Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 37 – Bertemu Musuh


__ADS_3

Pukul 7 Elina sudah bersiap. Masih memilih sweater dressdengan warna sampanye yang terlihat kasual dan formal. Dia tidak begitu dekat


dengan Dimas, jadi dia tidak pusing-pusing untuk membeli hadiah. Dia datang hanya untuk menemani Clara.


Tak lama kemudian kepala pelayan mengetuk pintu kamar Elina.


“Nona, Nona Clara sudah menunggu.”


“Begitu, terima kasih.”


Elina turun dan langsung keluar dari villa. Di depan pintu villa sudah terparkir sebuah mobil mewah. Sepertinya Clara menyetir sendiri, jadi Elina memutuskan untuk duduk di co-pilot.


“Apakah kamu menyetir sendiri?”


“Ya! Ini mobil terbaruku,” jawab Clara antusias.


“Bagaimana nanti kalau kamu mabuk?”


“Ada kamu. Kamu yang menyetir.” Clara mulai menghidupkan mesin dan menyetir keluar dari villa.


“Aku tidak punya SIM dan tidak bisa menyetir. Untuk apa repot-repot menyetir sendiri jika ada sopir,” jawab Elina sambil mengikat sabuk


pengaman. Ya, dia tidak mau repot-repot menyetir dan membuat kedua tangannya lelah. Untuk apa keluarganya kaya jika dia masih harus bekerja sendiri. Nona kaya ini tidak suka hal-hal yang berbau melelahkan secara fisik termasuk olah


raga.


“Kalau begitu jika aku mabuk aku akan memanggil sopir. Kau tenang saja.”


“Apa keterampilan menyetirmu bagus? Aku tidak mau mengalami kecelakaan lalu lintas. Jadi tolong hati-hati saat membawa mobil.” Elina


menoleh dan menatap Clara dengan tatapan was-was.


“Haha. Sialan! Kamu meremehkan keahlianku.” Clara hanya tertawa dan tidak merasa tersinggung sedikitpun.


Sepanjang jalan Elina merasa sangat was-was. Dia akhirnya bisa bernapas lega saat sudah sampai di bar elit. Dia akhirnya melepaskan


ketegangannya. “Aku selamat.”


“Nona muda, silakan turun.”


“Cih!”


“Ayo masuk.” Clara menggandeng tangan Elina dan menyeretnya masuk.

__ADS_1


Elina mengerutkan alisnya saat pertama masuk dan langsung dihadapkan dengan music yang memekakan telinga. Ini adalah pertama kalinya


Elina memasuki bar. Di lantai dansa orang-orang sedang sibuk berjoget ria.


Clara terus menyeret Elina sampai di lantai tiga. Barulah suasana tenang menyambutnya. Elina merasa lega. Clara langsung masuk ke sebuah


kotak. Di sana sudah ada banyak orang yang Elina perkirakan adalah anak-anak generasi ketiga di lingkaran elit.


Setelah memasuki kotak, Clara melepaskan tangan Elina begitu saja dan langsung berlari ke arah Dimas berada. Dimas sedang duduk dan


dikerubungi beberapa orang.


Elina merasa tidak tertarik dengan hal ini. Dia ingin makan sesuatu karena perutnya tiba-tiba terasa lapar. Untungnya ada berbagai makanan


yang tersedia tidak hanya minuman beralkohol tetapi juga jus buah tersedia.


Ini seperti bukan bar, tapi seperti sebuah pesta ulang tahun yang digelar di hotel. Elina tidak terlalu banyak berpikir. Dia datang langsung


ke meja yang dipenuhi dengan makanan dan mengambil beberapa buah.


“Bukankah ini Elina?”


Elina yang mendengar namanya disebut langsung berbalik dan dihadapkan dengan dua orang yang tidak ingin dia temui. Orang-orang itu adalah


“Apa kalian membaca berita yang baru saja keluar kemarin? Kenapa Elina memposting dan mendeklarasikan diri sebagai tunangan Arka?” Suara ini adalah milik Verno salah satu sahabat Arka yang membenci Elina.


Elina sakit kepala. Kenapa dia bisa bertemu dengan tiga musuh sekaligus. Bukan musuh nyata, merekalah yang membenci Elina tanpa dasar. Meskipun Elina yang dulu bodoh dan terus menguntit Arka, tapi dia tidak pernah mengganggu orang-orang ini. Kenapa Elina begitu dibenci?


“Memangnya kenapa kalau aku mendeklarasikan diri sebagai tunangan Kak Arka. Toh, Kak Arka tidak keberatan. Kenapa kalian yang heboh


menantang hubungan kami. Terus kamu Verno, aku tidak mau repot-repot memanggilmu dengan sebutan Kakak. Meskipun kamu jauh lebih tua dariku tapi otak mu masih seperti bocah bayi yang baru lahir. Membenci seseorang tanpa sebab.” Elina jelas marah. Yang dia lakukan hanyalah mencintai Arka dan tidak pernah


melukai teman-temannya. Kenapa mereka begitu membenci Elina dalam novel?


Satu-satunya kejahatan yang dia lakukan adalah saat Bulan si pahlawan wanita muncul. Barulah Elina berlaku jahat. Jadi selama Bulan belum


muncul, dia tidak pernah melukai seseorang. Dia bahkan belum pernah menginjak semut kecil. Kenapa teman-teman Arka begitu membencinya?


“Kamu! Apa Arka tahu kalau kamu begitu kasar.” Verno ingin membantah, tapi tidak bisa karena itu memang fakta.


“Aku tidak akan kasar jika tidak dipancing terlebih dahulu.” Elina sudah kehilangan napsu makannya. Dia tidak lagi lapar setelah bertemu orang-orang ini.


Dia ingin secepatnya pulang. Pertama-tama dia harus mencari Clara. Saat dia berniat mencari Clara, dia berbalik dan sesuatu tumpah ke baju

__ADS_1


Elina. Itu adalah wine yang sengaja Lusi tumpahkan ke baju Elina.


“Ups! Maafkan aku Elina. Aku tidak tahu kalau kamu akan berbalik. Tolong maafkan aku sekali ini saja.” Tiba-tiba saja Lusi menangis keras.


Elina terpana. Apa ini? Kenapa malah Lusi yang menangis? Seharusnya Elina lah yang menangis karena bajunya kotor.


“Tolong maafkan Lusi satu kali ini saja. Lihat, dia bahkan sampai menangis. Bisakah kamu melepaskan Lusi?” tanya Sania dengan keras


membuat orang-orang memperhatikan ke arah mereka bertiga.


Halo?


Apakah Elina memegangi Lusi? Kenapa Sania memintanya untuk melepaskannya? Bukankah ini terlihat seperti Elina sedang menggertak mereka


berdua.


Elina : “…”


“Tolong maafkan aku, hiks, hiks, aku benar-benar tidak sengaja. Biarkan aku pergi, heum?” pinta Lusi bahkan sampai berlutut.


Elina terpana. Apakah mereka sengaja bertindak konyol demi membuat citra Elina jelek di mata orang lain. Elina bahkan sedari tadi tidak


mengeluarkan sepatah katapun! Kenapa mereka bertindak seolah-olah Elina lah yang telah berbuat jahat, padahal merekalah yang sengaja menumpahkan wine ke baju Elina.


“Elina! Kenapa kamu begitu kejam. Itu hanya sebuah tumpahan wine. Kenapa kamu memaksa mereka untuk berlutut? Kamu memang cucu kesayangan para tetua. Tapi kamu tidak boleh bertindak jahat seperti ini,” kata Verno langsung menuduh Elina tanpa pandang bulu.


“Apa matamu buta? Apa kupingmu tuli? Dari mananya aku menyuruh mereka untuk berlutut. Bukankah sedari tadi aku hanya diam. Dari


mananya aku membully mereka,” kata Elina dengan marah. Siapa yang tidak marah ketika dijahati malah dituduh sebagai penjahat.


“Jika bukan kamu yang meminta mereka berlutut, kenapa mereka sekarang menangis dan berlutut?” Verno tadi tidak ada di tempat. Dia kebetulan pergi sebentar dan saat berbalik, dia melihat pemandangan yang membuatnya


kesal. Yaitu Elina yang berdiri dan terlihat angkuh dengan noda wine di dressnya dan dua orang yang sedang berlutut dan menangis.


Orang bodohpun pasti tahu di sini apa yang terjadi. Dia tidak membutuhkan penjelasan dari sang pelaku. Gambar ini sudah bisa memutuskan


kalau Elina pasti menggertak mereka berdua.


“Bukankah kalian bertiga dulu berteman? Kenapa sekarang seperti ini. Elina lepaskan mereka. Dan biarkan mereka membayar uang untuk binatu.”


“Haha!” Elina tertawa sarkas. Dia merasa begitu frustasi. Kenapa ada orang-orang yang tidak masuk akal di dunia ini. Rasanya Elina ingin


menangis. Tapi sebelum sempat menangis, seseorang tiba-tiba datang dan menumpahkan segelas wine pada Lusi.

__ADS_1


Itu adalah Arka!


__ADS_2