayah dari anak


itu? Saya sudah mempersiapkan pernikahan putri saya dengan ayah anak itu dan itu bukan Tuan Muda Arka.”


“Tidak! Paman itu benar-benar anaku. Lima bulan lalu kami …” Arka tidak tahu harus berbicara seperti apa. Dia tidak mungkin memberitahukan


keluarga Elina dan berkata putri Anda meresepkan obat pada saya dan seharusnya


saya meminta pertanggung jawaban dari putri Anda karena sudah menyinggung saya. Tidak! Tidak mungkin Arka berbicara seperti itu.


Arka menjilat bibirnya yang kering dan tenggorokannya yang terasa gatal. “… Intinya kami memang melakukan hal itu dan saya yakin itu adalah anak saya!”


“Bajjingan!” Kali ini kalimat ayah terdengar berfluktuasi dan terdengar marah.


Arka langsung bergerak dan berlutut. “Maafkan saya! Saya salah!”


“Jadi apa?” tanya Ayah.


“Saya akan bertanggung jawab! Saya akan menikahi Elina!”


“Hah!” Elina yang sedaritadi hanya diam memperhatikan Arka sekarang mencibir tidak percaya dengan perkataan pemeran utama pria ini. Apakah plotnya benar-benar runtuh? Kenapa Arka malah ingin menikahinya? Seharusnya hubungan pahlawan pria dan wanita sekarang sudah berkembang pesat dan kemarin Bulan juga


berkata kalau mereka akan mengumumkan pertunangan.


Dia berterima kasih karena Arka tidak memberitahu keluarga kalau Elina membius Arka. Tapi dia tidak bisa menahan cibiran dan hinaan dan ketidakpercayaan saat Arka berkata dia ingin menikahinya. Itu mustahil!


“Bukannya Kak Arka akan bertunangan dengan Nona Bulan?”


“Kenapa kamu tahu?” Arka terkejut dengan pertanyaan Elina. Hal pertunangan belum dberitahukan pada khalayak luas dan hanya keluarga yang tahu.


“Sialan! Kamu benar-benar bajiingan! Sudah mau bertunangan tapi masih berani berkata mau menikahi adiku? Langkahi dulu mayatku sialan!”


Neo sudah maju menarik kerah Arka lagi dan siap meninju tapi dihentikan oleh perkataan ibu.


“Neo tenang.” Ibu menatap Arka dan tersenyum tapi dalam senyumannya terlihat sangat mengerikan seperti menyembunyikan ribuan pisau yang kapan saja bisa memotong tubuh Arka berlapis-lapis. Arka merinding. “Jadi apakah benar Tuan muda akan bertunangan dengan siapa tadi? Dengan gadis lain?”


“Betul tapi itu juga tidak benar.” Arka pusing dan tidak bisa berbicara dengan jelas. Dia juga tidak mungkin menjelaskan semua rencana awal yang ia buat. Memang rencananya adalah berpura-pura bertunangan dengan Bulan. Arka tidak pernah menyangka rencananya akan terganggu karena kehamilan Elina yang tiba-tiba ia ketahui. Semuanya memang jadi berantakan. Tapi Arka tidak berani berkata demikian. Sudah dipastikan dia akan langsung ditendang keluar jika berbicara jujur seperti itu.


“Kakak kamu sudah mau bertunangan dengan wanita lain tapi masih mau menikahiku? Kamu pikir aku ini apa?” Elina jelas marah. Sebenarnya dia memang sedikit kesal saat Bulan datang padanya dan berkata mereka akan bertunangan.

__ADS_1


Dan sekarang dia bisa meluapkan kekesalannya.


“Elin … kamu cemburu! Kamu pasti cemburu, kan?”


__ADS_2