
Mobil Arka sudah memasuki Villa Giandra. Dia memarkir mobilnya di tempat parkir villa. Repon dari para pelayan masih sama. Itu acuh dan mendiamkan Arka. Dia sudah terbiasa dan tidak terlalu mempedulikan.
Arka masuk dan langsung pergi ke halaman belakang. Saat ini kakeknya pasti sedang menikmati teh setelah makan siang di teras belakang villa.
“Kakek!”
Benar saja, kakeknya sedang duduk dan di meja ada teko dan cangkir yang kosong. Arka bisa menebak kalau kakeknya pasti baru saja duduk di
sana karena cangkirnya masih kering.
“Kenapa pulang? Apa kamu sudah makan siang?”
Arka berdiri di sisi kakeknya. Dia tidak berani duduk jika tidak diperintahkan.
“Aku belum makan siang. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
“Duduklah. Apa ini tentang Elina? Kapan kalian akan bertunangan? Itu sudah tersebar di dunia luar.”
Arka duduk dan menatap kakeknya. “Aku tidak akan bertunangan dengan Elina. Dan hal yang ingin aku bicarakan adalah hal yang lain. Aku sudah menemukan orang yang ingin kakek temui.”
Thomas sudah ingin marah saat mendengar cucunya bilang tidak ingin bertunangan dengan Elina, tapi tidak jadi saat dia mendengar kalimat
selanjutnya. Cucunya bilang kalau dia sudah menemukan orang yang dia cari. Thomas sedikit bersemangat saat mendengar laporan cucunya.
“Apa itu benar? Kapan aku bisa bertemu dengannya?”
“Secepatnya, Kek. Aku harus mendiskusikan beberapa hal dulu sebelum membawa orang itu dan bertemu Kakek.”
“Di mana dia? Bagaimana hidupnya?”
Arka terdiam sebentar memikirkan Bulan. Kalau dari penilainnya seharusnya hidup Bulan tidak terlalu sulit karena dia bisa bekerja di Perusahaan
Giandra dan menjadi sekretarisnya.
“Dia baik-baik saja. Dia bekerja menjadi sekretarisku sekarang.”
Tapi yang tidak Arka ketahui adalah sebenarnya hidup Bulan jauh dari kata baik-baik saja. Bulan hidup dalam kemiskinan dan untuk bisa berkuliah saja dia harus mendapatkan beasiswa dan bekerja sambilan untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya.
__ADS_1
“Benarkah?” Thomas menghela napas lega. Setidaknya dia sudah menemukan cucu dari penyelamatnya dan dia akan membalas budi pada cucunya. “Apa kakeknya masih hidup?”
“Tidak. Kakeknya sudah lama meninggal.”
“Kalau begitu kamu bisa lebih merawatnya di perusahaan. Bawa dia menemuiku secepatnya.”
“Begitu. Kakek, aku tidak bisa tinggal di perusahaan terlalu lama. Aku akan kembali dulu ke perusahaan.”
“Yah. Kerja bagus. Akan kupastikan kursi Presdir akan jatuh ke tanganmu.”
Arka hanya mengangguk dan dengan cepat berdiri lalu melangkah pergi.
Saat Arka sudah pergi, seseorang yang sedari tadi berdiri di balik tembok itu keluar dengan wajah suram. Dia mengepalkan tinjunya dengan sangat erat. Sorot matanya tajam dan penuh kebencian. Dia benci dengan Arka. Kenapa anak haram itu mendahuluinya! Sial!
Aris berbalik dan pergi dengan marah. Dia awalnya ingin menemui kakeknya. Tapi setelah melihat Arka sedang mengobrol dengan kakeknya dan saat dia mendengarkan percakapannya, dia tidak menyangka kalau Arka akan dengan cepat berhasil menemukan orang yang kakeknya cari. Dia saja masih belum
bisa menemukan Bulan setelah mengerahkan segala cara. Dia penasaran dengan cara apa Arka bisa menemukan Bulan secepat ini. Padahal dia sudah menaruh mata-mata untuk memantau seluruh pergerakan Arka. Tapi kenapa dia masih kecolongan dan tertinggal. Ini benar-benar membuatnya kesal setengah mati.
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tanpa disadari itu sudah sore dan Arka yang memang tidak kembali ke perusahaan itu sudah menunggu Bulan di sebuah restoran. Dia akan mengobrol untuk pertama kalinya dan mendiskusikan
banyak hal. Karena Bulan adalah orang yang berharga bagi kakeknya maka dia tidak bisa memperlakukan Bulan dengan dingin. Maka dari itu dia berinisiatif untuk mengajaknya berdiskusi sambil makan di restoran mewah.
nantinya.
Tadi dia sudah memberi tahu Adam untuk mengantar Bulan ke restoran ini.
Arka menunggu sekitar 20 menit sebelum dia bisa melihat sosok Bulan yang berjalan dengan senyum di wajahnya.
Dalam 20 menit itu Arka tidak menganggur. Dia juga membawa tabletnya untuk bekerja. “Duduk.” Arka mempersilakan Bulan untuk duduk.
Bulan kira dia akan mendapatkan perlakuan istimewa dari Arka seperti Arka yang menarikkan kursi untuknya duduk. Tapi itu semua tidak
terjadi. Dan sikap Arka masih sama. Dingin dan acuh. Tapi sikap Arka tidak membuat kebahagiaan Cantika, tidak, kita sebut saja Bulan mulai sekarang itu menghilang. Justru itu membangkitkan semangt Bulan untuk meluluhkan hati Arka.
“Jadi benar kamu adalah cucu dari penyelamat kakekku. Kakekku ingin bertemu denganmu. Jadi aku harap kamu bisa bekerja sama dan berada di kubuku. Mungkin kamu tidak tahu dan tolong jangan kaget saat mendengarnya. Sebenarnya untuk menemukanmu itu adalah salah satu syarat dari kakekku untuk bisa mendapatkan kursi Presdir. Nantinya pasti akan ada banyak orang dari Keluarga Giandra yang akan mencoba
untuk mendekatimu. Aku tekankan sekali lagi, aku berharap kamu mau bekerja sama dan berada di kubuku. Apakah ada persyaratan yang ingin kamu berikan? Apapun itu. Aku bisa memberimu uang.”
__ADS_1
Bulan tersenyum manis. Dia menatap mata Arka dan berkata, “Aku tidak membutuhkan apapun. Tapi aku memiliki peryaratan. Aku ingin menjadi tunanganmu. Tunangan kontrak,” kata Bulan dengan berani.
***
Elina ambruk di kasurnya. Setelah dia menyelesaikan mencangkul, tiba-tiba saja tubuhnya terasa sangat lelah dan dia bahkan pingsan setelah menutup siaran langsung.
Sedari tadi dia hanya tiduran dan beristirahat. Dia bahkan belum makan siang karena dia lagi-lagi merasa mual saat mencium bau makanan. Apakah ini efek karena dia kelelahan dan terkena sinar matahari langsung? Kenapa dia begitu lemah.
Sekarang Elina bahkan merasa sangat pusing. Dia mengalami vertigo dan pandangannya berputar. Dia juga merasa lemas.
Elina mencoba meraih intercom yang berada di sisi kasur. Dia memencet itu dan berkata dengan nada lemah, “Panggil dokter keluarga. Tidak,
panggil ambulan. Aku harus dibawa ke rumah sakit sekarang. Aku benar-benar tidak kuat lagi.”
Permintaan Elina itu membuat kepala pelayan kaget dan sangat khawatir. Setelah Paman Sam mendengar suara terputus, dia langsung naik ke
lantai dua dengan panik. Sepertinya nona mudanya sakit dan sedang dalam keadaan
darurat.
“Nona! Bolehkah saya masuk?”
“Masuk!” Elina berteriak dengan sisa tenaganya.
Paman Sam masuk dengan cepat dan langsung mendekati nona mudanya yang sedang memejamkan mata.
“Apa Nona baik-baik saja? Haruskah saya memanggil ambulan atau kita langsung saja pergi ke rumah sakit? Kalau pergi ke rumah sakit
menunggu ambulan datang itu akan terlalu lama.”
“Hiks, hiks, aku tidak baik-baik saja. Aku pusing dan aku merasa mual. Dan badanku lemas. Apa ini karena aku bekerja terlalu lelah? Paman harus
segera membawaku ke IGD sekarang juga. Yah, kita tidak perlu menunggu ambulan. Bawa aku menggunakan mobil rumah. Tapi aku tidak bisa membuka mataku. Kalau aku membuka mataku, semuanya terlihat berputar! Hiks, hiks.” Elina menangis. Dia mengeluh pada kepala pelayannya. Paman Sam sudah terbiasa sejak kecil dengan tingkah manja Elina.
“Tunggu, Nona. Saya akan memanggil pelayan lain untuk membawa Nona turun.”
“Jangan beri tahu orang tuaku dan kakaku. Rahasiakan ini.”
__ADS_1
“Begitu.”
Kebetulan sekali ibu Elina tidak berada di rumah. Dia sedang ada acara berkumpul dengan para ibu-ibu sosialita.